| Rating: | ★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Orang bijak bilang, sering kita menyadari pentingnya kesehatan setelah kita merasakan sakit. Nah..itulah yg kurasakan semalam. Setelah malam sebelumnya aku dicabik2 oleh Serigala Terakhir (semoga film itu beneran terakhir, jangan pake sequel2an...naudzubillahi min dzalik amit2 jabang bayiiii...), maka pas aku nonton film ini rasanya nikmaaaaaaaatttt bangeeettt....
Ku jadi nyadar bahwa ketika cerita di film itu jelas dan berjalan dengan lancar (nyontek kata2 Shandy, ga lambat kayak got mampat) itu jadinya enaaaaakkk bangeeettt... Bahwa ketika para pemainnya akting dengan bener, kita jadi ikut terhanyut di sana (ku merinding pas liat si Reza kalut mikir gimana caranya nyari duit cepet biar tabungan haji Mak nya yg baru 5 juta itu ga perlu dipake buat operasi anaknya). Bahwa ketika kejadian2 dirangkai dan disambung2 dengan rapi, rasanya tuh mantap. Bahwa ide yang sederhana, digarap dengan cermat dan ramuan yg pas, hasil akhirnya oke ko... Ga perlu cerita2 yang wow dan fantastis trus dipaksa2 untuk disatuin, ditambah bumbu yg macem2 dan bertele2...
Salut untuk film ini. Ide ceritanya adalah seorang Mak (61 tahun) yang ingin naik haji. Profesi dia adalah penjual kue, dan satu2nya anaknya (Zein namanya) adalah pelukis dan penjual lukisan keliling. Tetangganya orang berada yang sudah naik haji 3 kali dan umrah hampir keenam kalinya. Tetangga lainnya, lebih kurang beruntung dari dia hingga bangkai burung pun mereka makan. Di sisi lain ada seseorang yg berambisi menjadi walikota dan mengejar gelar haji demi reputasi. Ada juga mantan istri Zein yang kesulitan biaya saat anaknya mau operasi hernia.
Semua cerita itu disatukan dengan rapi jadi enak diikutinnya. Ada beberapa kritik sosil yang diselipkan dengan cantik. Walaupun aku agak janggal dengan pemilihan rumah sakit Royal Progress International. Mungkin maksudnya untuk mengingatkan kita pada Omni, tapi kan di sini critanya mereka memiliki keterbatasan ekonomi...masa berobatnya ke RS internasional to?
Ada yg kurang berhasil si di sini, yaitu ngasi bumbu lucu2nya kurang ngena... Dialog antara supir dan pembantu yang (biasanya) dimaksudkan untuk lucu2 pun terasa kurang... Apalagi yg pas si Niniek L Karim bilang "Biar gendut2 gitu masih perkasa lho...", itu bukan hanya kurang tapi masuk kategori ga penting... Tapi ini emang bukan film komedi to?
Super salut untuk Reza yang memerankan tokoh Zein dengan pas! Sebenernya pas dia di Perempuan Berkalung Surban pun ku suka (ku ga kritik dia kan ya di reviewku? Hehehe..), cuma dia kurang fasih aja nyebut kata ’lonthe’-nya... Tapi di film ini dia membuatkua jatuh cinta! (apa karena sebelumnya ku musti nelen para serigala yg sumbang gonggongannya yah?).
Overall, recommended!