Monday, April 6, 2009

Ada Yang Berang dengan Iklan versi Obama

Surat pembaca KOMPAS hari ini

 

 

 

Iklan dengan Figur Obama

 

 

Akhir2 ini di televisi disiarkan beberapa iklan dengan menggunakan figure Barack Obama, sungguh suatu sikap pelecehan terhadap kepala Negara pemerintahan Negara lain. Mengapa tidak ada upaya dari badan sensor untuk melarang penayangan iklan semacam itu?

 

Apakah kita bisa menerima apabila figur pemimpin kita dipergunakan sebagai bintang atau figuran di negara lain? Pembuatan serta penayangan iklan tersebut sangat merendahkan martabat kita jika kita masih terus membiarkan penayangan maupun terus menggunakan figur pemimpin negara lain dalam iklan komersial produk.

 

Apakah perusahaan penghasil produk tersebut, dan perusahaan iklannya sudah kehabisan ide murni untuk membuat iklan yang lebih bermartabat?

 

Yanto Lucas

Bona Indah, Lebak Bulus, Jakarta

 

 

Kalau Pak Lucas mencantumkan alamat lengkapnya, maka aku akan mengirimkan surat berikut:

 

 

 

Dear Bapak Lucas,

Awalnya saya juga terganggu dengan iklan2 tersebut dan berkomentar, ”Apaan si ini?”. Tapi lama-lama menjadi biasa saja dan bahkan agak suka dengan salah satu iklannya yang lucu. Kalau Bapak memikirkan soal martabat dan pelecehan, saya berpikir soal royalti yang bisa Obama raup jika dia mau ^o^

 

Soal concern Bapak tentang kemungkinan akan ada aksi ’balas dendam’ dari negara lain dengan mencatut figur pemimpin kita sebagai bintang iklannya, janganlah terlalu dipikirkan Pak. Sosok pemimpin kita belum semenjual itu ko...

 

Mari kita nikmati saja iklan yang ada, tanpa harus merasa emosi jiwa.

 

Cheers,

TaTa

 

 

 

 ko aku ga kepikiran untuk ngirim surat pembaca yak?

Gara2 FB Ku Jadi (musti) Mikir...

Ternyata fb ada gunanya juga…

 

 

Pagi ini buka email ada pemberitahuan bahwa ada yg nge-tag foto untuk aku. Langsung ku cek fb untuk menghindari tercemarnya imageku ^o^

 

Ternyata foto ini yg muncul

 

 

Reaksi pertamaku adalah ”Kangeeeennn...dah lama nggak ngumpul2 begitu.. tu foto tahun 2006. TIGA TAHUN lalu!”. Habis itu kuliatin lagi foto2 itu sambil otakku me-refresh data tentang mereka. Dan tiba2 aku ingin terpuruk dalam ketidakjelasan tujuan hidup.

 

 

Paling depan, Miya. Dia suka menulis, dan buku yang dipegang dia adalah novel pertamanya (waktu itu kita ngumpul itu emang untuk membahas strategi launching novel-nya Miya itu). Passion dia ada di nulis. Semalam pun dia nelpon untuk minta pertimbangan soal bahan buat mulai nulis novel lagi.

 

 

Di sebelah kirinya, Nadia. Selain berotak wow, suaranya juga wow. Keren deh... Sukses juga sebagai pengusaha apotik.

 

 

Sebelah kanan Nadia, Winda. Yah pasti semua anak kecil kenal dengan Ka Winda ini. Dan semua penggemar sitkom OB, pasti ngeh banget dengan si Sasha ini. Walaupun ga terdengar wow, tapi tahun 2008 kemarin lumayanlah buat dia: menang sesuatu di Singapura untuk nyanyinya dan pemeran pembantu terbaik di FFB untuk Sasha-nya. Dia menemukan passion di nyanyi dan akting.

 

 

Yang di sebelahku, Alma. Suaranya keren juga. Kalau ada acara2 kampus biasanya Nadia lead vocal trus Alma main keyboard sambil nyanyi suara 2-nya. Bikin merindiiiiinnggg... Dan sekarang dia menemukan passion di fotografi dan desain2 gitu.

 

 

Nah, bagaimana dengan Tata? Tujuan hidup dah lumayan kususun si, mendingan lah dibandingkan waktu itu. Cuma aku belum menemukan sesuatu yg kulakukan dengan sangat passionate. Nulis novel atau buku? liar di imajinasi mentok dikapitalisasi. Sukanya ngritik dan nyoret2 doank. Nyanyi? Nggak banget, ngomong aja nadanya goyang terus. Gambar? Enggak. Masak? Blas ga bisa.

 

Hal yang kusuka banget banget banget adalah tidur. Doyaaaaaaaannnn banget! Hal lain yang mungkin awalnya kulakukan dengan passionate, seringnya kalah ama kasur. Hiks...hiks...

 

Aku harus semangat! Aku bangga bertemankan mereka. Mereka juga harus bangga bertemankan aku kan? Aku harus berbuat sesuatu yang bisa dibanggakan! (selain aku sudah lapor pajak... hehehe...)

 

Cari tes passion diri aaaahhhh....

 

Mas Kawin_Baiknya Apa Yah...

 

 

Pagi ini nonton gossip ada Nirina yang dinikahi si Ernest dengan mas kawin seperangkat alat, sholat, duit 549 ribu dan laptop. Ketika ditanya apa alasannya, jawabnya 549 itu tanggal pernikahannya, 5 April 2009, dan laptop karena si Nirina lagi butuh. Soal seperangkat alat sholatnya, ga dijelaskan. Si presenter menarasikan bahwa laptop sebagai mas kawin adalah sangat unik dan mungkin satu2nya.

 

 

Eitss.. Jangan salah... Di suatu training ku pernah kenalan sama seorang ibu2 yang pas nikahnya dikasih mas kawin berupa seperangkat komputer. Kata suaminya, ”Kuberikan dunia kepadamu”. Jadi critanya dengan fasilitas internet yang diberikan sang istri jadi bisa mengetahui segala sesuatunya dunia, seolah memilikinya.

 

 

Jadi, konsep mas kawin itu apa yah? Apakah tanda cinta? Atau buat so sweet-so sweet_an? Atau tanda jadi? Atau ngasih sesuatu yang lagi dibutuhkan?

 

 

Pasti aku akan menemukan jawaban kalau aku mengikuti pelajaran agama bab pernikahan dengan baik. Tapi sepertinya waktu itu ku tidur atau ngobrol. Ku hanya denger satu cerita tentang Nabi yang menyuruh salah seorang untuk nikah. Berikut critanya. Dalam verti Tata tentu saja. Hohoho...

 

Waktu itu ada cowok yang ama Nabi udah waktunya nikah. Trus Nabi bilang, ”Eh kamu... Nikahlah... Ngapain si ditunda2..?”

Dia: Saya kan ga punya apa2, Nabi... Mau nikah gimana...?

Nabi: Eitss..rejeki itu udah diatur.. Sekarang kamu boleh ga punya apa2, tapi siapa yg bisa jamin tar kl udah nikah km tetep ga punya apa2....?

Dia: Ya tapi beneran Nabi... Saya ga punya apa2... Buat mas kawin aja saya ga mampu... Gimana bisa nikah coba...? Kalo ga pake mas kawin, ga sah kan?

Nabi: Beneran km ga punya apapun?

Dia: Serius! Mau diaudit juga silakan...

Nabi: Lha? Kamu kan punya baju perang... Itu kan berharga, jadikan itu sebagai mas kawinnya. Cepetan nikah. Ga usah banyak alesan!

 

 

Begitulah, maka menikahlah cowok itu dengan mas kawin baju perang.

 

 

Hal yang bisa kuambil dari crrita itu adalah:

  1. Mas kawin itu adalah barang berharga
  2. Mas kawin berupa seperangkat alat sholat itu tidak direkomendasikan. Ya nggak? Kalau recommended, tentunya waktu itu Nabi akan bilang, ”Kasih aja mukena buat mas kawin, baju perangnya km jual buat pesta2...”. Ya nggak?

 

Nah, barang yg berharga berapa atau bagaimanakah yang layak untuk jadi mas kawin? Aku mencoba berpikir dan mendapatkan suatu pemikiran begini:

 

Kan kalau habis akad nikah itu, sang suami mengucapkan janji2. Salah satunya bahwa jika dia selama 3 bulan berturut2 tidak memberi nafkah lahir batin kepada istri, dan sang istri tidak ridho dan mengajukan talak, maka dia akan terima (tidak akan menghalang2i). Nah, batas tidak dinafkahi adalah 3 bulan. Sedangkan selama 3 bulan itu kan istri tetep harus makan dan jalan2. Jadi, mas kawin itu harus bisa menutupi kebutuhan istri dan keluarga selama 3 bulan, seandainya sang suami tidak menafkahi. Praktiknya: kalau suami kabur dan ga kasih duit, kita bisa jual mas kawin yang dulu dikasih buat makan.

 

 

Jadi, mas kawin harus:

-         bisa disimpan, tidak mudah rusak oleh pergantian cuaca dan kelembaban

-         cukup untuk makan 3 bulan, di kapan saja, entah saat ini atau sepuluh tahun lagi

-         tidak mengalami penyusutan nilai dari masa ke masa, kalau bisa meningkat

 

 

Nah, jadi

-         apakah seperangkat alat sholat memenuhi 3 syarat itu? Kupikir tidak...kecuali mungkin jika dibuat dari sutra india dan disulam emas. Trus yakin ada yg mau beli.

-         laptop atau komputer yang menjadi simbol penyerahan dunia? Ga juga kan? Karena laptop bekas kalo dijual harganya juga ga melejit to?

-         rumah? Tidak kusarankan, karena nilai property bisa turun juga kan ternyata.

-         Mobil? Seiring waktu selain modelnya akan menjadi jadul, nilai jualnya pun menyusut. Kecuali bisa menjadikan itu mobil jadi antik dan dicari2.

-         Tanah? Kan konon harga tanah naiiiiiiikkkk teruuuus.... Bisa saja sih dijadiin mas kawin, asal bukan tanah dalam sengketa atau beresiko besar untuk digusur dijadiin jalan tol.

-         Emas? Nah...ini yang paling recommended. Setau aku harganya makin naik, jarang turunnya. Cuma kalau bisa jangan dalam bentuk perhiasan, karena beresiko untuk dijambret. Jadi berbentuk batangan saja, trus simpan baik2 di safety box. Dikeluarkan jika diperlukan saja.

 

 

Ada yang punya ide lagi?

 

 

 Tiba2 kepikiran:

Kalau rumah makan kan rumah (untuk) makan.

Rumah sakit = rumah (untuk orang yang) sakit

Uang muka = uang (yang dibayar di) muka

Buku tulis = buku (untuk) tulis

Polisi tidur = polisi (yang kayak lagi) tidur

Tempat sampah = tempat (untuk) sampah

 

Kalo mas kawin?

Yang punya KBBI tolong dibuka yah... Atau kalo ada yg kenal sama penterjemahnya, tolong ditanyain kenapa mahar diartiinnya jadi mas kawin...

 

 

 

Thursday, April 2, 2009

Aku Deg2an!

Aku yang sudra ini harus berdiskusi dengan para brahmana. 1 sudra vs 4 brahmana.

 

Sebenernya aku yang berkuasa, karena mereka punya utang untuk mekukan sesuatu. Waktu itu brahmana yang berjanji bilang iya-iya ajah. Ternyata tidak semudah itu. Harus melibatkan brahmana2 lainnya. Dan ternyata para brahmana lokal bingung juga gimana caranya.

 

Kudiemin aja tuh selama mereka bingung... Aku kan ga enak membuat org bingung makin tertekan... Kasian mereka, masa brahmana ditekan dan ditagih2 sama sudra...? ^o^

 

Nah, hari ini aku diundang oleh para brahmana lokal untuk diskusi tatap muka dengan mereka plus brahmana import (selama ini via e-mail dan telepon, jadi aku berani..hihihi..). Sekarang aku diminta datang ke markas mereka.

 

Aku deg2aaaaaannnn... Takutnya tar aku diperdaya gitu... Dan bisa saja aku disekap dan dipaksa sepakat dengan kemauan mereka, baru dilepas pulang setelah aku menandatangani perjanjian yg mereka buat. Hwuaaaaa.....

 

Apalagi sama si brahmana import, kl tar dia pake kalimat sejenis 'not a little pretty', gimana dunk?

 

Ganbatte! 

Facebook…facebook…

 

 

Walau aku bukan penggemarnya (atau belum yah?) , aku dibuat kagum olehnya.

 

Kagum 1

Kemarin baca berita di KOMPAS tentang update pembunuhan Ellen. Diberitakan bahwa tersangka pembunuhnya sudah teridentifikasi. Polisi menemukan dia setelah membuka account Facebook Ellen, dan kemudian mencocokkan wajah2 yang dilihat di rekaman CCTV Pacific Place hari itu. Facebook berjasa dalam menemukan tersangka pembunuhan!

 

 

Kagum 2

Semalem ku kangen wajah Christian, jadi ku nyalain TV buat nengok Alissa. Pas ada adegan Alissa dapat surat ancaman beserta boneka masa kecilnya. Bunyi surat ancamannya, ”masih suka dengan boneka ini?”. Trus mereka berpikir bahwa pelaku ancaman itu adalah teman masa kecil Alissa. Maka, Tian usul untuk mencari tau lewat Facebook. Dan kemudian nampak di layar TV halaman Facebook dengan sejumlah wajah yang critanya hasil pencarian teman2 SD Alissa. Mengagumkan! Belum pernah kulihat sebelumnya ada situs jejaring sosial masuk sinetron!

 

 

Nengokin facebook-ku aaaahhh... :))

 

Un-erase-able messages

 

SMS yang tidak boleh dihapus, itu maksudnya ^o^ Istilah itu muncul dari seorang sahabatku jaman kuliah dulu. Waktu itu HP dia hanya mampu menampung 20 SMS. Tapi aku tiap kali SMS dia,  selalu mengalami kesulitan masuk ke HPnya. Yang sering terjadi adalah dialog template:

 

Tata: Kamu ko ga bales SMSku siiii??

Dia: SMS yg mana? Ga ada SMS dari lo...

Tata: Adaaaaa... Aku kirim tadiiii....

Dia: Ga ada Tata...

Tata: Coba cek dulu!

 

Kemudian dia mengecek HP nya dan di layar ada tulisan: Inbox penuh. Apusin dunk SMS-nya, biar yg mau masuk berhasil!

Ya kurang lebih begitu bunyi kalimatnya.

 

 

Kejadian begitu seriiiiiiing banget terjadi. Dan pas kupertanyakan kenapa begitu, dia akhirnya menjelaskan bahwa kapasitas asli HP dia adalah 1 SMS baru, karena 19 tempat lainnya telah ditempati oleh SMS-SMS yang tak mungkin dihapusnya.

 

Dia: Unerasable messages gitu deh Ta...

Tata: Haaa?? Mang SMS dari siapa? Isinya apaan?

Dia: Ada deh... (sambil cengengesan)

Tata: Yaelah... Mantan kamu yah?

Dia: Hehehe... (tetep cengengesan)

Tata: Ya ampun ya ampun... Kamu jenis manusia yang membutuhkan media untuk mengenang cinta seorang gadis yah? Dan media itu berwujud SMS? Tak disangka2...badan sok perwira tapi hati picisan gitu...

Dia: Yaaaa... Ta... Gue kan jarang2 dapet SMS kayak gitu...

 

 

Tapi aku mengerti juga si... Bahwa mungkin kalo dia lagi kangen atau haus cinta, tinggal baca lagi SMS dari mantan gadisnya itu... ^o^ Aku hanya bisa berdoa semoga dia segera mendapat gadis baru agar inboxnya kosong dan SMSku lancar. Dan ternyata ketika dia bergadis lagi, bukan hanya inboxnya yang dibersihkan, tapi dia berganti nomor! Re-born gitu deh maksudnya...

 

 

Nah... Inilah yang kuhadapi sekarang. Dengan berakhirnya kisah kasihku dengan kekasihku, maka kurasa aku perlu membersihkan inbox-ku, biar aku tak berlarut2 dalam keterpurukan (aih...aih...).

 

Masalahnya adalah SMS yang kumasukkan kategori un-erase-able itu banyaaaaaaak buanget. Tiap SMS yang berkesan, yang menandai momen tertentu aku keep,. Waktu itu pertimbanganku adalah 1) aku kan pelupa...takutnya suatu hari nanti aku  akan lupa akan apa2 aja yang udah pernah kita lalui; 2) untuk bahan mengenang bersama-sama di saat kita tua. Haiyaaaahhh...

 

 

Kemarin coba untuk ngapus. Tapi baru baca nama dia di HP udah terasa pyass di dada. Mau ngapus kan mau ga mau buka dulu SMS-nya, kebaca dunk apa isinya...ga cuma pyass efeknya...mata mulai perih... Hwuaaaa... Aku ga sanggup untuk baca lagiiiii....

 

 

Mau apus tanpa baca, bisa si... Tapi dengan cara itu maka semua yang ada di inbox keapuuuuussss! Sedangkan yang masuk kategori un-erase-able message kan bukan cuma dari diaaaaaa...

 

 

Ku jadi berpikir: tau gitu kemarin sebelum tutup buku, kusuruh dia apusin semua SMS yang pernah dia kirim! Jadi tidak menyusahkan aku begini... Selain itu, siapa tau dengan dia membaca lagi apa saja yang pernah dia katakan, dia lakukan dan dia gombalkan, trus dia akan menyadari kisah dan cinta seperti apa yang pernah kita punya, trus dia mau balik lagiiiii....

 

 

**Ngareup... Hohoho...**

 

Wednesday, April 1, 2009

[Aku Bersyukur] Namaku Bukan Natalia

 

 

Bapakku adalah orang gunung, ibuku orang kampung. Dua-duanya sejak kecil sudah memiliki pemikiran akan nama anak mereka suatu saat nanti. Walaupun berbeda, tapi mereka memiliki kesamaan, bahwa mereka mau anak mereka bernama lebih panjang dari nama mereka yang cuma satu kata. Dan akhirnya ketika mereka menikah datanglah saat yang telah dinanti-nanti itu: merumuskan nama.

 

 

Dikarenakan lokasi tempat tinggal yang jauh dari ibukota, baik ibukota kecamatan apalagi ibukota provinsi, maka referensi mereka soal nama tidaklah banyak. Buku-buku nama untuk bayi tidak tersedia, apalagi akses internet. Bahkan primbon nama-nama Jawa pun mereka tidak punya. Hanya bermodalkan keinginan sejak kecil mereka berembug untuk menamai jabang bayi.

 

 

Pedoman pertama mereka adalah ingin memberi nama anak yang tidak setipe dengan nama anak-anak sekitar. Jadi mereka menghindari nama-nama seperti Daryanti, Suryani, Maryoto, Supriyanto, dan nama-nama sejenis itu.

 

 

Pedoman kedua adalah berpola sama untuk tiap anak, karena mereka berencana untuk tidak hanya memiliki satu anak. Namun, mereka juga tidak mau menggunakan pola sama seperti pola-pola yang sudah ada sebagai pedoman ketiga.

 

 

Maka, sejak aku masih di dalam perut, bapak dan ibuku mulai memperhatikan nama-nama orang yang mereka kenal. Sambil memperhatikan mereka membuat catatan nama-nama dan pola-pola yang harus dihindari. Catatan tersebut seperti ini:

 

  1. Jangan gunakan pola nama hari: Soma, Anggara, Respati. Sudah dipakai oleh keluarga Pak Hari di dukuh Tanggulangin
  2. Jangan gunakan pola nama bulan: Sawal, Sapar, Romadon. Sudah dipakai oleh keluarga Budhe Wulan di dukuh Jetis.
  3. Jangan gunakan pola urutan angka: Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca. Sudah umum digunakan.
  4. Jangan gunakan nama bunga: Asalia, Melati, Kenanga. Susah kalau anaknya lelaki.
  5. Jangan gunakan kata-kata yang sudah lazim: Bagus, Ayu, Jaka, Putri, Bambang

 

Selain catatan tersebut, Bapakku juga menghindari nama-nama yang kearab-araban (Fatimah, Ali, Akhmad, Annisa), demi menghargai ibuku yang merupakan new comer di belantika Islam. Dan tentu saja ibuku tidak akan menggunakan nama-nama seperti Fransiska, Claudia, Peter, atau Lukas yang mencomot dari kitab suci terdahulunya ^o^

 

 

Namun demikian, entah bagaimana bapakku terpengaruh oleh nama-nama (yang sebenarnya religius) yang dimiliki oleh ipar-iparnya: Emilia dan Agustinus. Dia melihat suatu pola di sana: Emilia lahir di bulan Mei dan Agustinus lahir di bulan Agustus. Bapakku melihatnya sebagai pola yang menarik. Januarita atau Yanuar untuk Januari, Febrian atau Febriani untuk Februari, dst. Maka ditetapkanlah bahwa kata pertama untuk anak-anaknya adalah kata yang merujuk pada bulan kelahiran.

 

Kemudian, sesuai dengan spirit lebih dari satu kata maka dibuat rumusan berikutnya. Kata kedua adalah kata yang merupakan keterangan tentang si anak. Kemudian diikuti oleh kata ’Surya’ yang merupakan nama dia. Awalnya Bapakku merasa 3 kata itu sudah cukup:

 

Bulan kelahiran + keterangan si anak + Surya

 

Tapi setelah membuat beberapa simulasi terasa menggantung dibacanya. Maka ibuku usul untuk menambah satu kata lagi di belakang Surya, diawali dengan inisial namanya ’An’-. Selain untuk menggenapi kata ’Surya’ yang mengambang juga sebagai simbol penyatuan mereka dalam diri anak.

 

Jadi rumusnya menjadi:

 

Bulan kelahiran + keterangan si anak + Surya + An-

 

Bapak dan ibuku tersenyum senang dan bangga akan rumus pola pemberian nama anak yang baru dibuat.

 

Menurut prediksi bidan (waktu itu tidak ada dokter di kampungku), aku akan dilahirkan pada bulan Desember. Dan walaupun belum ada USG, tapi ibuku memiliki perasaan yang kuat bahwa anak yang sedang dikandungnya adalah perempuan. Maka, dimulailah perumusan nama untuk anak pertamanya.

 

 

Kata pertama: bulan kelahiran, Desember. Jreng.. Agak bingung pada awalnya. Agak bingung juga menjadikan kata ’desember’ menjadi nama anak perempuan. ’Desemberia’ terasa janggal, Desi kurang menunjukkan ke desember. Tapi ketika ibuku berkata, ”Kalau lahirnya pas Natal, seru juga yah... Pas semuanya lagi ngumpul”, Bapakku langsung mendapat ilham. Desember kan bulannya Natal, maka nama yang cocok untuk anak perempuan yang lahir di bulan Desember adalah NATALIA. Tidak ada yang lebih representatif dan lebih pas lagi. Maka ditetapkan bakal namaku adalah NATALIA. Ibuku begitu senangnya hingga sudah menetapkan nama panggilannya, LIA.

 

 

Selanjutnya menentukan kata kedua: keterangan mengenai si anak, si Lia. Bapakku memilih kata ”Dyah” dengan alasan yang sederhana, ”Karena dia seorang putri”. Ibuku setuju. Dan untuk kata terakhir ibuku mengusulkan ”Andari”, merujuk pada istilah ”rembulan ndadari” untuk menyebut munculnya bulan. Jadi karena aku adalah anak pertama, maka aku ibaratnya matahari yang baru muncul bagi mereka berdua, Surya Andari. Bapakku langsung sepakat.

 

 

Jadi bakal namaku adalah Natalia Dyah Surya Andari, seorang putri yang lahir di bulan Desember bak matahari yang mulai menyinari keluarga. Keren ga si?

 

 

Sesaat mereka puas. Tapi setelah mencoba melafalkannya, terasa kurang mengalir, terpatah-patah. Bapakku mencoba memenggal di beberapa tempat, tapi tidak ada yang terasa sangat pas. Akhirnya dia mencoba menyelipkan satu kata lagi, dan dia sangat puas dengan hasilnya. Dia berkata, ”Kita tambahkan kata Utami untuk menunjukkan bahwa dia anak nomer satu, anak yang utama”. Maka rancangan akhir namaku adalah Natalia Dyah Utami Surya Andari. Cara membacanya adalah: Natalia Dyah Utami, koma, Surya Andari.

 

 

Entah karena ingin mengisengi orang tuaku atau karena tidak betah berada di dalam perut, aku lahir lebih cepat dari prediksi. Tengah bulan November aku mulai menghirup udara dengan hidungku. Bapak ibuku bahagia bercampur kaget dan sedikit khawatir. Tapi kekhawatiran langsung lenyap karena aku dinyatakan sehat dan baik-baik saja. Setelah lega sebentar, kedua orang tuaku langsung bingung karena berarti rancangan nama yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari menjadi tidak sesuai lagi. Tapi kebingungan itu juga cuma sesaat, ”Ya tinggal kita ganti Natalia dengan Novita saja...

 

 

Maka resmilah namaku Novita Dyah Utami Surya Andari.

 

Nama panggilan ditetapkan 'Vita', yang artinya ’hidup’. Namun berkembang menjadi ”Tata”, karena kakek nenekku kesulitan melafalkan huruf ’v’, dan adekku hanya bisa mengeja satu suku kata ’ta...ta...ta...”.

 

 

Walaupun meleset dari prediksi mula, aku bersyukur aku lahir lebih cepat dan akhirnya bernama Novita. Bukan karena menjadikan sebagian besar guruku memberiku nilai bagus semasa aku SMU. Karena kalau untuk urusan itu, jika aku bernama Natalia aku yakin nilaiku akan lebih tinggi lagi ^o^ Tapi lebih ke nama pendekku sekarang, yang membuat iri adekku, ”Tata enak banget si..kalo disingkat namanya jadi Tata Surya. Aku mau diotak-atik gimanapun juga, ga bermakna...”.

 

Oiya yah... 'Tata Surya' kan ga cuma keren, tapi juga bermakna! Misal namaku beneran Natalia, mau jadi apa coba? Nat Surya? Lia Surya? Ga ada yang sekeren Tata Surya! Hohoho...

 

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dengan rumus yang sama, nama adekku adalah Okta Puspitacandra Surya Andika dan (Febriano) Ragil Surya Anugrah. Febriano sengaja kutulis dalam kurung untuk menunjukkan bahwa kata itu tidak jadi digunakan karena bapakku merasa tidak nyambung dengan kata Ragil. Tapi beliau tidak mau membuang kata Ragilnya, maka dengan terpaksa ’Febriano’-nyalah yang dikorbankan.