Thursday, November 14, 2013

Rest Area itu Bernama Toilet Blues

Toilet Blues, film, Dirmawan Hatta, 2013
Setiap kita pasti pernah melakukan perjalanan, baik yang direncanakan ataupun spontan. Menggunakan  itinerary yang lengkap hingga detail biaya dan rutenya atau asal berjalan begitu saja. Satu hal yang pasti adalah bahwa setiap perjalanan memiliki tujuan.
Anjani dan Anggalih adalah dua orang anak muda yang melakukan perjalanan dari asrama tempat mereka belajar menuju (sepertinya) Jakarta, tempat tinggal mereka. Mereka melakukan perjalanan tersebut karena Anjani dikeluarkan dari asrama karena dianggap liar dan Anggalih yang merupakan teman Anjani dari kecil, menemaninya. Dalam perjalanan tersebutlah kita menyaksikan bagaimana dua manusia memikirkan kembali tujuan hidup mereka.
Karena pada hakikatnya pun hidup kita ini adalah sebuah perjalanan: dari kita lahir hingga meninggalkan hidup kelak. Lain dengan perjalanan  fisik menuju suatu tempat, maka perjalanan hidup tidak memberikan kita kesempatan untuk menyusun rencana sama sekali. Kita terlahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian kita tumbuh dan pada suatu titik kita dituntut untuk memiliki tujuan hidup. Mau jadi apa hidup kita ini. Ada kalanya kita dibiarkan menentukan tujuan hidup kita sendiri dengan dibekali doa dan tuntutan. Namun, tidak jarang juga ada pihak lain yang menempatkan kita di hidup yang telah ditentukan tujuannya.
Ada yang mengibaratkan perjalan hidup seperti mengarungi sungai, kita mengikuti arusnya dan suatu hari nanti akan mencapai tujuan, yaitu muara. Ada orang yang sekedar menjalani hidup seperti kayu yang terapung, menyerahkan perjalanan hidupnya kepada arus sungai yang membawanya. Namun, adapula yang berusaha menentukan arah perjalanan hidupnya dengan berenang atau bahkan membuat sampan. Pada akhirnya memang semua akan sampai ke muara masa depan, namun tentu saja perjalanan yang ditempuh dengan bermacam-macam akan memberikan hasil yang tidak sama. Muara yang dicapai antara mereka yang memilih seperti kayu yang hanyut dengan mereka yang berenang tentu saja berbeda.
Toilet Blues mengajak kita untuk sejenak memikirkan kembali perjalanan hidup kita melalui kedua tokohnya, Anjani dan Anggalih. Dua anak muda yang menjalani hidup atas petunjuk dan kemauan orang tua mereka. Setelah beberapa saat menjalani pendidikan di seminari, Anggalih meyakini bahwa tujuan hidupnya adalah menjadi frater untuk kemudian mengajak umatnya masuk surga bersamanya. Hingga kemudian dia melakukan perjalanan bersama Anjani tersebut. Namun, justru dengan menghentak Toilet Blues mengawali kisahnya dengan adegan kematian orang yang ditabrak kereta. Kematian yang merupakan sebuah akhir, dijadikan pembuka sebuah film tentang kehidupan. Sungguh suatu pembuka yang manis dalam berironi.
Dengan halus Toilet Blues memberikan gambaran keresahan dua manusia yang mulai ragu akan tujuan hidupnya. Anggalih mulai mempertanyakan kembali niatnya menjadi frater apakah benar keinginannya atau sekedar menjadi alat penutup malu sang Ayah atas ‘dosa’nya di masa lalu. Anjani yang tidak memiliki keleluasaan dalam hidupnya yang serba ditentukan oleh seorang Papa yang maha kuasa pun mengalami hal yang sama.
Perkawinan perjalanan fisik dan psikis dua manusia tersebut mengemuka di Toilet Blues dengan sederhana dan luwes. Setiap adegan menggambarkan kedua perjalanan tersebut dengan begitu efektifnya. Misalnya ketika tiba-tiba muncul penjual sepatu menemui Anggalih yang sedang bimbang di tengah malam. Bukan suatu hal yang aneh dan mengada-ada jika ada tukang penjual sepatu keliling masuk ke ruang tamu penginapan bukan? Namun, lebih dari itu, penjual sepatu juga berkontribusi pada perjalanan psikis Anggalih. “Sepatu ini akan melindungi mas di segala cuaca, baik kemarau ataupun penghujan. Mas tidak akan terpeleset ke dalam lumpur. Apalagi kalau mas sedang berjalan terburu-buru.”. Kita menangkap bahwa Anggalih sedang ditawari sepatu untuk alas kakinya, dan juga ‘sepatu’ untuk jiwanya. Kita dapat melihat adegan tersebut sebagai tunggal seorang penjual sepatu menawarkan dagangannya atau dapat pula kita melihatnya dengan lebih dalam. Keduanya sama-sama dahsyat.
Tak ada hal yang begitu saja di Toilet Blues. Kereta yang menjadi penyebab kematian seseorang di awal film dan menjadi salah satu alat transportasi Anggalih-Anjani, bukanlah menjadi hanya kereta. Seiring berjalannya film, kereta tersebut menjadi salah satu pembawa pesan, jika ada yang menanyakan apa pesan film ini. “Kepala kereta itu enak, tinggal mengikuti rel. Lain dengan kepala manusia. Bisa nengok kanan, nengok kiri, bisa belok kemana saja”.
Atau ketika mereka menumpang sebuah truk dan menyadari bahwa mereka berada di daerah yang tidak mereka kenal. Secara fisik mereka tersesat dari tujuannya, namun Anjani menanggapi hal tersebut dengan “Tokh kita tidak tau juga kita akan kemana”. Sungguhlah tidak ada kata tersesat bagi mereka yang tidak memiliki tujuan bukan?
Film yang senyap tanpa musik, obrolan yang minim di antara tokoh-tokohnya, lanskap yang  lengang, suara angin dan ombak yang dominan, semua itu benar-benar seperti mengajak kita untuk mengerti kebimbangan Anggalih dan Anjani. Tanpa musik mendayu dan narasi sendu (seperti yang biasa kita temui pada film-film Terrence Mallick), Toilet Blues mampu menarik emosi kita dan melarutkannya ke dalam kisahnya (lebih dari yang Mallick lakukan).  Dan di saat yang bersamaan juga memberi kita kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup kita masing-masing.  
Dialog-dialog yang agak random sedikit menjadikan Toilet Blues ‘absurd’. Anjani dan Anggalih berbicara dengan bahasa casual sehari-hari, namun kemudian ada tokoh perempuan yang begitu puitis dengan menyebut dirinya sebagai Perempuan yang Dirajam  dan teman-temannya memanggilnya dengan kata Pelacur Abadi. Anjani pun menjadi berbicara dengan bahasa baku ala teater ketika berhadapan dengan lelaki bukan-pretty-boy utusan ayahnya. Ada pula tokoh kepala stasiun yang selalu berbicara dalam bahasa Jawa. Namun hal tersebut menjadi luruh dan tak perlu dipermasalahkan ketika di akhir film Anjani bertanya kepada Anggalih “Jadi, kita mau kemana, Lih?”. Membuat kita, yang telah begitu sabar mengikuti perjalanan mereka yang disusun begitu sabarnya oleh si pembuat film, ingin berteriak “jadi sepanjang film kalian ngapain aja kok di akhir tidak menemukan jawaban mau kemana hidup kalian”. Tapi di saat kita berteriak demikian, Toilet Blues pun serasa meneriaki kita “kemana saja kamu sepanjang usia ini hingga tidak tau tujuan hidup kamu”.

Ibarat kita sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Bandung melalui jalan darat, tersedia rest area untuk kita beristirahat, melepas penat, membeli bekal, mengisi kembali bahan bakar dan melihat ulang rencana yang telah kita susun untuk dilakukan selama nanti di Bandung. Maka, Toilet Blues dapatlah menjadi sebuah rest area untuk kita memikirkan kembali hidup kita apakah sudah berada di rel yang tepat untuk diikuti atau masih perlu direvisi atau justru tersesat entah dimana.
...namung ati nggih punika ril-ing manungsa..
Dan hatilah rel hidup manusia


*ditulis oleh saya yang kebetulan memasuki usia baru ketika film ini ditayangkan. Serasa mendapatkan hadiah ulang tahun yang begitu tepat

Thursday, November 7, 2013

It’s Not Always A u-get-what-u-give And Vice Versa


 

Kadang yah pengen memperlakukan orang seperti halnya mereka memperlakukan kita. Simply to show them ‘u get what u give’ rules.

 

Ada jenis orang yang nyaris SELALU berkomunikasi dengan kata ‘ok’. And it’s kinda annoying..sometimes....

TaTa: tar kita jadi nonton bareng kaann? Kabari yah kepastiannya. Aku bli tiket jam 5.

Dia: ok

TaTa: kalo ga jadi atau ada tambahan tiket, kabar-kabar

Dia: ok

Beberapa waktu kemudian

TaTa: aku udah mau bli tiket nich..

Dia: ok

TaTa: -________-  kok ok.. KAMU MAU DIBELIIN TIKET BERAPA BANYAK??

Dia: oh ok. Aku aja.

Atau

Dia: udah baca novel Ini blum?

TaTa: suuuddd…

Dia: ok

TaTa: ………………………………….

Atau

Dia: hari ini kemana?

TaTa: di kamar aja,beberes

Dia: ok

TaTa: ………………………………….

 

Trus ada juga jenis orang yang tiap membalas pesan membuat kita pengen teriak: BASIIIII! MADINGNYA UDAH TERBIT! UDAH GANTI EDISI UDAH GANTI REDAKSI!

Tau kan orang yang butuh waktu seribu tahun untuk balas pesan.. Kadang sih emang ga perlu direspon secepat itu, tapi kan kadang ada yg urgent.
 

Nah, sering aku bertekad untuk membalas mereka dengan melakukan yg mereka lakukan.

Tapi buat apa?

Karena jelas-jelas itu akan mengubah kita. Hanya untuk menunjukkan ke mereka tentang sesuatu hal yang belum tentu mereka akan pahami juga. Ya kan?
 

It’s their style. And I have mine.

And they’re my friends.  And I love them. Kalo ga gitu bukan mereka lagi.

*kemudian nyanyi don’t u ever wish u were someone else u were meant to be the way u are exactly… cause there’s nothing about u I would change..
 
 
ditulis dalam rangka penghiburan kepada diri sendiri... :)))))

Monday, September 9, 2013

Sepatu Baru


Tak ada yang salah dengan sepatu yang kupakai untuk berjalan selama ini [sejauh ini]. Namun sepatu itu slalu menuju ke arah itu [arahmu].  Langkahku menuruti si sepatu [tanpa ada keinginan mempertanyakan pun menolak]

Sudah cukup aku mengikutimu. Langkah kakiku tak akan pernah menyamaimu. Dan aku akan selalu berada di belakangmu.

Sebab di sampingmu adalah kemustahilan, maka aku menuju kemungkinan

 

Dengan sepatu baru aku meninggalkanmu

Monday, January 21, 2013

Wednesday, January 2, 2013

Saling Menyakiti yang Tak Perlu

Nama saya TaTa, telah keluar dari rumah semenjak lulus SMU untuk kuliah dan kemudian bekerja.  Dari sekian lama itu rupanya saya sudah terlalu tergesek dengan gempita ibukota, otak saya sudah terlalu Jakarta.
Liburan Natal kemarin saya pulang ke rumah di sebuah desa di Jawa Tengah sana. Kota terdekat adalah Salatiga. Pada suatu hari, teman SMU saya yang sekarang berdomisili di Bali mengajak berjumpa dan saya iyakan. Ketika berpamitan kepada ibu dan mengatakan dimana saya akan berjumpa dengan teman, beliau berkata “oh.. di situ mahhaaall! Dan ga enak pula”. Dan saya hanya manggut-manggut.
Sesampainya di sana, saya menemukan tempat yang sangat sangat sangat manis. Rumah tua yang dijadikan kafe. Furniture nya vintage nan bersahaja. Saya jatuh cinta dengan suasananya dan memaklumi jika harga makanannya mahal seperti kata ibu saya.  Namun, ketika membaca menunya, saya langsung berkata “oh my.. Ibu lebay!”. Seporsi gado-gado, harganya 10ribu (mengingat di Jakarta seporsi gado-gado ada yang harganya 35ribu), secangkir kopi di bawah sepuluh ribu.  Dudududu… Di sebelah mana mahalnyaaaaa
Kemudian saat teman saya datang dan saya ceritakan ibu saya memberi warning bahwa tempat ini mahal dan ga enak, ternyata dia mengalami hal yang sama. “Buat Ibu-ibu, semua tempat itu mahal dan ga enak! Hanya masakannya sendiri yang enak! Mereka ga tau aja harga segini di Jakarta murah meriah!
Sedikit diskusi selanjutnya menyimpulkan bahwa gaya hidup kami ini sudahlah sangat Jakarta dan itu niscaya menyakiti perasaan ibu kita. “Kalau mereka tau segelas kopi di starbak itu 36ribu, bisa stroke tuh kayaknya”.
Kebalikannya, saya pun tersakiti dengan gaya hidup keluarga saya. Mereka membuang sampah di selokan depan rumah (yang mana sebenarnya itu sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan semua baik-baik saja), mereka membiarkan charger handphone tercolok sepanjang masa (ketika selesai menge-charge yang dicabut hanyalah si handphone), mereka tidak pernah mematikan lampu teras. Apalagi ketika ibu saya ke pasar, saya ingin pingsan rasanya. Untuk membeli beberapa buah tahu, ada 2 kantong plastik yang terpakai, 1 untuk tempat tahu kemudian 1 lagi untuk tempat tahu yang sudah dibungkus plastik tadi. Kemudian pindah untuk beli gula, dapat plastik lagi. Demikian seterusnya. Jangankan untuk membawa kantong dari rumah, untuk menolak pemberian kantong plastik dari pedagang, ibu saya tak terpikiran.
Saya, yang sok cinta bumi ini sangat stress melihat gaya hidup keluarga saya itu. Namun demikian tak berani untuk menularkan semangat go green ala-ala ke keluarga saya, karena memang rasanya tak perlu.  Seperti halnya mereka tak perlu tau gaya hidup saya yang mungkin akan menyakiti mereka.
Lebih baik mencegah (sakit hati) daripada mengobati bukan?

Friday, December 7, 2012

Menjadi Baik

"Kamu tidak bisa berharap orang lain menjadi baik, kamu harus membuat orang lain itu menjadi baik" _ Jelapah

artinya kita tidak bisa berdiam diri dan berharap dan kemudian kecewa lalu sakit hati
kita harus berbuat sesuatu tentang apa yang kita mau

misalnya kita punya teman yang tiap janjian slalu datangnya telat dan itu menggangu kita. maka berharap dia tidak akan terlambat lagi itu tak bisa. kita harus berbuat sesuatu untuk membuat dia tidak terlambat, misalnya dengan mengingatkannya atau membangunkannya atau menjemputnya jika perlu.

contoh lain jika ada teman yang hobinya meminjam baju dan tidak dikembalikan. maka, kita tidak bisa hanya berharap semoga dia ingat atau kelak tidak seperti itu lagi. kita harus membuat dia selalu mengembalikan apa yang dia pinjam.

ya seperti itulah..
dan jika perbuatan kita tidak diterima dengan baik, bernyanyilah..

....whatever i did whatever i said i didn't mean it, i just want u back for good...

:)

Wednesday, November 21, 2012

UTANG PIUTANG

..kadang-kadang tak ada logika....

kl si pemberi utang kesel liat bahwa si penerima utang sulit mengembalikan utangnya namun slalu berhura-hura, rasanya itu masuk akal
bagaimana dengan si penerima utang kesel ke si pemberi utang karena dia bisa berhura-hura? "Lo slalu nagih utang lo ke gue, tapi kok lo bisa nonton konser ini, liburan ke situ...."

...di luar akal...

jika A = B, maka B = A
jika janji adalah hutang, maka hutang adalah janji
kl janji membayar hutang, itu apa?
janji membayar janji? *jadi cukup dengan janji-janji









suatu hari bapakku pernah berkata, kl bisa janganlah terlibat hutang-piutang. karena ketika tiba saatnya untuk menagih... (entah gimana) kamu seperti tidak dihargai..ora kajen..

dududududu...

Thursday, November 15, 2012

Bahagia: a birthday wish

dari sekian banyak ucapan ulang tahun yang sudah kuterima selama aku hidup ini, ada satu yang (akhirnya) membuatku mataku langsung memanas dan dadaku menghangat

...aku mau kamu bahagia selalu. mau sukses atau enggak, mau cepet dapat jodoh atau enggak, yang penting kamu bahagia...

doa dari sahabat memang tak pernah gagal..

i luv You, E..





banyak ucapan disertai doa yang kadang justru membuat gusar. Misalnya "semoga tambah pintar", meski mulut berkata 'amin', dalam hati bisa saja mengucap "maksudnya sekarang aku tidak cukup pintar?" :)

Tuesday, September 11, 2012

Suara Kecil dari Bali

Nama: TaTa; Sifat: Manja

Sepertinya itulah sifat yang sedang akan kutonjolkan kali ini: manja ^^

Beberapa bulan lalu, aku bersama dua orang kawan berwisata ke Pangandaran dengan tujuan utama adalah Green Canyon. Walau aku tak begitu suka air, tapi karena ada kawan maka kemana saja ayuk sajalah. Kami naik bis dari terminal Kampung Rambutan menuju terminal Pangandaran. Dan karena kami adalah generasi manja (lebih tepatnya aku), maka untuk menuju Green Canyon kami mencarter angkot (orang lain akan naik angkot kemudian lanjut ojek). Jalanan dari terminal Pangandaran menuju Green Canyon itu kondisinya cukup parah: tidak rata permukaannya tapi lubang merata dan nyaris menjadi kubangan air. Tentu saja jalannya angkot menjadi ajrut2an, sesekali kepala kami kepentok atap angkot. Kemudian si Bapak supir berkata “ya beginilah Mbak kondisi jalannya. Padahal daerah wisata.. duitnya dikemanain coba?”. Dhuar!

Nah, minggu kemarin aku melewatkan akhir pekan di Bali. Sebagai Miss Duduk-duduk yang gampang masuk angin, maka agenda utama di Bali adalah duduk-duduk bukan di pantai. Dan sebagai generasi manja, maka kemana-mana naik taksi. Ketika di Uluwatu, orang di sebelahku ternyata adalah rombongan dari Brazil. Ketika kutanya berapa lama tinggal di Bali, dia menjawab: 30 hari. “Karena ke sininya aja 3 hari, jadi di sini harus lama”. Masuk akal..masuk akal…
Dalam perjalanan pulang menuju hotel (yang lokasinya dekat bandara), aku mencoba mereka-reka budget liburan orang2 Brazil tadi. Dan aku mulai pening mikirin biaya hotelnya. Kemudian aku bertanya ke bapak taksi, ngobrol lebih tepatnya, karena jarak tempuh yang lumayan panjang.

TaTa: Pak, di sini ada kos2an kan yah? paling nggak di deket2 kampus Udayana tadi..
Taksi: oh banyak, mbak.. Ada yang 800rb, ada sejuta per bulan
TaTa: Nah…kl saya jd bule2 yg luama di Bali, saya mau ngekos ajah ah
Taksi: lho memang banyak bule yang begitu, mbak.. mereka ngekos atau kontrak rumah. Ada yang ngontrak rumah selama setahun, nanti kalau ada teman mereka yang berlibur ke sini mereka sewakan rumah itu. Jadi bisnis juga untuk mereka
TaTa: hah?? Kok mereka gituuuu.. Astaga..ngirit jaya yah.. Di sini ngekos, trus kemana-mana naik motor sewaan.. ck ck ck ck..
Taksi: bahkan ada bule2 yang kerja juga. Mereka liburan di sini lama, kemudian promosi ke negaranya sana bahwa kalau ke Bali akan ditemani. Ya tentu saja mereka lebih laku daripada kita
TaTa: hah?? Oh my God.. itu kreatif atau apa yah namanya
Taksi: ya pemerintah kita juga lemah..tidak melindungi..membiarkan saja. Jadi, kita ini saingan juga sama turis, bukan hanya melayani turis
TaTa: lagian orang Bali itu baik-baik sih ya, Pak.. paling nggak itu yang saya rasakan. Ga kayak di Jogja yang udah creepy suasananya..dimana-mana ada tulisan “awas copet”. Nah, di sini rasanya damai. Karena orang2nya relijius kali yah, Pak.. Hari ini aja semua tutup.. (hari itu bertepatan dengan hari raya Kuningan)
Taksi: soal aman sih lumayan bagus. Perampokan juga agak jarang. Soalnya kalau sampai Bali ga aman, bisa bangkrut Bali karena turis tidak mau datang. Pabrik nggak ada, pertanian juga sedikit saja
TaTa: waaa… tapi kl bule-nya terlalu kreatif dari pengiritan jaya sampai bisnis gitu.. jahat juga yah sebenarnya..
Taksi: ya mau gimana lagi, mbak.. pemerintah membiarkan..
TaTa: tapi sebenarnya pemerintah ga segitu jahatnya yah.. jalanan di sini buagus..sampai ke pelosok tebing pas mau ke Karma Kandara tadi, mulus.. Cuma kurang di bagian perlindungan itu tadi yah.. pemerintahnya setengah-setengah

Nah.. sekarang aku jadi mengerti kenapa suka ada harga tiket yang berbeda antara turis domestik dan asing. Dulu aku bertanya-tanya untuk apa pembedaan itu, “kan kasian bulenya..kayak dipalakin”. Sekarang aku berkata: memang sudah seharusnya bule itu diperas, mereka kan sumber devisa negara. Hohoho…
Selain ‘pemerasan’ terhadap bule, rasanya aspirasi Pak Ketut Selamet, supir taksiku tadi, perlu diperhatikan dan diberikan jalan keluar. Ya masa penyedia jasa wisata lokal musti bersaing sama bule-bule 'kreatif' itu. Kalau aku nyalon gubernur Bali maka aku akan mengeluarkan kebijakan pelarangan2 untuk bule: bule ga boleh ngekos, bule ga boleh berkeliaran naik motor sendiri, bule ga boleh nyari duit di bali.


Sesampai aku di bandara Soekarno Hatta, aku menuju ke pool Damri untuk menuju blok m (dulu aku slalu naik taksi, tp sekarang sudah tak begitu manja lagi, #pengetatanbudget). Dan, di bangku tunggu..ada 2 pasang bule aja dunk..sedang nunggu bis damri juga. Tambah lagi deh peraturan kalau aku nyalon presiden: BULE GA BOLEH NGIRIT! Dan tentu saja: PEMBANGUNAN HARUS MERATA, SARANA-PRASARANA harus bagus dimana-mana, KORUPSI DIBERANTAS HABIS2AN (biar jalan kayak di Pangandaran sebagus pemasukan dari bidang wisatanya) *melebar kemana-mana*


Karena MP

Karena MP menutup layanan blog nya dan menyediakan fasilitas perpindahan isi MP ke Blogger dan Tumblr, maka jadilah blog ini..

thank you, MP.. *kiss

Tuesday, May 22, 2012

Ragil Suka Foto-Memfoto

 

…adekku yang usianya 6 tahun itu…

 

Dari jaman kecil dulu kan dia memang suka sekali difoto. Kalau sedang menangis, lalu diajak berfoto, maka dia akan kembali ceria. Segala pose foto dia ahlinya. Pokoknya dia sukaaaa difoto!

 

Nah.. Ternyata kali ini ada yang berubah: dia suka mengambil foto!

 

Seminggu kemarin aku kan pulang ke rumah. Beberapa kali mendapati dia ngambek, bersedih hati dan hal lain yang ujungnya adalah menangis. Awalnya aku tak begitu paham bahwa obatnya adalah memberikan hape ke dia. Hingga akhirnya beberapa kali terbukti bahwa memotret dapat menyembuhkan kemurungannya.

Dia suka memfoto apa saja, tapi tidak asal. Dia beneran mencari objek gitu lho...dari pemandangan sampai manusia-manusia. Setelah jepret, dia akan melihat hasilnya, kemudian meminta pendapat orang. Dan aku hampir slalu berkata “bagus!”, karena memang bagus. Sambil kadang-kadang sok memberikan saran “jangan kelihatan tiang listriknya…” dan sejenisnya. Pokoknya biar dia bersemangat.

Nah.. Ini adalah hasil foto yang membuatku ternganga. Kok kerreeennnn…?! Satu, aku kaget kok dia bisa memotret seperti itu. Dua, aku kaget ini kan cuma pake kamera hape! Hapeku yang uzur pula!

 

 

Hingga aku akhirnya berkata “Waaa.. Dede’ berbakat yaaa fotografi.. Tar mbak Tata beliin kamera yah..”. Dan dia “sekarang?” dengan antusias. Tampangku langsung mendatar “Ya enggak sekarang dunk… Nanti kl Dede’ sudah besar..”. Dan dia juga mendatar.. L

 

Tapi yah yang pasti, sekarang kalau pergi-pergi sama dia, bisa dimanfaatkan untuk fotoin kitaaaa ^o^ *kakak oportunis*

ummmhh.. Ada yang mau jadi mentor adekku? Biar fotonya ga miring-miring gitu...

 

Sunday, May 6, 2012

Aku Cinta Jakarta

 

 

Aku pernah bilang bahwa aku merasa Tuhan memanjakan aku. Kadang Tuhan iseng sih godain aku, tapi itu tak lama, habis itu manjain lagi. Aku juga sudah menjadi kebal ketika ada yang berkomentar “Wah..Jakarta tidak menempamu. Padahal konon kehidupannya keras”.

 

Beberapa waktu lalu aku membaca tulisan di link ini, tentang betapa jahatnya Jakarta, betapa tak masuk akalnya juga hingga membuat si penulis “lama-lama takut tinggal di Jakarta”. Aku tidak menyangkal bahwa itulah Jakarta. Sebelum ada tulisan itu, aku telah (sering) mendengar ada teman yang dihipnotis di dalam bis kota hingga raib handphone nya atau tentang teman yang dibekap dua orang dan satu orang lain mengaduk-aduk isi tasnya, di pinggir jalan raya di pagi hari. yak, inilah Jakarta.

 

Dan yang akan kuceritakan ini pun terjadi di Jakarta.

Cerita 1

Kemarin aku akan menonton film bersama bocah-bocah, maka sebelum berjumpa di bioskop, aku mampir dulu di swalayan untuk membeli sesuatu. Setelah memilih-milih sebentar, aku putuskan untuk membelikan bocah-bocah itu sumpit untuk pemula yang luchu desainnya dan mudah digunakan (jaminan langsung bisa menyumpit bakso yang bulat itu!). Segera setelah mengambil sumpit-sumpit itu, aku menuju kasir yang sedang melayani bapak-bapak yang belanjaannya banyaaaakk sekali. Sambil menunggu dia dilayani, aku menonton Happy Feet yang diputar di layar TV di belakang mbak kasir. Mataku tertuju ke depan, tanganku memegang 3 sumpit. Tiba-tiba sumpitku diambil sama bapak tadi dan disodorkan ke kasir ketika belanjaan terakhirnya sedang di-scan. Aku kaget dan memandang si bapak. Dia tersenyum dan “let me pay them”. Aku ga mau dunk. Dia entah siapa, apa motivasinya pula. Dan dia tetep ngotot meminta si mbak kasir menyertakan sumpit itu ke daftar belanjaan dia. “Please, let me. I know they’re for children. I love children.”.  Dan aku hanya bisa “Are u sure?” dan “ya udah deh..”, kemudian “aku beli yang lain juga aahh.. haha..”, becandain dia. Kata dia “oh silakan.. Tapi ini tetep kubayarin yah..”.

 

Bayangkan! Aku berjumpa manusia asing nan baik hati yang membayari barang yang kubeli, di pusat Jakarta. Di sebuah tempat yang lebih sering dipenuhi oleh orang yang saling skeptis dalam diamnya. Bahkan aku pun sempat bertanya-tanya nyaris curiga. Dan selama transaksi di kasir sekejab itu dia crita kalau dia tinggal di Jakarta sendiri sedangkan anak istrinya di Amerika sana. Ketika kutanya apakah dia sering melakukan itu, bayarin belanjaan orang? Dia bilang “enggak juga. Kebetulan saja aku tau km beliin untuk anak-anak”. “It does inspire me. Thank you”, aku bilang gitu sebelum pisahan.

 

Cerita 2

Pagi ini cuaca Jakarta begitu gloomy. Ketika aku berangkat kerja, mendung berangin pertanda akan hujan. Kemudian, ketika aku akan turun dari bis untuk ganti bis lain, hujan sudah turun dengan serunya. Aku adalah manusia tanpa payung. Maka aku mengeluarkan blazer dari dalam tas dan menutupkannya ke kepala. Aku tau akan tetap basah, tapi lumayan lah untuk menunda kekuyupan sampai aku berteduh di 711 terdekat.  Tiba-tiba ada payung di atas kepalaku berbarengan dengan suara dari samping kiriku “Barengan saja, mbak..”. Aku memandang si mbak itu, “Terima kasih.. Mau naik bi situ juga?”. Dan dia mengiyakan. Maka berjalanlah kami berdua di bawah payungnya. Aku tersentuh oleh tindakannya. Kalau mau dibilang kecil atau biasa saja, aku kira tidak. Banyak pejalan kaki berpayung lainnya yang lewat, sebanyak yang tanpa payung dan menutupi kepalanya menggunakan tas mereka sebagai usaha melindungi diri dari hujan. Namun, gadis muda itu memayungi aku.

 

Dari dua cerita itu, satu saja kalimatku: Aku cinta Jakarta, aku suka tinggal di Jakarta ^^

 

 

 

Friday, December 30, 2011

Apakah pakai 'kacamata' juga bisa menipu orang?

 

hmmmmm....

 

Yang kumaksud dengan ‘kacamata’ ketika kubilang “Ketika kita melihat sesuatu yang janggal yang aneh yang tidak masuk akal, baiknya coba pikir dan renungkan, jangan-jangan cara pandang kita yang perlu dikoreksi. Atau jangan-jangan kita salah pakai 'kacamata'”, adalah cara memandang. Kita sering tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikir orang lain bukan? Contoh ekstrim: pelaku bom bunuh diri. “Apppaaa siii yg mereka pikirkan??”, sering terdengar komentar seperti itu bukan? Contoh lebih sederhana: ada seseorang yang merasa dia melek fashion dan melihat ada orang lain memakai baju yang menurut dia kejahatan, dia foto diam-diam kemudian dia sebarkan di social media dengan captiono my god, what were this lady thinking. fake tan & blondish hair. harem jeans? Yuck”.  Akarnya adalah dia tidak mengerti dengan apa yang dia lihat dan merasakan keanehan tingkat dewa.

 

Adakah ‘kacamata’ untuk kedua contoh di atas?

 

‘kacamata’ aka cara pandang itu menurutku bergerak atau berkembang seperti halnya mata kita. Contoh yang menurutku cukup pas adalah di film Sang Penari, film tentang ronggeng di daerah Dukuh Paruk, Banyumas. Di film tersebut, di latar waktu itu, ronggeng ada dengan segala macam ritualnya yang kental (sesaji, doa sebelum manggung). Kemudian tibalah waktu di mana mereka seperti ‘dipaksa’ untuk berkompromi dengan kondisi jaman: sesaji dan doa ditiadakan. Para tetua merasa sangat keberatan, apalagi sang dukun ronggeng. Namun, akhirnya dicapailah jalan tengah bahwa sesaji dilakukan di rumah sebelum berangkat. Kata salah satu sesepuh “Inilah lakuning jaman..”. Yep! Di ‘mata’ para sesepuh itu, awalnya peniadaan ritual sesaji di panggung itu adalah kejahatan tradisi. Namun, mereka menyadari bahwa jaman bergerak dan berubah, maka mereka pun akhirnya menerima hal itu sebagai ‘lakuning jaman’. Mereka melakukan ‘koreksi pada mata mereka’, mereka memakai ‘kacamata’ baru..

 

Nah, sekarang dengan mengetahui pentingnya ‘kacamata’ ini, haramkah "apaan sih ini?? Ga ngerti deehh..”? Apakah kita akan menjadi orang yang selalu mengerti semua hal?

 

Pertanyaan selanjutnya? Apakah ‘kacamata’ membuat kita menjadi penipu? Karena kan pada awalnya kita tidak mengerti, kemudian kita memakai ‘kacamata’ dan menjadi mengerti. Pada kondisi A kita memakai ‘kacamata’ A, pada kondisi B yang sebenarnya kita anti kita menjadi mengerti karena kita memakai ‘kacamata’ B. Apakah itu bukan sedang menipu diri sendiri dan orang lain?

 

Kembali kepada kacamata. Apakah kita memiliki banyak kacamata dengan segala macam ukuran/ kebutuhan di satu waktu? Tidak bukan? Kita melakukan koreksi pada kacamata ketika kita merasa kacamata yang sekarang sudah tidak nyaman di mata. Ada yang bertahun-tahun masih memakai kacamata yang sama bukan? Begitu pula dengan ‘kacamata’, dia perlu berubah sesuai lakuning jaman.

 

Dengan adanya ‘kacamata’ tidak serta merta menjadikan kita manusia yang mampu memahami segala hal di dunia. Dan juga tidak menjadikan kita penipu. Karena hanya ‘kacamata’ yang pas dan nyaman lah yang kita pakai. Selanjutnya, kita juga akan mengerti bahwa tiap orang memiliki ‘kacamata’ masing-masing. Dan ini akan berkontribusi pada dua contoh di awal paragraf.

 

 

 

 

*kalau dipikir kok jadi geser yah fokusnya..? bukan tentang ‘kacamata’ tapi mencoba mengerti perbedaan.. hehehe.. mahap..*

 

 

Wednesday, December 28, 2011

LUPA DIRI SENDIRI

 

..banyak orang berpikir untuk mengubah dunia, tapi justru suka lupa untuk mengubah dirinya sendiri….

 

Tentang kacamata dan 'kacamata'

 

Ketika aku SMA, entah bagaimana aku merasa ingin memakai kacamata, kayaknya keren dan pintar ajah. Maka, aku mendesak orang tuaku untuk membelikan aku kacamata dengan keluhan betapa suka pusingnya aku ketika membaca. Maka dibawalah aku ke dokter mata di sebuah rumah sakit. Selama menunggu giliran diperiksa, aku cemas dan gelisah luar biasa, ada ketakutan bahwa ternyata mataku baik-baik saja dan bahwa pusingku hanyalah pusing biasa. Dan ketika aku menghadapi papan huruf, aku semakin terpuruk karena aku hampir bisa membaca yang ditunjuk pak dokter dengan nyaris sempurna. Ada terselip niatan untuk salah membaca dengan sengaja, tapi aku tak berani…karena itu kan bohong ^^

 

Selesai adegan baca-baca huruf itu, aku kembali ke ruang dokter dan beliau menjatuhkan vonis aku bermata silindris dan rabun jauh sebesar 0.5.  Dan aku disarankan memakai kacamata. Yeaaayyyy!

 

Dengan sangat bersemangat aku memakai kacamata dan menjadi lebih percaya diri karena berasa nampak pintar. Akan tetapi, ternyata memakai kacamata tak seenak itu. Aku hanya betah beberapa waktu, habis itu dengan alasan “ga pake ga ganggu pemandangan”, kugantung kacamata itu.

 

Mulai masuk kuliah, aku terpikir untuk pakai kacamata lagi. Pergilah aku ke optik di mall Depok ditemani Okta dan memilih frame yang menurutku bagus. Namun, nasib kacamata ini tak jauh berbeda, hanya beberapa saat dipakai untuk akhirnya disimpan.

 

Mulai bekerja, demi penampilan baru aku keluarkan lagi simpanan kacamata itu. Dan ini lebih memiriskan, paling hanya seminggu kugunakan. Setelah itu aku tampil sebagai manusia bermata sehat. Entah dapat pencerahan darimana bahwa tidak berkacamata itu membanggakan karena artinya matanya sehat ^^

 

Hingga tibalah saatnya tes kesehatan, baik untuk keperluan wawancara kerja ataupun tes rutin. Setiap kali mengisi formulir tes itu, aku selalu mencantumkan ‘-‘ (strip) pada kolom mata sebagai tanda aku bermata sehat. Tapi, tiap kali diperiksa, sang pemeriksa slalu berkata “sudah saatnya memakai kacamata”. Tapi aku tak pernah menanggapinya dengan serius, berdasarkan motto “dunia masih tampak indah kok di mataku”.

 

Kemudian, aku mendapatkan frame kacamata sebagai salah satu kado ulang tahun bulan kemarin (dan kunobatkan sebagai hadiah paling mengesankan karena si pemberi mengerti apa yang kubutuhkan). Dengan semangat tidak membuatnya mubadzir, maka aku ke optik untuk membeli lensa. Sebagai prosedur, aku diperiksa dulu matanya setelah didahului dengan “dulu sih pake kacamata, tapi sekarang sudah kembali normal kok”. Selesai pemeriksaan pertama, si pemeriksa berkata “silinder yah?”, dan aku tersipu “kok tauuuu?”, dan dia “kan barusan diperiksa”. Pemeriksaan selanjutnya yaitu membaca huruf-huruf itu dan aku sangat sadar aku banyak gagal. Dan begitulah, minus satu saja mataku -___-

 

Empat hari sejak pemeriksaan, aku mulai mengenakan kacamata baru ituuuu. Reaksi pertama selalu templateya ampuuunnn..ternyata dunia setegas ini warnanyaaaa?!!”. Yep! Jadi ternyata yang selama ini aku lihat itu adalah dunia dalam versi agak kabur dan samar-samar. Warna hitam kelam, di mataku jadi hitam biasa, hitam biasa menjadi abu-abu kelam. Dan dengan kacamata baru ini, warna-warna menjadi lebih tegas ^^

 

Semalam, aku mengantri tiket di stasium Gambir. Di atas loket  terdapat layar TV lumayan besar yang menayangkan update kondisi tiket. Tayangan berupa tabel berisi nama kereta, jurusan, dan tanggal pemberangkatan. Setiap 5 detik, layar akan di-refresh untuk memberikan update terbaru. Nah, sudahlah posisinya di atas, warna hurufnya biru muda, kolomnya banyak ajah. Jadi, aku setengah mati meraba-raba angka yang dicantumkan. Aku sudah hampir mendekati titik emosi jiwa dan menulis saran yang intinya “perbaiki tabel update kondisi tiket dunk”. Dalam emosiku, apa gunanya pake TV gitu tp tulisannya ga bisa dibacaaaa..ga gunaaa tauuuu… Hingga tiba-tiba aku melihat mas-mas ganteng memakai kacamata dan aku jadi pengen pamer kacamata juga. Kubuka tasku dan kuambil kacamataku, kupakai. Hwuaaa…mas-mas itu makin ganteeeeng! Trus aku ingat untuk mengecek update kondisi tiket, dan kyaaaaaaaa….kok kebacaaaaaaa!

 

Untuuuuung aku blum marah-marah dan mengirim surat pembaca ke koran nasional. Ternyata kesalahan ada di mata saia *malu*. Dan aku jadi berusaha mengingat-ingat lagi apakah ada kejadian serupa selama ini. Mengingat aku memiliki hobi menulis saran ke setiap kejanggalan yang kurasakan dengan semangat agar ada perbaikan. Dan ternyata yang perlu diperbaiki dan diubah adalah mataku. Dududududu…

 

Hmm... Ga nyangka aku dapat pelajaran berharga secara harfiah gini… Lebih dalam lagi, ketika kita melihat sesuatu yang janggal yang aneh yang tidak masuk akal, baiknya coba pikir dan renungkan, jangan-jangan cara pandang kita yang perlu dikoreksi. Atau jangan-jangan kita salah pakai 'kacamata' ^^

 

 

 

 

 

Terimakasih banget buat Fadil dan Aki untuk frame-nya, dan kamu yang menemani membeli lensanya. Aku kini melihat dunia dengan lebih jelas. Dan aku juga diingatkan untuk 'melihat dunia dengan lebih jelas'.

 

 

ini aku dan frame baru-ku sesaat setelah kuterima..masih bolong tak berlensa ^^

Sunday, December 18, 2011

Untuk Ibu

Setiap manusia berjalan dalam setapaknya masing-masing. Mereka berjalan sendirian. Mereka bersama-sama berjalan kepada satu tujuan, yaitu … Tuhan” – Tanda Tanya (2011)

 

 

 

Ibu memutuskan untuk kembali ke jalan yang dulu Ibu pernah tinggalkan

………………………………………

Tata keberatan?

……………………………………..

Kalau Tata keberatan, Ibu akan menunggu sampai Tata rela

……………………………………..

Ibu telah memilih dan memutuskan, itu yang terpenting saat ini

…………………………………….

Tuhan tahu, maka Ibu pun ingin Tata tahu

 

 

 

Ibu, masalah jalan adalah hal keyakinan dan kedamaian.

Jika jalan itu yang Ibu yakini akan membawa kedamaian, itu lebih dari cukup buat Tata.

Tuhan tahu, Tata tahu, maka biarkan dunia juga tahu.

Selamat hari Natal, Ibu…

 

 

 

 

 

Aku dan Ibu [boleh saja] mengarungi sungai masing-masing, namun sebenarnya kami [senantiasa] bersama-sama, menuju muara, yaitu….Tuhan

 

 

 

Gambar oleh Ferry Andoni Agustan

 

 

*sedang buat draft kartu natal untuk mak-ku*

Monday, November 28, 2011

Tokcer

...tentang rasa bahasa...

 

Definisi tokcer menurut sumber ini, adalah:

1 baik; bagus (tt mesin, mobil, dsb): mobilnya selalu dipelihara, mesinnya --; 2 manjur; mujarab: kini sudah ditemukan obat yg -- untuk penyakit malaria; 3 ki subur (mudah hamil)

 

Yang paling lazim digunakan sih kayaknya yang kedua yah.. Kemudian disusul yang ketiga dan akhirnya definisi pertama yang jujur jarang kudengar digunakan.

 

Nah, sehubungan dengan definisi ketiga. Ternyata sebenarnya pun jarang digunakan, karena telah terjadi sedikit penyimpangan penggunaan. Arti katanya kan ‘mudah hamil’, tapi coba kita lihat penggunaannya, lebih ke ‘mudah menghamili’. Betul? Misalkan ada seseorang yang baru menikah kemudian diketahui beberapa minggu kemudian sudah hamil beberapa minggu juga, maka pasti akan adaaaa saja komentar ‘wah..tokcer nih..”. Ya kan?

 

Aku tidak akan membahas penyelewengan atau penyimpangan penggunaan kata tokcer itu, apakah seharusnya ditujukan ke si penghamil atau si yang dihamili. Tapi lebih ke: perlukah komentar itu?

 

Aku kan suka membolak-balik logika yah.. Misalnya, contoh paling sederhana adalah ketika adekku yang kecil bilang “aku sayaaaaaang banget sama Mamas”, maka aku akan nyamber “maksudnya dedek ga sayang Tata?”. Ya itu hanya buat menggoda adekku sih sebenernya.. :))

 

Nah, sekarang kita tarik ke ketika kita mengomentari seseorang yang bisa hamil dan/atau menghamili dalam waktu singkat dengan “wah..tokcer..”, menurut aku itu secara tidak langsung kita bilang bahwa yang tidak secepat mereka itu tidak tokcer. Dalem ga tuh..?

 

Kalau kita bisa berkata “semua sudah diatur Tuhan.. Tuhan tau kapan waktu terbaik buat kamu untuk punya anak” kepada mereka yang menanti-nantikan kehamilan tapi tak kunjung datang, kenapa kita tak berkata yang sama kepada yang cepat diberi kehamilan? Kenapa malah memujinya? Prestasi? Artinya yang tidak seperti itu adalah kalah?

 

Aku suka deh apa yang pernah kubaca di suatu novel *lupa judulnya*: walau menggoyang ranjang hingga dunia bergoncang, kalau blum dikehendaki oleh yang Maha Hidup, ya ga kejadian. begitupun sebaliknya.

 

 

Memang soal memiliki anak atau tidak, segera atau ditunda itu adalah keputusan personal juga. Sudah makin banyak kutemui orang yang memilih untuk tidak memiliki anak kandung, dan biasanya mereka discreet, demi kemaslahatan bersama^^. Tapi, secara umum seumum-umumnya memiliki anak itu (dianggap) ujung lain kebahagiaan bahkan kesempurnaan hidup. Jadi, kalau bisa janganlah mengusik-usik soal itu atau lebih berhati-hatilah, meski secara tidak langsung (karena 'resiko pembalikan logika'-nya melibatkan kata 'bahagia' dan 'sempurna'.. ^^)

 

 

 

 ….sebenarnya ini draft lamaaaaa yang kutulis atas suatu keresahan di kala itu, tapi sudah diwakili dengan baik oleh tulisan seorang teman di sini. Yang mana kupikir tulisan dia lebih sahih karena ditulis oleh pelaku…

 

 

Wednesday, November 16, 2011

A Happy Birthday

 

Sedari aku lahir, sudah menjadi kebiasaan di keluargaku bahwa hari lahir itu adalah hari yang istimewa dan harus diistimewakan. Tiap hari lahir, tiap bulannya, ibuku akan membuat bancakan berupa tumpeng kecil beserta sayur dan lauknya trus jajanan pasar, trus dibawa ke pak modhin untuk didoain trus dimakan rame2 oleh anak-anak kecil sekitar rumah. Itu setiap hari Selasa Kliwon untukku, Sabtu Pahing untuk D’Dika dan Senin Legi untuk Ragil. Filosofinya bahwa bancakan itu kan selametan yang ditujukan untuk batir kita. Kan konon ketika kita lahir ke dunia ini, di dunia yang lain sana ada kembaran kita juga, yang akan selalu menemani kita, makanya namanya batir. Dan selametan itu sebagai wujud terimakasih kita untuk dia. Katanya begitu.. Dan keluargaku agak ketat dalam hal ini, karena entah gimana pas terlupa atau terlewatkan eh pas aja kita sakit entah panas entah rewel. Dan sebagai manusia yang pandai menghubung-hubungkan sesuatu, sakit itu karena batir kita protes ^^

 

Tapi sampai usia tertentu, selametan itu berubah dari tumpeng menjadi bubur merahputih dan kemudian berhenti. Biasanya sih sampai si anak bilang sendiri ‘sudah tak usah buat bubur lagi”. Yang mana diyakini itu pesan dari si batir.

 

Jadi mulai usia sekolah, kebiasaan itu sudah tak ada, digantikan dengan mengundang teman-teman ke rumah untuk makan nasi kuning setiap tanggal lahir. Ketika semakin besar, berganti menjadi memberikan uang saku lebih ketika ulang tahun untuk makan bersama teman-teman.

 

Selain kebiasaan eksternal seperti itu, kebiasaan internal juga diajarkan sejak dini. Kita akan berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama mengucapkan selamat kepada siapapun di rumah yang sedang berulang tahun. Dan sepertinya pemenangnya selalu ibuku yang memang rajin bangun tengah malam untuk berdoa. Tiap jam 12 malam, pasti ibuku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun, kemudian Bapak ketika bangun untuk sholat subuh. Nah, kalau antara aku dan D’dika...hehehe suka seinget dan sesempetnya. Bahkan pernah di suatu tahun aku dan dia tak saling mengucapkan, pertama karena aku lupa dan kemudian dia balas dendam ^^ Kalo Ragil, nah..dia kecil-kecil tapi tinggi harganya..kita harus menyiapkan kado untuknya demi ucapan selamat ulang tahun darinya. Walaupun sudah diluruskan konsepnya bahwa harusnya dia yang ngasi kado, tp tetap saja “ya pokoknya kalau mau aku bilang slamat ulang tahun, mana dulu kadonya!”.

 

Semakin besar angka usia, semakin ulang tahun itu menjadi hal yang-kasarnya- ga penting. Beda dengan jaman sekolah dulu, di mana ulang tahun itu menjadi yang dinanti-nanti karena itu adalah momen. Baik itu momen untuk meminta hadiah ke orang tua, momen untuk mengundang gebetan makan siang bareng. Pada suatu titik beberapa tahun lalu, aku dan Nurul sepakat untuk bilang bahwa “hari ulang tahun ya hari yang sama dengan hari yang lain. Sekarang kita bukan lagi di tahap ulang tahun itu istimewa”. Entah itu memang kita tulus menyimpulkan atau hanya respon penghiburan kita terhadap fakta bahwa ucapan selamat ulang tahun yang datang di tengah malam semakin berkurang saja :)))

 

Tapi… Ulang tahunku kali ini…istimewa! Sesuai dengan doa ibuku di pagi hari “Semoga hari ini beneran istimewa, seistimewa harinya”. Aku dibangunkan oleh bunyi telfon dari Fadil Timorindo di jam 1 dini hari dan kemudian dia bernyanyi satu lagu full “happy birthday tata..happy birthday tata…”. Padahal aku tau dia sedang berada di sebuah percetakan di Benhill sana *peluk fadil*. Dan selama sehari semalam  aku menerima banyak cium & peluk baik fisik ataupun virtual. Hadiah-hadiah juga melimpah. ‘Ibuku’ di kantor datang membawa tentengan tas berisi hadiah2 dari krucil-krucilnya di rumah. Siangnya kami makan siang istimewa bermenukan masakan italia, sorenya kami makan klappertart nikmat buatan Timmy Malachi. Yummyyy..!

 

Aku menemukan kembali Jonaz yang lumayan lama menghilang, Di hari ini. Jonaz yang dulu pelit nelfon karena “mahal kl nelfon dr hallo”, kemarin mendadak telfon dan ngobrol panjang diakhiri dengan “ya kalau km mau menerima aku apa adanya..” ^o^

 

Banyak berkah di hari ini..banyak hadiah yang berwujud hadiah ataupun pelajaran hidup.. Dan seperti doa Endah “mudah-mudahan makin disayang sama orang di sekitar”, itulah yang kurasakan: aku bersyukur aku diberkati dengan banyak cinta dan sayang, hingga kadang (malah) nyaris membuatku manja. Tapi, sesuai doa 'ibuku' di kantor “may u have many moves!”, aku jadi memiliki tekad. Yep! Semoga aku bisa melakukan banyak pergerakan. Dimulai dari yang didambakan dan didoakan mayoritas: move on dari kisah kasih yang sudah lusuh menuju yang cerah ceria. Semangaatt! Dan tak lupa, seperti doa Claudia "semoga hidup kita menjadi berkah untuk sesama". Amin amin amin!

 

 

 

 

Oiyah! Aku mendapat ucapan ulang tahun dari filmmaker paling hits se-asia tenggara lho.. Hohoho.. Katanya “Slamat ulang tahun ya kamuuuu.. Jangan galak-galak lagi yaaa.. Haha..”. Baiklah..ada yang pernah bilang mulutku itu sangat berpotensi 'nyilet' eh sekarang ada yang bilang kalau aku galak.. Sip sip! Aku akan berusahaaa!

 

 

 

Thursday, November 10, 2011

Roda itu Berputar, Baby…

 

...tentang siklus....

 

 

Dulu yah..

Awal kita kenal

Tak ada hari tak ada malam tanpa saling bicara

Tak ada saat kita tak bertukar kata dan cerita

Selalu, kita terlalu sayang untuk menghentikan semua itu

Satu lagi! Satu lagi!”

Itu yang pasti kita ucapkan di tiap batas waktu

Dan tentu saja banyak ‘satu lagi!’ setelah ‘satu lagi!’

 

 

Waktu terasa begitu kurang untuk kita

 

 

Sekarang apa kabar?

Oh kita masih saling bertukar kata dan cerita

Meski tak selalu, tak setiap saat

Dan..

Porsi saling diam saling mendengarkan nafas makin ada

Apa lagi?” mulai menggantikan “Satu lagi! Satu lagi!

[bahkan] Terkadang kita kehabisan cerita di kala begitu banyak waktu tersedia

 

Hhhhhh....

Roda itu berputar yah, sayang…(?)

 

Monday, October 31, 2011

Bukan Tentang Aman Ga Aman,

mau crita tentang hari Sabtu, 29 Oktober 2011. Ini harus ditulis agar bisa dikenang :)

 

Agendaku di hari sabtu itu adalah:

Ø  Ke tanah abang untuk finalisasi dan membayar pesanan buku

Ø  Ke plaza semanggi untuk nyusul 2 teman berkaraoke

Ø  Ke blok m untuk menemani teman syuting

Ø  Ke FX untuk midnite In Time

Hariku dimulai dengan diskusi dengan adekku mengenai design buku yang kami pesan. Kemudian jam 1 siang, aku berangkat. Sambil jalan kaki menuju jalan raya aku mempertimbangkan beberapa pilihan rute:

Ø  Ambil duit di karfur seberang jalan – makan di situ- ke tanah abang naik taksi-plaza semanggi naik bemo

Ø  Makan mie aceh di benhill-ambil duit di sebelahnya-ke tanah abang naik bemo-ke pelangi naik bemo lagi

Ø  Ke tanah abang naik taksi-ambil duit di jalan-ke pelangi –makan

Pokoknya concernku adalah:

Ø  Ambil duit: jumlahnya lumayan besar

Ø  Makan: dari pagi belum sarapan

 

Hingga akhirnya, karena aku melapar, kuputuskan untuk ambil duit di karfur seberang jalan trus makan sekalian.

 

Saat aku sampai di ATM Center,  ATM yang kumau sedang diantri oleh 2 orang, aku menjadi orang ke-3, dengan 1 orang menyender di dinding dekat kami. Ketika antrian maju, eh orang itu masuk ke antrian. Jadilah aku mundur lagi. Dan karena hari makin siang dan makin lapar, aku pindah ke ATM di sebelahnya (aku punya 3 kartu ATM dunk.. hohoho..). Nah, karena aku mengambil uang dalam jumlah banyak, maka kumasukkan ke dalam kantong uang recehku yang saat itu sudah kumuati dengan charger hape, modem, earphone, colokan kaki tiga, kertas wajah, dan lainnya aku tak ingat. Kemudian kumasukkan ke dalam tas. Setelah itu, aku menuju foodcourt mini yang mana ternyata tak bisa menjual makanan tanpa nasi. Maka aku urung makan di situ (Yak! Aku ga makan nasi lagiii.. hehehe..). Kuputuskan untuk makan mie aceh di benhill saja.

 

Maka menuju pinggir jalanlah aku. Aku berkata “apapun yang muncul duluan, apakah itu taksi atau bis, itu yang kunaiki”. Dan setelah beberapa saat. Datanglah si bis. Dan kuhentikanlah dia bersama 2 orang ibu-ibu dan mas-mas yang tadi antri ATM. Kami naik buru-buru dari pintu belakang, dorong-dorongan dengan tekanan kalimat dari kernet “ayo cepat..ke tengah ke tengah jangan di pintu semua”. Nah, aku penurut kan..maka aku ke tengah sambil tangan meraba2 dalam tas mencari letak dompet. Kan kantong yang berfungsi sebaga dompet itu gendut yah, tapi aku tak dapat merabanya. Maka, kuambillah uang dari dompet beneranku. Trus ternyata, ada bangku kosong di bagian belakang dekat dengan pintu. Aku menuju ke sana dan duduk di samping ibu-ibu beranak.

 

Hal yang selanjutnya kulakukan adalah mengobrak-abrik isi tas. Dan kantong yang befungsi sebagai dompetku tak nampak. Aku lalu berpikir, mereka ulang kira-kira ada dimanakah dompet itu. Satu-satunya skenario yang mungkin adalah aku meninggalkannya di atas mesin ATM. Karena dompet uang dan dompet kartu berbeda, mungkin saja aku hanya ingat memasukkan dompet kartu ke dalam tas dan meninggalkan dompet uang di atas mesin ATM. Aku berencana untuk segera turun dari bis dan kembali ke karfur sambil berdoa semoga satu di antara mas-mas yang antri ATM menemukannya dan menitipkannya ke security. Hingga kemudian ibu2 di sampingku bertanya “mbak dompetnya ilang nggak?”

Tata: iyah..

Ibu2: bentuknya kayak apa?

Tata: kotak gitu..segini.. (kugambarkan ukurannya)

Ibu2: warnanya hitam bukan?

Tata: iyah...

Ibu2: isinya dompet?

Tata: bukan dompet sih..tapi uang..

 

Saat itu muncul harapan, bahwa kantongku terjatuh dan ditemukan ibu-ibu itu dan dia sedang memverifikasi fakta kantong dengan keteranganku.

 

Ibu2: tadi diambil mas-mas yang naik bareng mbak

Tata: …pelan-pelan meredup… oh ya?

Ibu2: iyah.. tadi saya ragu dia ngambil dari tas mbak beneran atau enggak

Tata: orangnya mana yah sekarang?

Ibu2: itu barusan turun..

Tata: …tersenyum…

Ibu2: banyak mbak uangnya?

Tata: ummhh.. saya habis ngambil di ATM..jadi ya banyak

Ibu2: berapa?

Tata: dua juta (dan barang2 lainnya…)

Ibu2: ikhlas ya mbak..

Tata: iyah..

 

Serius, aku ga yang sedih banget atau marah atau kesel. Karena fokusku adalah membayar buku pesanan di tanah abang. Dan, walaupun uang yang sudah kusiapkan raib, kartu2ku kan masih utuh, jadi aku tetap bisa membayar buku itu.

 

Maka, aku turun di Ratu Plaza, lalu ambil uang lagi.

 

Selesai ambil uang, keluar dari ATM, aku jumpa Yuki (ingat-ingat nama ini yah). Trus aku cerita kejadian yang baru saja kualami, demi kepentingan leganya dada. Trus kami berpisah, dia ke arah PS dan aku ke arah tukang ojek. Info: kondisi jalanan itu kayak parkiran. Maka aku mau naik ojek dari Ratu Plaza-Tanah Abang-minta ditungguin-ke plaza semanggi.

 

Ternyata pas jalan kembali dari tanah abang, batere hape-ku sekarat dan dua temanku yang ada di semanggi bukan pengguna hape yang sama denganku, jadi tak akan bisa kutumpangi nge-charge. “Balik ke Ratu Plaza aja dink, Pak..”, kubilang ke bapak ojek.

 

Kembalilah aku ke Ratu Plaza dengan 2 agenda:

Ø  Beli charger (ada sih teman yang tau tempat jual charger murah meriah seharga dua puluh lima ribu rupiah. Pas aku mau nitip, dia sanggup, tapi ternyata di Bandung sana ajah)

Ø  Benerin laptop. Selama ini aku bergantung pada modem, karena entah bagaimana fasilitas wireless si Putih tak bisa berfungi. Nah, dengan raibnya modem aku, tergeraklah aku untuk memeriksakannya. Karena mbak pencetak buku akan mengirimkan draft akhir-nya pada malam harinya.)

 

Hal pertama dilakukan adalah memeriksakan si Putih. Nah, pas nungguin aku melihat Yuki bergerak dari arah toilet, maka kupanggillah dia dan ternyata dia sedang duduk-duduk bersama temannya di kedai kopi. Maka, ketika si Putih beres, aku menyusul dia. Kemudian aku menuju toko charger hape di seberang kedai, dan harganya mahaaalll..250ribu ajah, earphone juga. Dududu.. Dan Yuki berkata “beli yang murahan aja pasti ada. Tar gue temenin”. Maka benarlah, kami berhasil membeli charger seharga 70ribu rupiah berkat Yuki yang menawar. (itu aku dah berasa murah yah, eh pas crita ke bos ku dia bilang “kok mahall..mbak aku di rumah beli 20ribu tuh”. Zzzzz…)

 

Singkat cerita, setelah itu kami berpisah karena Yuki mau menonton konser musik, aku duduk sendiri di kedai kopi sambil menunggu seorang teman eh 3 orang teman yang sedang melihat pameran batik di JCC. Ternyata, teman2ku itu tak jadi menyusul aku karena mereka sudah berasa mau patah kakinya. Resmilah aku duduk seorang diri hingga midnite tiba. Oiyah, aku batalkan agenda nemenin syuting, karena mood-ku sedang males.

 

Kemudian, ada teman yang menawari aku untuk datang ke acara konser musik di seberang jalan itu, dia ada tiket lebih. Kupikir daripada sabtu malam ku sendiri tiada yang menemani, tiada teman kunanti, aku kesana saja sambil menunggu midnite. Tokh gratis, ada Yuki juga di sana, yang menonton juga (teman yang kasih tiket ga nonton, dia kerja pada salah satu booth gitu..). Maka menyeberang jalanlah aku.

 

Konsernya itu diadakan di semacam sebuah aula, terdiri dari panggung dan lantai berkarpet untuk tempat penonton. Setelah puas melihat-lihat booth di luarnya, aku, Yuki dan 2 temannya masuk ke area panggung, duduk ngampar seperti semua penonton, ngobrol.

 

Saat itulah, ada teman yang baru datang yang baru mau masuk. Aku pamit ke Yuki dkk untuk menjemput temanku itu. “aku ke depan dulu yah.. titip..”, pamitku sambil pegang tas.

 

Aku dan temanku yang baru datang, bukan langsung masuk menonton konsernya tapi keasikan maen2 di luar. Karena 1: maenannya emang asik, 2: kita ga kenal sama sekali dengan band-nya. Jadi walau sudah dimulai, kami santai saja. Setelah puas, kami bermaksud masuk. Dan pas sampai di pintu masuk, hwuaaaa…semua orang berdiri dan melompat-lompaaatt.. Dimana Yukiiii..

 

Aku berjalan permisi-permisi menyibak orang-orang entah berapa ratus kali, hingga ketemulah Yuki. “Yukiii tengkyuu yaa.. Sini tasku!”. Dan respon Yuki membuat dunia di sekitarku kabur, sunyi senyap, paused.. “Lo nitipin tas ke gue?”. Aku melotot dan tak mampu berkata-kata. Kemudian aku menoleh ke temennya Yuki, dan dia “Tadi nitipin yah? Kita ga tau..”. Dan refleks kita berlima langsung nunduk-nunduk mencoba mencari keberadaan tasku. Dan kupikir itu sia-sia. Maka kuputuskan untuk segera lapor.

 

Tapiii.. Aku bingung gitu, musti lapor kemanaa.. Sepanjang mata memandang dan berputar-putar, hanya ada orang-orang berbahagia, mbak-mbak cantik mencatat data kita. Selama kebingungan itu, aku hanya bisa ngomong “oh my.. this is not happening.. this is not happening”. Maka kutanyalah ke pojok bernama ‘redemption corner’, dan katanya security ada di depan. Kesanalah aku, Yuki kusuruh masuk ke dalam lagi saja.

 

Tata: Bapak.. tas saya hilang.. Mau lapor..

Bapak: gimana critanya bisa hilang?

Tata: bodoh sih memang, Pak.. jadi.. la la la la la la … (kucritain lah semua)

Bapak: isinya apa saja?

Tata: hidup saya, Pak.. ada laptop, charger yang baru saya beli tadi, colokan kaki tiga baru beli juga, ummh..buku..kipas..  Pokoknya semuanya, nih saya tinggal pegang hape..

Bapak: ada dompetnya?

Tata: oiyah dompet! Beserta segala macam kartu..

Pas itu yah..aku sudah pada tahap tak ada harapan lagi. Siang tadi aku mendapati pertanyaan2 semacam ini dan dompetku tak kembali kan?

Bapak: ada KTP-nya?

Tata: iya..ada..

Bapak: warna tasnya apa?

Tata: hitam..

 

Kemudian muncul mas-mas panitia bertanya ada apa dan dijawab oleh bapak-bapaknya “Tas-nya ilang di dalam”. Trus ada kudengar mereka saling ngomong “trus gimana trus gimana..”.

Tata: ya pokoknya saya lapor ya, Pak.. (aku pikir tak mungkin kan panitia menghentikan konser sejenak untuk meminta kepada para penonton untuk mengecek sekeliling kakinya apakah ada tasku atau tidak)

Bapak yang lain muncul dari dalam ruangan, “Ini bukan?”, tanyanya sambil angkat taskuuuu! Dan aku langsung samber tas itu dan memeluknya. “Makasiiii…”. Bapak-bapak itu meminta aku untuk mengecek isinya, yang mana aku bingung juga karena sebenarnya aku tak tahu pasti apa saja isi tasku. Beneran. Tasku tuh isinya apppaa ajah.  Sikat gigi? Ada. Lotion? Ada. Tissue? Ada tissue kering ada tissue basah. Sabun muka, cutton bud, baby oil, obat2an, agenda. Mau sumpit? Ada juga. Jadi ketika ditanya “utuh barang2nya?”, aku jawab aja iya. “iyah.. laptop ada, mukena ada, buku ada.”.Dompet?”. "Oiyah! Lupa cek!”. Setelah kuobrak-abrik, “Ada! Makasiii ya, Paakk“. Kata bapaknya “Tadi ada mbak-mbak yang bawa kesini, nemu di lantai katanya”. Aku terharu..huhuhu… “Mbak-nya sebut nama nggak, Pak? Atau nomor hape?”. Dan ternyata tidak.. Yah, siapapun mbak itu..god bless u, sister.. (serasa sayembara kerajaan gitu..dah langsung diangkat jadi saudara ajah..)

 

Dan… dari rangkaian kejadian seru hari sabtu itu, aku bilang ke alam “Alam.. Makasih yah.. Today is my day….for learning lots of thing”.

 

 

^^

 

 

oiyah.. ada sedikit crita tentang ini di sini  oleh temen yang kujemput yang membuatku meninggalkan tasku ^^