Monday, September 7, 2009

Pilih Kerudung atau Cadar?

 

 

Aku kan pengguna transportasi massal. Ketika peak hour, tidak jarang harus agak berdesakan. Artinya keberadaan antar manusia saling dekat. Kita gerak dikit aja, sebelah terkena dampak.

 

Nah, aku sering merasa terganggu ketika aku berada di belakang mbak-mbak berambut. Tiap dia noleh kanan atau kiri, rambutnya ikut bergerak, kena mukakuuuuu... Trus beberapa helai nempel di bibirkuuuuu.... Ga enaaaaakkkk.... Mana kadang mereka suka mengibas2kan tanpa alasan pula... Huhuh! Tapi apa yang bisa kulakukan atau kukatakan.. Ku cuma bisa berpikir dan berandai, "Kalau dia pake kerudung, aku aman deh..."

 

 

Sekali waktu aku dengan temanku. Dia depanku dan aku di punggungnya, dan tentu saja rambutnya masuk2 mulutku.

Tata: Kamu pake kerudung dunk... Blah.. *nglepehin rambut*

Dia: Emang kenapa?

Tata: Rambut kamu ngenain muka aku tauuuu... Ganggu tauuuu... Kerudungin dunk biar ga ganggu orang!

Dia: Gimana kalo lo yang pake cadar aja?

 

 

Hwuaaaa.... Aku kalaaaaahhhh....

Kenapa Aku Puasa_Hasil Aku Mikir Setelah Baca Punya Mbak Onit

 

 

Aku selalu puasa di bulan Ramadhan. Belum pernah sekalipun terbersit pikiran untuk tidak berpuasa. (Walaupun tiap puasa selalu menanti2kan saatnya 'keguguran'... Hohoho...) Alhamdulillah ku ga pernah sakit pas Ramadhan,. Perjalanan jauh mudik pun, ku tetap puasa. Karena kupikir di jalan kan ku tinggal duduk dan tidur. Dan aku juga belum jompo. Jadi ga punya alas an kuat untuk ga puasa ^o^

 

 

Aku mulai puasa di usia sangat dini, yaitu 4 tahun. Dan itu penuh lho. Ku ga pernah melewati tahap belajar puasa setengah hari. Sekali puasa langsung kaffah! Hohoho...

 

 

Alasannya apakah? Begini...

Sekilas aku pernah crita kan kalau ibuku punya mantan agama? Nah, itu menjadi salah satu penyebab aku mengalami puasa dini. Memiliki orang tua yang berbeda agama dan tinggal di lingkungan yang sok merhatiin agama, adalah berat. [Ku bilang ’sok merhatiin agama’, karena sorry to say yah..mereka itu agamanya abangan tapi kalo liat tetangga beragama beda, trus bergunjing..”ih..si itu kan Konghucu.. si ini Shinto...”].

 

 

Kehidupan beragamaku dimulai oleh nenekku dari pihak Bapak. Dia selalu mengajak aku ke musholla. Sebagai nenek2 maka beliau posisinya adalah paling depan, sedangkan aku yang bocah ada di belakang. *sigh* Sebenernya agak berat nulis ini. Ketika sholat sudah dimulai, aku suka diintimidasi oleh anak-anak kecil lainnya. Aku ditarik dari barisan dan dibawa ke pojok musholla. 5-6 anak mengelilingiku, dan bertanya, ”Ibu kamu agamanya Islam atau Kristen?”. Seolah-olah kalau tidak beragama Islam adalah kriminal. Aku yang tentu saja ketakutan menjawab, ”Islam ko...”. Dan tentu saja mereka tidak puas, ”Aslinya apa? Islam atau Kristen?”. Dan aku hanya bisa diam, menahan tangis.

 

 

Aku masih pengen marah kalau inget saat2 itu. Bagaimana bisa coba anak2 kecil punya pikiran ngurusin agama orang? Siapa yang meracuni pikiran mereka hingga mereka mengintimidasi anak kecil lainnya?!

 

 

Aku tidak mungkin mengadu ke ibuku atau bapakku kan? Dan dari dalam diriku mulai muncul rasa rendah diri karena ibuku ’beda’, kadang malu juga. Seolah-olah agama ibuku adalah aib.

 

 

Pernah waktu itu aku dan nenekku terjebak hujan di masjid. Ada nenek2 lain yang bergabung dan mengajak mengobrol. Aku masih ingat betul pertanyaannya ke nenekku, ”Jadi sebenarnya mantu njenengan agamane opo?”. Aku langsung mbleret..berusaha mengecilkan diri, menyusut dan menghilang. Dan nenekku menjawab, ”Udah jadi Islam ko..”. Masih ga puas, ”Nikahnya juga udah Islam?”. Nenekku dengan sabar menjawab, ”Udah..”.

 

 

Mungkin karena terlecut oleh pertanyaan2 sinis, pandangan2 dan bisikan2 menyakitkan, maka tumbuh tekad dalam diriku untuk menjadi seorang Islam yang baik. Kukatakan 'mungkin' karena aku tidak ingat apa yang kupikirkan saat itu, yang masih tersimpan dengan baik adalah omongan2 orang saja. Aku jadi anak yang ingin menunjukkan bahwa ’ibuku boleh begitu, tapi lihatlah aku sebagai aku’. Dan mungkin ada pemikiran untuk menghapus stigma anak pasangan beda agama pasti kacau jadinya.

 

Aku ga yakin juga si... Aku kan waktu itu masih keciiiiiillll... Yang pasti mulai TK aku sudah puasa penuh. *bangga* 

 

 

Jadi alasan pertamaku untuk puasa adalah untuk melindungi diriku dan ibuku dari kesinisan orang2. Walaupun tetep aja komentar orang2 ga enak didenger, ”Ih...Mbak Tata pinter puasa ya...padahal ibunya enggak..”. Mari ketik C spasi D.. cape deh...

 

 

Memasuki masa SD, alasan puasaku masih sama karena SD ku deket rumahku. Dan mungkin ditambah pengetahuan bahwa puasa itu wajib hukumnya buat Islam. Kalau dikatakan wajib artinya kalau tidak dilakukan berdosa, kalau dosa maka masuk neraka.

 

 

Selanjutnya, aku juga berpuasa untuk hal klenik. Begini... Ibuku setelah meninggalkan agama lamanya entah gimana menjadi sangat Jawa dan klenik banget. Misalkan kita mau beli mobil, maka dia itung2 dulu hari yang baik. Trus selama seminggu sebelum hari H maka 2 orang di keluarga harus puasa putih. Ibuku kan sakit maag parah, maka kemampuanku puasa sedari dini ’dimanfaatkan’ untuk substitusi ibuku. Jadilah aku di kelas 1 SD sudah mengenal puasa putih. Artinya ku cuma bisa minum air putih, makan nasi putih dan tahu atau tempe dibakar, tanpa bumbu apapun. Filosofinya adalah tirakat, berkorban untuk mendapatkan sesuatu.

 

 

Selain puasa klenik, aku juga dikenalkan dengan puasa weton atau hari lahir. Aku kan lahirnya Selasa Kliwon, nah tiap bulan aku harus puasa 3 hari: Senen Wage, Selasa Kliwon dan Rebo Legi, yaitu sehari sebelum aku lahir, pas aku lahir dan sesudah aku lahir. Filosofinya untuk mengenang kelahiranku, untuk menghormati batirku. Batir adalah ’kembaran’ku di alam yang lain. jadi selama 3 hari itu aku puasa, sedangkan batirku dikasih makan: bubur merah-putih diletakkan di atas tempat mengubur ari-ari-ku.

 

 

Aku disiplin puasa weton sampai aku awal2 kuliah. Ibuku rajin ngingetin, ”Minggu depan slasa kliwon lho Mbak...”. Nah, lama2 aku suka lupa... Trus pernah aku kehilangan dompet di bulan ini, bulan berikutnya ilang lagi. Pas aku crita ke ibuku dia bertanya, ”Slasa kliwon kemaren puasa nggak?”. Hiyaaaahhhh... Disambungin ke situuuu... Akhirnya aku punya pola pikir bahwa puasa itu untuk ’nyogok’ alam agar melindungiku. Trus daripada aku puasa 3 hari tiap bulan, ku buat kompromi jadi puasa senin kamis rutin. Begitulah...sampai sekarang aku rutin puasa senin kamis... ^o^

 

 

Bagaimana dengan puasa Ramadhan? Jujur aku belum dapat filosofi yang bisa kuterima dengan baik. Kalau dibilang untuk bisa merasakan penderitaan orang yang kurang makan alias kaum dhuafa, kupikir bukan lewat puasa kita melakukan itu. Hal paling tepat sebagai wujud empati itu adalah: tidak menyisakan makanan, ga buang2 makanan! Karena ketika kita menyisakan makanan yang kita makan, ketika kita buang sisa makanan (sembarangan pula), itu sangat menyakitkan perasaan mereka2 yang nyari makan aja susah. Serius! Aku selalu menegur dengan nada tinggi temen2ku yang makannya ga habis. ”Tau nggak di luar sana ada orang yang buat makan aja susah?”. kalau mereka mengelak dengan ”Udah ga muat lagiii...”, kutimpali, ”Makanya kalau ngambil makanan jangan rakus! Ambilnya dikira2! Belajar tanggung jawab dunk atas perbuatan kamu ngambil makanan itu!”.

 

 

Jadi berempati sebagai filosofi puasa adalah tidak tepat. Apalagi justru ketika puasa manusia jadi berlebihan. Budget jadi berlebih untuk beli kolaklah, es buah lah, tajilan lah.. Pokoknya yang di hari biasa ga ada, pas puasa diada2in. Blum acara buka puasa bersama yang eksesif, baik frekuensinya maupun kuantitas makanannya. Sebelah mana empatinya kan?

 

 

Kalau dibilang bahwa ketika puasa segala amalan dapat pahala berlipat ganda. Duh, aku bukan tipe orang yang suka itung2an gitu. Aku tidak bisa terprovokasi oleh obral pahala itu sehingga membuatku baca Qur’an di bis atau berdiri di pintu masjid dengan segepok uang seribuan siap dibagikan ke kaum dhuafa yang menghampiri sambil membungkuk2. No offense buat yang melakukan itu... Tapi aku tidak bisa menghargai orang yang duduk di kereta sambil baca Qur’an sedangkan di depannya ibu hamil berdiri. Atau udah desek2an tapi masih ga mau ketinggalan berlomba2 baca Qur’an sehingga ketika orang di sebelah geser dikit dan menyenggol tangannya dia mendecak kesal.

 

 

Karena aku tidak dapat menemukan alasan kenapa aku berpuasa, maka pertanyaannya aku balik: kenapa aku tidak berpuasa? Naaahhh...kalau begini aku ada jawabannya.

 

 

Aku adalah orang yang percaya pada hal gaib. Sebab-akibat, aksi-reaksi, take and give. Contohnya adalah kenyataan bahwa aku selama sejarah pendidikanku tidak pernah yang namanya mencontek. Aku definisikan mencontek dengan: membuat tulisan contekan, bertanya pada teman saat ujian dan memberikan jawaban. Alasannya adalah aku percaya bahwa ketika aku melakukan kecurangan pencontekan itu, mungkin nilaiku saat itu akan menjadi lebih bagus, tapi di pelajaran lain aku akan dikhilafkan sehingga aku salah menjawab soal dan nilaiku jelek. Bahwa ketika aku mengambil keuntungan saat ini, maka esok hari akan ada yang diambil dariku.

 

 

Begitu juga dengan puasa. Aku percaya Tuhan itu ada. Aku percaya Tuhan dekat. Aku berpikiran bahwa dengan berpuasa maka aku menjaga hubungan baik dengan Tuhan. Kan yang bilang puasa itu wajib Tuhan, to? Jadi, aku puasa karena aku tahu kalau diperintahkan dan aku taat, agar tidak ada friksi antara aku dan Tuhan. Tuhan kan sensitif...diduakan aja ga mau... Kalau hubunganku dengan Tuhan baik, maka Tuhan tidak akan macem2 sama aku. Ya kan?

 

 

Pemikiran itu sedikit banyak karena aku termakan oleh kata2 guru agamaku klas 2 SMA, dia bilang ”Kenapa orang2 non Islam justru kebanyakan hidupnya makmur? Karena secara tidak sadar mereka mengamalkan perintah Allah, misalnya menuntut ilmu, bekerja keras, bersedekah, tidak menyakiti orang. Jadi Allah menganugerahkan kekayaan pada mereka’. Aku mengartikannya dengan: ketika kita nggak bikin Tuhan BT, maka Tuhan memihak kita. Fufufu...

 

 

Jadi alasanku berpuasa adalah: karena aku tau puasa itu diwajibkan dan aku tidak ingin membuat Tuhan murka padaku.

 

 

Kalau ditanya kira2 kenapa Tuhan meminta kita puasa, aku akan menjawab, ”Aaahhh...Tuhan kan suka iseng..pengen ngetes doank mana di antara kita yang nurut mana yang enggak... Sama kayak kasusnya babi haram..” Dan seorang temanku menyahut, “Mana yang kayak kebo dipatok burung mana yang bukan....” Dan teman yang lain menimpali ”Gue si ogah kalo Tuhan gue kayak gitu.. yang kayak gitu bukan Tuhan gue....”

 

 

Yaaa...kan hubungan dengan Tuhan itu personal. Ya to?

 

Thursday, September 3, 2009

Sepertinya Otakku Perlu Di-upgrade

 

 

Otakku serasa habis kebanting dan banyak memori berjatuhan gitu. Banyak hal yang bener2 ilang dari otakku. Ketika ada hal yang muncul lagi ku nyebutnya, ”O iya yah?”, bukannya ”oh iyaaaaa.....”. Seolah2 itu adalah hal yang baru kuketahui, bukan aku teringat akan sesuatu itu.

 

 

Kalau sekedar salah lupa naro sesuatu, itu biasa. Lupa nama orang, udah sering. Lupa pernah ngasih atau nitip sesuatu, ga jarang.  Dua minggu ini entah ku limbung entah otakku makin kaput, sehingga ku berasa amnesia.

 

 

Aku tidak punya memori bahwa aku mengganti PIN kartu ATM ku

Tiba2 aja minggu kemaren pas aku mau ngambil duit, dibilangnya salah PIN. Ku udah nanya ke temen2ku yang pernah kukasih tau nomor PINku, mereka menyebutkan angka yang sama dengan yang kuingat. Akibatnya diblokirlah ATMku.

 

Aku belum menyerah, masih berpikir mesinnya yang ngaco. Keesokan harinya kucoba lagi di mesin lain, dan masih salah juga. Kutanya temen2ku apakah aku pernah crita aku ganti nomor PIN dan jadi berapa. Mereka menjawab enggak.

 

 

Hwuaaaa.... Aku paniiiikkk... Pikiran buruk langsung datang, ”Si pencuri itu ngambil ATMku lagi trus dia ganti PIN nya!”. Hehehe.. Pikiran mengada2 emang... Tapi tetep aja kutelpon customer service untuk nanya transaksi terakhir kapan dan berapa saldo terakhir. Alhamdulillah...kayaknya utuh... Kubilang 'kayaknya' karena ku ga pernah print struk kalo abis transaksi...Kan critanya paperless... ^o^

 

 

Habis itu aku berusaha nginget2 kapan kira2 aku ganti PIN, trus jadi berapa. Sama sekali ga bisa inget! Tapi kuinget pernah diskusi tentang rencana2 nomor PIN baru.

Pilihan 1: 4 nomor terakhir HPku

Pilihan 2: satu tanggal bersejarah

Pilihan 3: sama dengan PIN pulsaku

 

Lalu ku ke mesin ATM lagi. Dan gagal semua.

 

 

Aku menyerah dan akhirnya tadi aku ke bank untuk minta recovering PIN. Persediaan uang cashku tinggal lima puluh ribuan gitu deh... ”Baik Ibu... Prosesnya 2 minggu yah...”.

 

 

Hahhh??? Dua minggu?? Aku belum bayar kosan, belum bayar telfon rumah, belum transfer duit angpau ke adekku untuk dituker duit baru ke bank, belum bli baju lebaran. Lebih penting lagi: dua minggu ke depan ku hidup dan bertransportasi gimana dunk?

 

Siap2 nodong temen2ku deh... Hohoho...

 

 

Aku tidak punya ingatan aku mengganti password satu sistem

Ku kan pernah crita bahwa aku satu password untuk semua. dan password itu sesuai dengan theme song ku saat itu. Nah, passwordku untuk masuk windows adalah lagi we had joy we had fun we had season in the sun. Tapi ternyata ada satu system yang passwordnya ketinggalan satu episode sama lagu itu. Pas kemaren aku mau masuk, kuanggap sama dengan season in the sun. Sekali masukin dibilang salah. Oh mungkin salah ketik. Coba lagi dengan lebih hati2 dan saksama. Salah lagi. Mencoba mengingat2 episode theme song sebelum ini, tapi ga inget sama sekali. Maka kucobalah season in the sun lagi huruf per huruf. Dan terblokirlah aku.

 

 

Ku minta untuk recover password. Itu dua hari yang lalu. Sukses dan aku bisa masuk ke system itu.

 

 

Hari ini pas aku mau masuk ke sistem itu, kumasukkan password season in the sun. Dan dibilang salah. Entah gimana ku berpikir ku salah ketik. Kan logikanya gini: aku selalu nyamain semua password. Maka ketika aku recover password maka ku pasti akan memasukkan season in the sun dunk? Dan ternyata enggak.

 

 

Ku ga ngerti lagi sama otakku.

 

 

 

 

Apa karena dua minggu ini aku berusaha sangaaaaattt keraaaaasss untuk men-delete satu folder di otakku yah? Selected folder belum terdelete...eehh...file lain raib... =(

 

 

 

 

 

Sunday, August 23, 2009

Aku Meronce Kembang Melati

 

“Apa yang kamu lakukan semalam?”

            ”Sama seperti malam sebelumnya”

 

”Apa yang kamu lakukan malam sebelumnya?”

            ”Sama seperti malam sebelumnya lagi”

 

”Apakah yang kamu lakukan di malam [-malam] sebelumnya lagi itu?”

            ”Aku meronce kembang melati”

 

”Kembang melati kamu ronce?”

            ”Ya. Aku meronce kembang melati”

 

”Apakah kamu akan melakukan perbuatan bodoh itu lagi malam ini?”

            ”Kuharap tidak”

 

”Demi Tuhan, hentikanlah”

            ”Aku sering tidak menyadari bahwa aku sedang meronce kembang melati”

 

”Demi aku, berusahalah”

            ”Demi aku, bantulah”




Ada Berapa Hati kah?

 

Ku kan ga gitu update dengan lagu2 masa kini, jadi pas tadi di radio temen ada lagu dengan banyak kata ‘hati’ ku langsung terpikir harusnya ada kuis: Ada berapa banyak kata ’hati’ pada lagu terbarunya Mulan? Seperti kuis jaman IM3 perang harga dulu, yaitu ada berapa banyak angka 'nol' di iklan dia..

 

Nah, sebagai antisipasi jika kuis itu beneran diadain, maka mari kita hituuuunnggg...

 

Hai sahabatku, jangan pernah
Merebahkan kesalahanmu
Pada semua yang kau anggap
Merebut kekasih hatimu
Mencuri pasangan jiwamu


Dan sesungguhnya bila kamu
Kehilangan cinta
sejatimu
Itu semua karna kamu
Tak sungguh-sungguh pelihara
Dan menjaga cinta matimu


Cinta mati harus dijaga sampai mati
Jangan sampai ke lain hati
Nanti jadinya patah hati
Hati-hati menjaga hati
Mata hati

 

 Kesulitannya adalah bait terakhir nya diulang-ulang entah berapa kali. Tiap ku itung sambil nyanyiin, ku keasyikan dan ilang itungannya... Ulang lagi, keasyikan lagi...

Ada yang rajin untuk ngitung? ^o^

 

Mbak…Mbak.. Kita lagi ngomongin ayam, Mbak…

 

Seminggu kemaren adalah minggu yang rusuh buatku. Aku diwakafkan oleh bosku untuk mengurusi acara pengumpulan manusia2 pintar, kita seleksi dan pemenangnya kita kirim ke AS mewakili Indonesia. Ke-hectic-an sebenarnya sudah dimulai 2 minggu sebelumnya, dimana ku musti nelponin manusia2 pintar itu untuk nagihin dokumen mereka. Habis itu ku musti nyiapin semua bahan yang berkaitan dengan acara. Semua hal kecuali tempat menginap, catering dan bis, karena itu semua bukan keahlianku banget ^o^

 

Anak-anak yang kuurusin itu berasal dari macem2 background pendidikan. Ada dokter, farmasis, bisnis, ahli mikrobiologi, arsitek, dll. Ada juga yang nutrisionis. Dan nutrisionis ini mempermalukanku dua kali. Dua kali!

 

Malu 1

Salah satu rangkaian acara adalah mereka dikasih tugas, mereka diskusi, habis itu dikumpulin untuk dipresentasikan. Pas mereka diskusi aku sok2an mengawasi dunk... Ku jalan dari satu meja ke meja lain. Berhenti sejenak, mendengarkan diskusi mereka, senyum, trus kabur ke meja lain sebelum ditanya2.. ^o^

 

Dengan melihat cara mereka menyampaikan pendapat, interupsi orang, ku bisa sedikit mengira2 karakter mereka. Tapi, lama-lama aku bosan juga. Maka ku makan aja cemilan2 yg disediakan, yang dianggurin sama mereka. Trus tanpa sadar, ku makan lemper sambil jalan muter2. Niat hati mengingatkan mereka untuk menyentuh coffee break yang telah disiapkan. Walaupun dah mualem, tapi kan sayang2 kalo makanan ga dimakan...

 

Pas sampai di satu meja, ku bilang, ”Jangan lupa ada makanan lho yah... Ada kopi, teh juga..”. Tentu saja ku ngomong gitu sambil memasukkan lemper ke dalam mulutku. Lalu lelaki itu berkata, ”It’s ten o’clock now and it’s not good for you to eat those kind of food”. Langsung aku paused. Trus ngliat ke anak cewek di sebelahnya minta pembelaan, “Trust the nutrisionist”, katanya sambil mengangguk setuju pada perkataan sang nutrisionis.

 

Dan aku hanya bisa bersungut2 meninggalkan mereka. Huhuh! Aku kan hanya ga  mau makanan itu mubadziiiirrrr...

 

 

Malu 2

 
Saat makan siang keesokan harinya. Ku gabung agak2 terakhir, karena harus mengurusi kerusuhan dulu. Ku mengambil makanan antri di belakang bapak kameraman. Dia sedang memilih2 ayam bakar. Ku tungguin dunk..Ga enak mau nyalip. Pas gitu, muncullah si anak itu berdiri di belakangku, tapi trus muter dan berada di depanku. Dia memilih2 ayam juga.

Tata: Cari yang apa si, Pak?

Kameraman: Saya cari yang dada.. Ko udah ga ada yah?

Tata: Emang kenapa harus dada?

Kameraman: Dada itu yang paling enak...

Tata: Hoooo....

Anak itu: Sayap juga enak lho, Pak...

Kameraman: Tapi hormon2 di situ semua..

Anak itu: Yaaa...setiap kenikmatan membawa konsekuensi masing2.. Hehehe...

 

Si bapak kameraman selesai pilih ayam dan bergerak ke panci berikutnya.

Anak itu: Kalau saya, pilih yang gampang dimakan saja... (sambil ambil entah bagian apa.. Aku kan agak2 buta soal makanan...)

Tata: Yaitu?

Anak itu: Yang ga banyak tulangnya saja...

 

Trus aku inget dunk kalo dia nutrisionis.

 

Tata: Ayam punya bagian yang highly recommended dan least ga si?

Anak itu: Oh.. Paling baik untuk dikonsumsi adalah bagian dada.

Tata: Karena?

Anak itu: Lemaknya paling sedikit, nyaris tidak ada.

Tata: Hah?? Bukannya paha? Kan paha deket kaki...buat jalan...jadi berotot dan ga berlemak dunk...

Anak itu: Oh nggak... Di paha masih suka ada lemaknya.. Dada yang hampir tidak berlemak.

Tata: Dada tuh yg mana si? (ku jadi ragu kalau ku tau bagian2 ayam gitu...)

Anak itu menekuk kedua sikunya dan mengibas2kan jemarinya di depan dadanya, ”Yang sekitar sini..

Tata: Ga berlemak? Trus namanya dada? Ko bisa dada ga berlemak?

Dia memandangku dengan sangat sabar, ”Dada ayam lho, Mbak... Bukan dada manusia..”, diakhiri dengan senyum sarat kesabaran.

 

Hwuaaaa.... Kenapa aku mikirnya dada manusiaaaaa??? Kenapa dia bisa tauuuu.... Maluuuuu.... 

Saat itu juga ku langsung kabuuurrr....

 

 

 

 

Monday, August 17, 2009

Tips Menurunkan Berat Badan Ala Tata

 

“Kok Tata makin kurusan sii..?”, seorang teman berkata begitu pas papas an aku mau berangkat kondangan. Dan aku tersenyum merona… ^^

 

Fufufu… Aku mengurus!

 

Apakah rahasianya? Mari kubagi…

 

Sarapan pagiku biasa dan ringan. Kadang bubur ayam, kadang ketoprak, kadang bubur kacang ijo, kadang setangkup roti tawar dan segelas Milo.

 

Makan siangku normal, porsi normal, menu normal. Pokoknya nasi, sayur dan lauk.

 

Naaahh.. kalau malam yang agak beda… Ku cuma makan satu iris pepaya sajah. Selain itu ku juga meratapi nasib dan mengenang2 masa yang lalu. Tidur jarang nyenyak, suka kebangun di dini hari.

 

Ternyata pola hidup seperti itu efektif untuk menurunkan berat badan!

 

Boleh dicoba lho… Hohoho…

 

 

 

Eh..eh…eh… Tar lagi kan puasa sebulan… Hmmm… Kombinasi pola di atas + puasa = masih ada kesempatan untuk turun lagiiii…. Telpon penjahit langganan Mak-ku untuk ngurangin ukuran2ku aaaahhhh…. ^o^