Anak saya (Steven Fanggian, siswa 7C) di Stella Maris International Gading Serpong, Tangerang, Banten, ingin menanyakan kepada pihak berwenang dalam penyelenggaraan pendidikan internasional tentang kewajiban siswa untuk mengikuti olahraga taekwondo. Selama ini saya tidak puas atas jawaban dari pihak sekolah yang cenderung bergaya komunikasi satu arah.
TIdak ada kepastian maupun arah yang jelas. Akhirnya siswa yang menjadi korban ketidakpastian. Saya tidak mengerti, mengapa taekwondo menjadi keharusan? Jika bahasa Inggris atau bahasa Indonesia merupakan keharusan dapat diterima. Saya pernah menerima penjelasan bahwa taekwondo untuk memupuk jiwa sportif dan ksatria. Saya setuju, tetapi bukankah olahraga lain juga demikian?
Kewajiban yang diterapkan itu, apakah karena principal secondary adalah seorang guru taekwondo? Lantas, apakah nanti bila berganti, jenis pelajaran wajib juga ikut berganti? Sebagai olahraga wajib tentu memberatkan siswa yang kurang berbakat di bidang ini sehingga sebagian dari mereka terpaksa harus dengan rasa pahit menerima nilai rapor merah untuk bidang olahraga yang bukan pilihannya.
Ada beberapa siswi teman anak saya yang begitu feminin sehingga nilainya merah, bahkan ada juga siswa yang dapat nilai 42. Bukankah ragam olahraga sangat banyak, mengapa harus direduksi sehingga seolah-olah yang layak masuk rapor hanya taekwondo? Meski bulutangkis menjadi kebanggaan kita, tetapi tetap menjadi salah satu dari sekian banyak cabang olahraga lain. TIdak pernah pemerintah memaksa siswa harus menguasai cabang kebanggan kita itu.
ANAH SRI WAHYUNI
Vila Melati Mas SR, Serpong, Tangerang
Surat Pembaca KOMPAS hari Sabtu, 21 Maret 2009
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Responku:
1. refleks: Untung aku ga sekolah di sana.... Hohoho...Piss!!
Dulu jaman SD pernah diikutkan karate. Tidak berbakat, hanya menghasilkan lebam saja. Trus dalam daftar riwayat raporku dari SD sampe SMU, nilai olahragaku stabil: 7 (nilai kasihan tuh...). Sekali dapat 9 pas kelas 1 SMU, karena gurunya maniak lari. Nilai yang dihitung cuma lari marathon saja. Dan itu adalah keahlianku. Suruh lari keliling kota (Salatiga) aku juga mau...Hohoho....
2. Pengen konfirmasi ke ibu Anah: jadi di rapor ditulisnya beginikah:
Matematika: 9
IPA: 9
Bahasa Inggris: 9
..............
.................
Taekwondo: 9
.....................
Kalau memang begitu, itu mah keterlaluan dan layak untuk diperkarakan....
3. Membayangkan kalo seorang kenalanku di MP yang doyan capoeira jadi principal di sekolah itu, maka capoeira menjadi pelajaran wajib. Ku mau sekolah lagiiiii.... Hohoho...
4. Pada prinsipnya aku sepaham dengan ibu Anah dan bertanya2 juga. Jadi ga sabar baca balasan surat dari pihak sekolahnya!
Bagaimana pendapat teman2?