| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Kids & Family |
”Ternyata nyenengin anak2 tuh gampang yah?”, itulah yang langsung terpikir olehku pas nonton dan setelah nonton. Adegan-adegan yang bagiku bisa saja kumasukkan kategori ga penting, tapi bagi anak2 sangat sangat sangat menghibur. Dan aku pun jadi ikut terbawa terhibur dan sangat menikmatinya. Jadi menurutku komposisi penonton menentukan penerimaan film ini. Semalem aku nonton di antara banyaaaakkkk anak2 kecil. Seru dan menyenangkan mendengar mereka tertawa terbahak, mereka bertepuk tangan kalau ada gambar bola masuk gawang. Salut untuk Salman Aristo.
Film ini dipersembahkan untuk sepakbola nasional. (Kusuka bahwa yang dijadikan idola dan tokoh panutan adalah Bambang Pamungkas, bukan Ronaldo.) Tokoh utamanya adalah Bayu, anak mantan pemain sepakbola yang akhirnya menjadi supir taksi, hingga meninggal di usia yang masih muda. Bayu mewarisi bakat bapaknya, namun ditentang oleh kakeknya yang menginginkan kesuksesan bagi cucu satu2nya itu. Dan tentu saja menjadi pemain bola tidak masuk hitungan sebagai jalan menuju kesuksesan. Oleh karena itu sepakbola sangat terlarang untuk Bayu, dan Bayu diikutkan les musik dan lukis, selain matematika dan bahasa inggris.
Bayu bersahabat dengan Heri yang sejak kecil berkursi roda namun penuh kepercayaan diri dan sangat gila bola (tapi kenapa Arsenal, bukan persija atau persib...). Dia tinggal dengan seorang supir dan pembantu, karena orang tuanya sangat sibuk dan banyak berada di luar negeri. Ada satu lagi tokohnya, yaitu Zahra anak penjaga kuburan yang tinggal di rumah sangat sederhana di kuburan.
Nah, selanjutnya adalah tentang bagaimana jalan yang dilalui Bayu dan Heri untuk menjadikan Bayu anggota timnas U-13. Bagaimana mereka mencari lapangan untuk latihan, umpet2an dari kakeknya.
Dialog-dialognya ringan khas anak-anak. Berantemnya juga anak-anak banget. Dan taksir2annya pun sangat SD, lengkap dengan sorakan2 ”Heri naksir Zahra..Heri naksir Zahra..”.
Pokoknya ni film cocoooookkkk dan paaaaasssss banget buat anak-anak. Celetukan2 Ramzi (ternyata) juga mesuk banget di anak-anak...
Nah, buat yang dewasa film ini adalah menyentuh dan menggelitik. Dua kali ada pyas di dadaku. Melihat bagaimana pengorbanan kakek untuk cucunya dan bagaimana seseorang meleburkan arogan dan pride-nya demi orang yang disayangi. Bagaimana seorang anak kecil menyampaikan impian dan cita-citanya dengan kalimat yang sangat sederhana, ”Saya ingin ada garuda di dada saya!”, merujuk pada gambar garuda di kaos timnas. Mars yang selalu kudengar di stadion, juga terasa pyas di film itu... (ya kalo di pas di stadion kan suasananya deg2an dan kegerahan...hohoho...)
Gelitikan terasa pada kalimat2 ringan namun jleb, dalem. Contoh:
- Sepakbola itu tidak bermutu, tidak elit. Apalagi di Indonesia, jadi penonton saja bisa mati ==> menggelitik banyak pihak dunk pastinya...
- Soal cari-cari lapangan mah Abang udah khatam. Cuma lapangan pekerjaan yang susah dicari
- Sekarang di Jakarta susah banget cari lapangan, dah dibeton semua
Trus quote favoritku adalah:
- Lari dari masalah itu tidak baik, cuma bikin masaah baru
- Emang kalo berhenti main bola, harus berhenti persahabatan juga yah?
Dan bagian yang ku juga suka adalah yang mengajarkan beli obat itu di apotik bukan di toko obat. ^o^ Ga ada kalimat verbal gitu si... Cuma sepotong gambar mereka mau beli obat, si Heri langsung belok ke arah Apotik Ridho Farma, tapi si Bayu ribut mengusulkan ke arah lainnya, ”Situ aja Bang..toko obat tuh..situ aja...”. Dan sama bang Dulloh, supirnya Heri, si Bayu langsung diangkat dan dibawa ke arah apotik. Semoga penonton menangkap maksudnya yaaaa... ^o^
Pengambilan gambarnya oke lho... Paling kusuka yang dari balik gerobak bakso, di antara mie dan bakso2, trus di kacanya pantulan anak2 SD maen di lapangan. Wow...
Tapi ada satu keberatanku: Kan critanya si Bayu itu umurnya 12 tahun. Tapi dia baru naik ke kelas 6. Pas aku umur 12 tahun, aku dah klas 2 SMP lho... Hohoho... Tapi emang susah juga si... Kalau mau dibuat dia umur 10 atau 11 tahun, biar masih bisa SD, tar susah pas untuk menceritakan dia mau masuk timnas U-13. karena jelas2 U-13 itu adalah Usia 13 tahun. Nah, kalo mau dicocokin umur 12 dengan sekolah normal, alias dia dibuat SMP, tar critanya jadi musti lebih bervariasi lagi...ga bisa ada adegan anak2 klas 1 yang lucu dan imut2...ga ada ledekan2 taksir2an...
Jadi kurekomendasikan untuk menonton film ini dengan membawa anak-anak, kalau bisa dalam jumlah banyak, biar yg kalau dalam kondisi normal adalah ga penting dan mengganggu, menjadi terabaikan.
Kurekomendasikan juga buat para capres dan cawapres untuk nonton! Jauuuuhhhh lebih bermakna daripada film yang dijamin asli mesir itu!