Draft lama yang kutulis sehabis mengalami perlakuan buruk dari orang yang seharusnya ramah... Pas baca postingan Shandy, bahwa dia adalah pegawai bank, ku jadi inget... ^o^
Cerita 1
Aku papasan di lobi sama seorang mas-mas yang aku merasa bahwa aku kenal dengan dia. Aku senyum ke dia, tapi dia tidak meresponnya. Sambil jalan aku berpikir-pikir siapakah dia. Akhirnya aku ingat! Dia mas2 penjaga pintu di Bank XXX. Aku memang sering ke bank itu, dan selalu dibukakan pintu oleh dia sambil mengucapkan salam. Lalu kubilang ke temanku, ”Eh mas itu yah... Kalo dia lagi kerja, ramaaaahhhh banget. Tapi kalau di luar jam kerja dia, dia ga kenal aku gitu... Padahal aku dah senyum ma dia...”. Responku memandang tak percaya aku mengucapkan kalimat itu, lalu berkata, ”yaeyalah... Kamu pikir customer yang dia sapa setiap harinya cuma kamuuuuu??”
Cerita 2
Di kereta aku melihat mbak-mbak yang wajahnya sangat familiar. Aku ingin menyapa, tapi aku tidak ingat siapa dia. Akhirnya aku hanya memperhatikan dia berceloteh ria dengan teman2nya. Lama-kelamaan aku ingat! Dia adalah mbak2 teller di Bank XXX. Berbekal pengalaman cerita 1 di atas, aku memupus harapanku bahwa dia akan ingat padaku.
Padahal kalau di jam kerja, dia ramaaaaahhh banget. Sebelum melayani dia mengucap salam, ”Ada yang bisa dibantu?”. Kalau udah selesai, ”Terimakasih ibu Novita. Ada lagi yang bisa saya bantu?” . Ramah si... Tapi kadang kalau aku lagi buru2, ku suka 'sebel' sama basa-basinya... Menghambat tauu.. ^o^
Cerita 3
Aku ke Bank YYY. Begitu melewati pintu kaca, aku disambut 2 orang satpam yang sangat ramah, menyapa dan menanyakan aku mau kemana dan kemudian dia mengarahkanku. Lurus dengan pintu masuk, meja-meja customer service. Kelima pegawainya berdiri penuh senyum. Sekiranya kita mengarah ke mereka, maka mereka akan kompak berkata, ”Silakan”. Nah, begitu juga jika kita mengarah ke teller. Teller yang jumlahnya ada 10 itu, semuanya berdiri dan dengan bersama2 berkata, ”Silakan”. Mereka baru duduk jika ada customer yang memilihnya. Busyet dah... Wow... Kalau dia ga 'laku', alias ga ada customer yang pilih dia, maka dia berdiri terus!
Tapi itu di jam kerja...
Bagaimana dengan di luar jam kerja?
Suatu pagi, ku butuh narik duit banyak dari bank YYY, dimana tidak bias kuambil dari ATM. Mau tidak mau harus ke bank-nya. Ku datang jam 8 kurang dikit, kupikir aku hanya perlu menunggu sebentar. Dari balik pintu kaca, ku dapat melihat satpam2 yang (biasanya) super ramah sedang duduk2 di bangku yang biasanya buat kita. Trus mbak2 yang (biasanya) super duper ramah sedang bersiap2 di mejanya.
Pas jam 8 teng, aku mendekat ke pintu kaca itu. Tapi tidak terbuka secara otomatis. Aku menyentuhnya dan tetap tidak terbuka. Bapak satpam yang sedang duduk melihatku. Tanpa senyum dia menggerakkan bibirnya membentuk kalimat, ”Belum buka”. Baiklah, aku mundur.
Selama aku berdiri di depan bank itu, para petugas2 yang (biasanya) over ramah melewatiku untuk masuk. Mereka tidak menyapa atau tersenyum. Padahal aku sudah nampak sangat resah ga sabar mau ambil duit.. ^^
Lima menit kemudian, artinya jam 8 lewat, aku mendekat lagi ke pintu kaca itu. Dan sekali lagi bapak satpam yang (biasanya) ramah, berkata, kali ini ditambah mimik gregetan, seolah2 aku ga ngerti juga, ”BELUM BUKA”. Aku, yang merasa sebagai customer, emosi dunk.. Tapi aku tahan. Lalu aku bertanya, ”Bukanya jam berapa?”. Tentu saja dengan nganga2 doank karena dari balik pintu. Dan dia menjawab, ”Tunggu aja!”.
Idiiihhhh....
Karena aku kesel, akhirnya aku pergi ajah. Mang ngambil duit cuma bisa di dia! (aku langsung nodong temen2ku, kuutangin sampai terkumpul jumlah yang kubutuhkan... hehehe...)
Apa2an itu?! Pas jam kerja mereka ramahnya masya Allah... Tapi ketika pintu belum terbuka, dan aku belum memasuki area kerja mereka, mereka bisa sebegitu juteknya. Bener2 palsu!
Berlebihankan jika ku membayangkan ada orang yang ramah dimana saja, dengan siapa saja, kapan saja?
Shandy, semoga kamu tidak seperti mereka yah! ^o^