Wednesday, December 19, 2007

Ini (kah) Ujungku

Ku telah melihat hingga mataku tak mampu lagi
Ku telah merasa hingga hanya kebas yang tersisa
Ku telah bersuara hingga bisik lirih yang kupunya
Ku telah berkelana hingga menopang tubuhku pun tak bisa

Ku rasa
Ku telah lalui semua

Kini
Utuslah pesuruh-Mu tuk menjemputku
Aku ingin pulang





Kendi

Awalnya adalah sebuah lagu. Lagu yang bahkan tak kumengerti kata-katanya. Apalagi maknanya. Tapi aku menyukainya. Kita menyukainya. Artinya tidak bagus. Begitu katamu. Tapi kita tetap menyukainya.
Dan hingga kini pun ku tetap tak mengerti makna lagu itu. Tapi aku menjadi sedikit mengerti kamu. Kau adalah mata air. Dan aku adalah kendi yang siap menampung airmu.
Kucurkanlah airmu padaku, teman. Sedikit demi sedikit. Ku tak ingin airmu tumpah setetespun. Ku tak rela mata airmu berubah menjadi air mata.

Monday, December 17, 2007

Warna Diri Kita


Per Miya’s request. Kumintain versi bahasa Indonesianya ke Departemen Training ni Mi'... =)

 

Di gambar bisa dilihat pembagian diri manusia menjadi 4 warna. Dalam diri kita ada masing2 warna, tapi pasti ada yang lebih dominan.

 

Berikut adalah cara mengenali warna kita. Kerjakan secara berurutan. Selesaikan satu petunjuk baru lanjutkan ke petunjuk berikutnya.

  1. Print gambar itu, sediakan alat tulis.
  2. Coret 4 sifat yang tidak sesuai dengan diri kita di masing2 warna
  3. Coret 4 sifat lagi dari seluruh warna yang tidak sesuai
  4. Coret 4 sifat lagi dari seluruh warna yang tidak sesuai (aku tau bahwa ini sangat sulit untuk dilakukan...)
  5. Sekali lagi, coret 4 sifat lagi dari seluruh warna yang tidak sesuai (aku tau ini lebih sulit lagi..)
  6. Coba hitung yang belum tercoret, harus tersisa 4 sifat
  7. Dari masing-masing warna pilih 1 sifat yang sangat tidak sesuai
  8. Dari 4 sifat yang sangat tidak sesuai di poin 7, pilih satu yang paling sangat tidak sesuai

 

Warna kita adalah:

  1. Warna dimana jumlah sifat yang tidak tercoret lebih banyak berada, atau
  2. Warna yang berseberangan dengan poin nomer 8

Semoga tidak membingungkan...

Pengenalan warna ini berguna untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih efektif. Misalkan kita berhubungan dengan org Biru, maka kita harus menyediakan detail, fakta untuk meyakinkannya. Sebaliknya, dengan orang Kuning janganlah menyinggung2 detail, kl lapor sesuatu cukup bilang "Semuanya oke".

Metode sederhana untuk mengenali warna orang lain adalah dengan sedikit lebih memperhatikan responnya. Misalkan atas pernyataan: Dah denger tentang banjir di Jakut kemaren blum?

Respon si Merah: Iya... kasian banget ga si? Banyak anak kecil pula.. (empatilah yang ditunjukkannya pertama)

Respon si Hijau: Sudah bisa diduga si.. Kan daerah sana itu kondisi tanahnya, trus....dst..dst...

Respon si Biru: Itu seharusnya ga terjadi kalau infrastrukturnya bener. Liat aja bla..bla..bla.. (dia akan mulai menganalisa knp itu terjadi)

(Hijau dan biru agak2 mirip, cuma kl Hijau lebih tersistematis gitu...)

Respon si Kuning: Yaaa...itu dah kehendak Tuhan...mau diapain lagi?

Sow, kenalilah warna diri kita dan orang di sekeliling kita...

Semoga bermanfaat...

Narasumber: Maraden Media Butar-butar

Criminal Cats Community






Anak2 kosanku punya kaos baru... Baru dateng langsung deh kita poto2... Cuma krn itu fotonya malem2, jd banyak foto yang tak layak upload.. Termasuk diriku.. =(

Pengen Nonton Bola

Salah satu keinginanku dari dulu yg belum terpenuhi adalah NONTON SEPAK BOLA LOKAL LIVE di stadion, nonton Persija lawan mana ajalah. Kalau bisa lawan Persib (hohoho..). Ku pengen merasakan serunya teriak2, keringetan, lompat2, memacu adrenalin. Mumpung belom punya anak ni...

Tapi, ketika kuutarakan keinginan ini ke beberapa teman dengan harapan mereka mau menemani, respon nya adalah:

1. Serem ah Ta..

2. Kamu ada2 aja si? Ngoyo woro itu...

3. Lo mau pulangnya mampir rumah sakit dulu?

4. Inget Ta..badan lo segitu..ancur lo di sana..

5. Halagh... Gua ogah kena siram air kencing. Norak tau mereka itu. (2 org yg berkomentar begini, dan dua2nya lelaki)

Emang seserem itu ya?

Friday, December 14, 2007

Aku Merah!

Ned Herrmann mengkategorikan karakter manusia dalam 4 warna: Merah, kuning, biru dan hijau. Merah adalah feeling self, kuning artinya experimental self, hijau itu safekeeping self dan biru adalah rational self. Dan setelah diperiksa, warnaku adalah merah.

 

Inilah ciri dari warna merah:

  1. Sensitif terhadap orang; am i?
  2. Suka mengajar; nah, kl ini ku agak yakin ku tidak. Waktu itu ku ngasih training, trus salah satu peserta trainingnya berdiri untuk buat kopi sambil berkata ”Duh, kaya didongengin saya..jd ngantuk...” Hwuaaaa...kejaaaa...mmm!
  3. Suka menyentuh; hehehe... kl ini mungkin iya..ku suka memeluk dan dipeluk, ku suka mencium dan dicium. Kusuka sensasi yang timbul di kulit, termasuk gigitan dan pukulan. Adekku, sempet melewati tahap suka gigit kalo lg gregetan atau gemes. Dan aku suka ketika dia gigitin lengenku. Trus okta temenku, kl lg kesel suka mukul tembok. Kubilang, ”Mau pukul aku aja ga?”. Dia bertanya balik, ”Boleh? Gapapa?”. Kubilang kl aku suka rasanya dipukul. Maka bersimbiosis mutualisme lah kita: dia bisa melepaskan kesalnya, aku mendapatkan sensasi rasa yg tak didapat dr hal lain. Owya ku juga menikmati ketika di kereta atau lift org menginjak kakiku =)
  4. Sangat menolong; hmmm.... pas aku SMP kelas 1, ku mengalami kejadian yang dapat menjadikanku memiliki sifat sangat menolong ini.  Waktu itu, pagi2 pas ku berangkat sekolah. Di sebelah sekolah ku ketemu anak kecil, cowok, umurnya sekitar 4 tahunan. Waktu itu jam 6 lewat dikitlah, masih sepi. Pas papasan, anak itu nanya ke aku, ”Mama mana?”. Aku bingung kan? Jd ku cuma diem. Trus dia nanya lagi, ”Papa mana?”. Ku dengan tergagap menjawab, ”ga tau...”. Dan ku meneruskan jalan ke sekolah. Ya, aku meninggalkan anak itu sendirian. Waktu itu yg kupikirkan adalah: aku ga tau daerah sini. Sebagai informasi, rumahku adalah di Kopeng (di lereng gunung Merbabu gitu..), SMP ku di Salatiga. Waktu itu adalah awal2 ku turun gunung untuk sekolah. Rute yang kutahu hanyalah dari rumah ke sekolah. Jadi aku berpikir tak akan bisa bantu dia nyari papa mamanya. Aku lupa bahwa dia adalah anak kecil. Ku sama sekali tak berpikir bahwa dia adalah anak yang tersesat atau terpisah dari orang tuanya. Bahwa walau aku buta daerah situ, paling ga ku bisa bawa ke sekolah trus minta bantuan satpam atau guru atau temenku. Pikiran itu baru muncul setelah sore harinya. Dan aku langsung dilanda penyesalan yang sangat. Ku kepikiran banget gimana nasib anak itu. Dia bisa ketemu sama mama papanya atau ga. Dan sampe sekarang ku masih berharap ku diberi kesempatan kedua untuk hal tersebut, krn ku tahu ku tak mungkin mengulang kejadian itu.
  5. Ekspresif; banyak yang bilang begitu. Eh kalo teriak pas kaget itu termasuk ekspresif ga?
  6. Emosional; ya itulah diriku. Salah satu doa yang diucapkan temanku pas ku ulang tahun adalah: semoga cepet lulus manajeman emosi yak! ku ga cuma gampang marah, gampang ngambek, tp juga gampang nangis, gampang (banget) dibuat seneng..=) 
  7. Banyak bicara; iyaaaa...aku suka cerita! Bahkan Nila pernah bilang kl dia kangen ma kebawelanku. Hehehe... Bisa dibilang ku tak punya rahasia yang kusimpan sendiri, karena ku ga pernah tahan untuk ga cerita. Lagian memori otakku kan kaput, jd kl ga kucritain tar kulupa... =)Makanya pas kubagiin ABC of friendship ke temen2, pas mereka bagian baca huruf Z, zip ur mouth when told a secret, temen2ku pada memandang ku sambil mengerutkan dahi gitu.. Pada ga percaya gitu.. Kata salah satu dr mereka, ”kl Tata tau mah... se UI juga pasti tau...”. Sial..

 

Yak karena dari 7 sifat itu 4 di antaranya aku mengakuinya maka warnaku adalah merah. Dan merah itu berseberangan dengan biru.

Adakah yg berwarna biru? =)

Thursday, December 13, 2007

KALIS (2)

Kalis. Bagai air dan minyak. Tak akan menyatu. [Tapi] itu dulu. Sebelum kutahu empedu bisa melarutkan lemak yang kumakan. Ya, empedu yang katanya pahit itu mampu memecah lemak di saluran cernaku. Sebelum kutahu minyak ikan bisa menjadi sirup yang manis. Betul, minyak ikan yang tak sedap bau dan rasanya itu ternyata bisa berasa jeruk berkat sesuatu bernama surfaktan.

Kulihat celah untuk kita. Kita bisa lenyapkan kekalisan kita. Pertanyaannya sekarang: adakah empedu bagi kita? Dapatkah kita menemukan surfaktan?