Kami sudah kembaliiiiii.....

Alhamdulillah... Setelah bertemu dengan banyak hal yang diluar skenario, kami bersyukur kami dapat kembali dalam keadaan utuh.
Sebelum lanjut ke laporan perjalanan kami (yang akan ku sampaikan dalam beberapa tahap...menimbang biar ga kepanjangan dan sambil menunggu foto2 dari sang fotografer), tolong yang namanya Jo dimohon untuk berdiri. Agenda pertama ini adalah sidang terhadap saudara Jo yang telah memberikan informasi tidak akurat kepada Tim Gadis Nekad.
Saudara Jo siap untuk disidang? Mari kita mulai.
Jadi waktu itu awalnya adalah undangan pernikahan dari Meilia dan Adi yang bertempat di Batu kepada salah satu anggota Tim Gadis Nekad, Nurul. Anggota lain langsung bersemangat untuk ikut dan membayangkan jalan-jalaaaaannn! Maka dimulailah pencarian ide jalan2 di Batu-Malang. Kemudian muncullah Saudara Jo dengan ide ‘Bromo’-nya. Masih ingat, Saudara Jo? Maka kami jajakilah semua kemungkinan tempat jalan2 yang bisa didatangi di antara agenda kondangan.
Sebulan lebih konsultasi dilakukan antara perwakilan Tim Gadis Nekad dengan Jo. Hingga akhirnya didapatkanlah draft akhir rencana perjalanan berserta budgetingnya. Pada rencana itu dinyatakan bahwa kami akan menjadi gadis mandiri di sana. Kami akan menggunakan angkutan umum untuk mencapai lokasi-lokasi wisata. Jo memberikan gambaran angkutannya dan tarifnya. Termasuk untuk ke Bromo, bahwa dari Batu kami akan naik bis ke Probolinggo kemudian naik colt ke Cemoro Lawang. Perhitungan waktu dan biaya disusun senyata mungkin. Pokoknya dengan melihat rencana perjalanan yang disusun, kami mantap untuk berangkat.
Rencana awal, kami akan berangkat dari Jakarta pada hari Jumat sepulang kerja. Tapi karena harga tiket kereta antara hari Kamis dan Jumat berbeda 40ribu, maka kami memutuskan untuk berangkat pada hari Kamis. Hohoho...
Dengan adanya pemajuan keberangkatan, maka itu artinya kami membutuhkan agenda acara tambahan untuk satu hari. Saudara Jo berkata, “Ke Pulau Sempu aja”. Tim gadis nekad langsung tanya paman Google tentang Sempu Island. Dan didapatkanlah gambar ini.

Hwuaaaa...Siapa yang tidak ngiler coba?! Laguna seperti di The Beach! Imajinasi untuk ketemu dengan Leonardo lokal memperbesar keinginan kami untuk ke sana. Trus kita langsung memikirkan properti untuk sesi foto2 di sana jugaaaa... Hohoho...
Jo mengatakan bahwa untuk ke sana maka kami harus menuju suatu tempat bernama Sendang Biru, kemudian dari situ dengan naik perahu menyeberang ke Pulau Sempu. Ketika agenda Sempu belum final, si Jo jatuh sakit. Maka konsultasi dilanjutkan dengan Wida. Informasi yang diberikan tidak jauh berbeda, hanya Wida menambahkan bahwa jalan ke Sempu itu jauh dan sepertinya tidak ada angkutan umum ke sana. Maka tercetuslah ide untuk menyewa mobil.
Estimasi perjalanan dari Malang ke Sendang Biru adalah 3 jam. Jadwal kedatangan kereta dari Gambir di Malang adalah jam 08.44. Jadwal kususun sebagai berikut:
- Sampai di Malang langsung mandi dan sarapan
- jam 10 sudah berangkat ke Sendang Biru
- Jam 1 siap menyeberang
- Jam 2 tiba di pulau Sempu impian
- Leha2, makan seafood, sesi foto2, ukir2 nama di pasir, kejar2an di antara ombak, sambil nunggu sunset
- Menikmati sunset, foto siluet
- Jam 7 jalan balik ke Batu
- Jam 10 sudah berada di kasur untuk meluruskan punggung
Rencana yang sempurna bukan?
Namun sayang sungguh sayang... Rencana yang sempurna itu harus mengalami ‘kekacauan’, kekacauan pertama karena kereta kami telat. Kami baru sampai di Malang jam 10 lewat. Baru bisa mulai jalan ke Sendang Biru jam 1. ‘Kekacauan’ lainnya dikarenakan ada fakta yang disembunyikan oleh Jo.
Fakta 1
Bahwa Sempu adalah pulau konservasi alias cagar alam.
Artinya bukan objek wisata. Artinya tidak boleh asal didatangi.
Fakta 2
Sebagai konsekuensi dari Fakta 1, maka untuk bisa mendatangi Pulau Sempu, harus mengantongi izin dari Departemen Kehutanan! Itu pun harus di Surabaya! Dan harus atas nama organisasi, ga bisa pribadi. Konsekuensi lainnya adalah: masih banyak binatang liar di sana, termasuk macan!
Fakta 3
Menyeberang ke Pulau Sempu ada batas jamnya. Paling sore jam 2. Lebih dari itu, boleh nyebrang tapi ga boleh balik lagi, alias kita harus nginep, paginya baru dijemput.
Fakta 4
Ketika kita menyeberang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu, kita tidak langsung sampai di tempat yang kita mau, melainkan di suatu tempat yang namanya Teluk Semut. Dan itu adalah ‘nothing’, kecuali tempat perahu menurunkan penumpang.
Fakta 5
Dari Teluk Semut ke laguna, yang namanya Segara Anakan, kita harus berjalan kaki selama satu jam. Yak benar JALAN KAKI SELAMA SATU JAM NONSTOP. Medannya pun bukan jalan beraspal, bukan pula jalan setapak seperti di tengah persawahan, melainkan JALANAN LIAR DI TENGAH HUTAN. Akar pohonan malang melintang, tak sedikit pohon yang tumbang, tanah berlumpur, dan tentu saja tidak ada petunjuk, apalagi lampu.
Fakta 6
Selain laguna itu masih ada tempat2 lain yang cuantik. Ada yang namanya Segara Lele, Pasir Panjang (pantai yg jumlahnya 8!)
Fakta 7
Ketika sore, jalanan di fakta 5 adalah GELAP GULITA.
Dengan fakta2 di atas, maka persyaratan minimal menyeberang ke Sempu adalah:
1. Ijin dari DepHut. Untuk mendapatkannya kita harus memenuhi syarat di nomor berikut.
2. Sepatu. Jalannya adalah tanah tidak beraturan. Resiko becek dan lumpur tinggi. Jadi sandal jepit is not recommended, makruh deh hukumnya.
3. Senter. Karena di sana itu gelap gulita kalo udah mulai sore.
4. Perlengkapan bertahan hidup di alam liar, misalnya minuman (wajib ni, karena di sana ga ada yg jualan!), makanan, korek api, tikar, tenda, jaket.
5. Pemandu yang mengerti Sempu
Dan kami baru tau tentang itu semua pas udah di sanaaaaa....pas udah mulai jalaaaaannnn... Tau kalo gelap buanget juga pas jalan baliiiikkkk....
Jadi, saudara Jonaz... Kami menuntut Anda dengan pasal penyembunyian fakta2 yang dapat membahayakan gadis2 imut dan berakibat fatal!
Apa pembelaan Anda? Siap menghadapi kami berlima?

*untung tuh laguna keren abiesss... kl ga, beneran kami perkarakan kamu, Jo...*