Wednesday, December 12, 2007

Diam-mu Penanda-mu

Kita telah berlari sebelum peluit ditiup. Kita telah beradu peran sebelum gong dipukul tiga kali. Ya, kita adalah wayang yang berlakon sebelum gunungan tertancap.

 

Tak mengapakah? Kurasa tak apa-apa. Toh, kita masih ada dalam pakem. Walau kadang bimbang menyerangku. Apa sajakah di dirimu yang boleh kusentuh? Wilayah mana sajakah yang boleh kujelajahi?

 

Kulangkahi dan kurabai tiap jengkal dirimu. Kukecupi dan kuciumi tiap rasamu. Kutatap matamu ditiap langkah dan rabaan. Kutahan nafasku di tiap kecupan dan ciuman. Kunantikan kenanmu yang kau isyaratkan lewat warna (di) matamu.

 

Kini, manakah warna itu? Hampir lelah mataku menunggu. Hampir habis nafasku tertahan.

 

Tak ada warna, tak ada kata. Hanya diam mu yang kutangkap. Diam yang menggoreskan garis batas yang jelas. Diam mu adalah penanda atas mana yang boleh kusentuh, mana yang bisa kuraba dan sejauh apa ku harus melangkah di dirimu.

 

Akhirnya...kutahu dimana ku harus berada

Becoming Jane

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Apakah afeksi adalah syarat mutlak untuk memasuki tahap pernikahan? Apakah jika afeksi ada, pernikahan juga pasti akan ada?

Jane Austen menolak untuk menikah dengan pemuda kaya raya karena menurut dia menikah itu harus dengan afeksi. Dan dia menemukan afeksi itu pada diri Tom Lefroy. Namun ternyata kisah cinta Jane dan Tom tak pernah mengalami yang namanya fase pernikahan.

Untuk menikah dan membangun keluarga ternyata tak hanya cinta yang dibutuhkan. Jane adalah gadis muda dengan bakat dan kemampuan menulis, sedang Tom adalah seorang pengacara muda. Namun lingkungan tak berkenan dengan cinta mereka. Keluarga masing2 berharap mereka menikah dengan seseorang yang dapat mewariskan tanah beribu hektar, yang dapat mengangkat kehidupan perekonomian mereka.

Mereka mencoba membawa cinta mereka lari dari lingkungan mereka. Mereka memiliki keyakinan bahwa mereka akan dapat menghasilkan uang, walau reputasi mereka telah hancur nantinya. Namun ternyata dalam perjalanan menuju pelarian, Jane menemukan kenyataan tentang Tom yang membuatnya mengurungkan niat. Tom adalah tulang punggung keluarganya. Jane tak sanggup membayangkan bahwa demi cinta mereka berdua, mereka harus menelantarkan keluarga Tom.

Jane memupuskan cinta mereka berdua. Dia melanjutkan hidupnya dengan menjadi seorang penulis, sedangkan Tom meneruskan karier pengacaranya. Masing2 dari mereka sukses dalam kariernya.

Mereka sama sekali tak berhubungan lagi, hingga suatu hari mereka bertemu di suatu recital, bertahun-tahun kemudian. Tom bersama seorang gadis remaja yang kemudian dikenalkannya sebagai anaknya.
(kayanya ya pas adegan ini, si Jane dia agak2 BT dan nyesel deh..dalam hati kayanya dia ngomong: sial..tau gitu gue nikah juga... hehehe...)

hwuaaaa...aku masih sedih kl inget film ini.. Si Jane menjaga cintanya untuk Tom dengan tidak menikah seumur hidupnya, sedangkan Tom? Hwuaaa...

Saran kl mau nonton film ini: harus bener2 lagi mood buat nonton. Karena dialognya sangat berpotensi menuntun penonton ke arah kebosanan. Dialeknya British abies, kata2 yg digunakan juga cukup jadul mengingat setting film ini adalah abad 18. Cukup pusing lah mengikuti percakapan para tokohnya..hehehe.. Tp paras cantik Anne Hathaway cukup membuat bertahan hingga tulisan jalan naek di layar =)

Tuesday, December 11, 2007

Figuran Biduran

Hari ini ku terserang biduran
Membuatku jadi punya liburan
Ku bisa menikmati banyak hiburan
Tapi most of the time aku cuma tiduran

Godaan jalan2 ke mall cukup menggiurkan
Tapi di tengah jalan, lagi2 ku terserang biduran
Dan kuingat ku blm bayar iuran
Karna ibarat kata ku mencari makan di dunia hiburan
Ku hanyalah seorang figuran
Ya, aku adalah seorang figuran yang terserang biduran

(ketika panas dan gatal itu menyerang)
   

Wednesday, December 5, 2007

Confession

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Story: Nobuyuki Fukumoto
Setiap orang punya rahasia yang tak pernah dan tak ingin dibagi ke siapapun. Kecuali mungkin pada saat maut mengancam. Dua orang pendaki gunung, menghadapi badai salju sebelum mencapai pos persinggahan. Salah seorang dari mereka terjatuh dan terluka di kakinya, sehingga mereka tidak dapat kemana-mana. Di saat itulah, Ishikura yang merasa hidupnya tidak akan bertahan sampai keesokan harinya membuat pengakuan kepada rekannya, Asai. Bahwa 5 tahun yang lalu dia telah membunuh teman mereka, Sayuri.

Ketika pada akhirnya mereka dapat mencapai pos persinggahan setelah badai se-lesai, keduanya terlibat dalam konflik yang cukup rumit. Ishikura yang ternyata terselamatkan dari maut merasa tidak aman lagi hidupnya karena Asai mengeta-hui rahasianya. Asai pun merasa Ishikura tidak akan membiarkannya hidup kare-na mengetahui rahasia Ishikura. Permainan emosi sangat mendominasi cerita se-lanjutnya.

Klimaksnya adalah ketika Asai terkena Mountain sickness sehingga penglihatan-nya semakin menghilang. Maka terjadilah adu cepat untuk membunuh antara Asai yang tidak bisa melihat dan Ishikura yang terluka kakinya. Pada saat akhirnya Ishikura memenangkan adu tersebut, dan dia hampir membunuh Asai, Asai mem-buat pengakuan. Pengakuan yang menyelamatkannya dari kematian namun mem-buat Ishikura lah yang memasuki gerbang kematian.

Komik yang sangat menarik. Dari awal hingga halaman terakhir (302) hanya terdiri dari 2 orang. Dialog bukan menjadi penuntun utama cerita, namun ekspresi dari masing2 tokoh turut serta membangung emosi pembaca. Dan dijamin, tidak ada cowok cantik di komik ini. >_<

Selamat membaca!


Sublim

Kebekuan kita belum lagi cair. Seingatku. Kini tiada [begitu saja]. Menjadi uap. Melayang-layang di udara melingkupi kita [seolah] tak hendak sirna.

 

Dapatkah kau panggil angin? Biarkan dia pergi jauh [dari kita] ke tempat yang dapat mengembalikan wujudnya.  

Tuesday, December 4, 2007

My Contact Persons on Urgent Matters

Kemaren hp ku ketinggalan di bawah bantal (walau ku tau kalo naro hp di bawah bantal itu ga baik). Jadi sehari kemaren ku tidak berhubungan dengan siapa2 melalui SMS ataupun telp, kecuali urusan kantor. Walau sebenernya ada beberapa sambungan telepon dengan teman yang ingin kulakukan, tp karena ku tidak hapal nomer mereka maka kuurungkanlah niatku.

 

Kemudian ku berpikir: misal nanti pas hp ku ketinggalan di bawah bantal lagi,  trus ku ditangkap polisi atau diculik dan hanya diberi kesempatan menggunakan telpon sekali, siapa yg bakal kuhubungi yak?

 

Dulu, ku bisa menghapal lumayan banyak nomer telp. Tapi sekarang, hanya tinggal beberapa. Menyedihkan ... Degradasi kemampuan otak ni... Hiks..

 

Dan nomer telp yg masih ada di memori otakku adalah:

  1. rumah di Kopeng
  2. kosan di Depok
  3. Rumah Nila di Matraman
  4. kantor di Dukuh Atas
  5. Metul di Serpong
  6. Icha di Cipulir
  7. Okta di Cipulir
  8. Agen bis Raya di Cisalak
  9. Mba Ranti di Meruya
  10. Mas Sigit di Kopeng

 

Nomer 9 dan 10 itu karena nomernya cantik banget, siapapun juga pasti bisa hapal.

 

Hmmm... Dari sepuluh itu, kl kesempatan nelp nya cuma satu kali...siapa dunk ya? Sulit menentukannya... Ya pokoknya dari sepuluh org di atas siap2 kutelp di saat darurat yaaa... Serius ni!

Talak satu

  

Diam kita sarat prasangka. Kata kita senantiasa beda makna. Itikad kita tidak pula sama. Hak dan kewajiban entah kemana. Kesetaraan hanyalah asa. Bertepukkan sebelah tanganlah yang terasa.

Kini kuucapkan ini:

Teman,  mari kita lepas ikatan ini. Perlahan. Jangan sampai putus tali itu. Kelak (mungkin) kita ikat kembali.