Tentang menemukan pasangan
Kisah 1
Temanku punya pengalaman tentang penampilan fisik sebagai spesifikasi pemilihan pasangan yang membuat dia tidak bisa menghormati, dalam hal ini, pria yang seperti itu. Waktu kuliah dulu, dia naksir sama seorang cowok. Trus seperti biasa, temen-temen di sekelilingnya kan suka ‘membantu’ dengan menyalam2kan. “Eh, cowok..dapet salam dari si Ini”. Dan cowok itu menjawab, “Boleh aja.. Tapi suruh dia nurunin berat 10 kilo dulu”. Jderrr! Temenku langsung meledak. Dan aku ga percaya gitu ada cowok yang tega ngomong gitu. Padahal yah, temenku itu ga overweight. Dia model sekel gitu lho..kalo kubilang si menggemaskan. Dan sejak saat itulah dia akan langsung antipati dengan pria yang dengan terang-terangan menyatakan itu. Nada suaranya langsung meninggi kalo denger ada cowok begitu. Walau kata temenku yang cowok, “Ga fair kalo lo gitu.. Siapapun orangnya berhak untuk mendapatkan apa yang dia mau”.
Kisah 2
Jaman aku kuliah, sekitar semester 6, ibuku mendesakku untuk segera menikah. Dan aku bingung gitu: mau nikah ama siapa. Hohoho... Nah, pas jaman kuliah kan ada kegiatan kajian agama islam yang rutin tiap hari jumat. Tiap kelompok dibimbing oleh satu mbak-mbak. Aku, walaupun setengah hati, suka ikutan (kalau udah ga tau mau beralasan apa lagi untuk mangkir). Dan kebetulan aja gitu mbak nya nanya apakah ada yang sudah siap untuk menikah atau belum. Dan kubilanglah “Ga tau udah siap atau belum, yang pasti sudah didesak”. Maka, mbaknya menawarkan suatu mekanisme yang namanya taaruf. Yang kulakukan cukup sederhana: mengisi semacam CV dan menyerahkan kepadanya. Nanti dia akan menyerahkan CV ke semacam koleganya yang memiliki CV serupa dari klien lelaki. Kupikir mekanismenya adalah mereka mencocok2an profileku dengan profile lelaki2,setelah itu kita saling dikenalkan. Ternyata, sekitar sebulan kemudian si mbak berkata “Udah ada ikhwan untuk Tata. Tapi tunggu bentar lagi ya..dia sedang keluar kota”. Okay.. Trus minggu berikutnya, si mbak berkata, “Gini Ta.. Tapi sebelumnya Tata jangan menjadi patah semangat atau sedih ya.. Jadi, sebenernya ikhwan nya mau dan setuju, merasa sreg dengan tata. Tapi ternyata keluarganya agak keberatan”.
Sumpah aku bingung dan bengong gitu. Ko gitu? Tahap yang kulewati hanya mengisi CV dan submit. Sedangkan dia, menerima CV, membaca, memahami, nanya2 ke mbak mentorku, mengkonsultasikan dengan keluarganya, dan kemudian membuat keputusan. Aku merasakan ketidakadilan yang sangat. Dia tau tentang aku, tapi aku sama sekali tidak tau siapa peminatku kecuali “anak teknik”. Ku berasa kayak barang yang dijual dengan menyebarkan katalognya gitu. Pas kutanyakan kenapa aku tidak dapat CV cowok itu ketika dia menerima CV ku, si mbak hanya bilang bukan begitu caranya. Dan aku hanya bisa menghela nafas dan memaksakan diri untuk tersenyum.
Tidak lama setelah itu si mbak berkata lagi, “Ini ada lagi Ta.. Dan saat ini dia sedang istikharah”. Daripada aku meledak atas ketidaksreganku akan cara mainnya, maka kuhentikan saja. “Udah mbak ga usah.. Bakar saja CV saya, jangan lagi ditawar2kan. Ibu saya sudah mereda ko...”.
Kisah 3
Temenku mau dikenalin sama seorang lelaki. Tapi temenku ini sedang tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan lelaki, bahkan dia bilang “Kayaknya gue ga mau nikah lagi”. Nah, dia kan tau kalau aku pernah ada di masa gandrung sama duda-duda, semacam Adjie Pangestu, Pasha Ungu... hohoo... Nah, lelaki yang mau dikenalkan ini kan duda beranak 1. Maka, diforward lah acara perkenalan itu ke aku.
Walaupun aku belum siap-siap amat untuk berurusan dengan hati, aku si mau-mau aja. Kata seorang teman, “Kita kan ga pernah tau jodoh kita datangnya dari arah mana”. Walaupun liat profile orangnya ku dah yakin kita ga akan cocok. Dia jenis orang yang rajin sholat kayaknya, dahinya sampe hitam gitu lho. Sedangkan aku, mostly sholat di injury time, kecuali kalo mau nonton di jam 18.30. Hohoho... Maka, setelah malam sebelumnya nonton perang dewa geje, pulang lewat tengah malam, siangnya aku bertemu dengan lelaki itu. Dan itu dengan sengaja kupaparkan, “Sorry telat.. Tadi baru bangun jam 1. Soalnya semalem pulang jam 1. Dan sorry ga bisa lama-lama, habis ini mau nonton Tiran”.
Setelah itu, kusampaikan pada temanku bahwa cukup sampai di pertemuan kemarin saja. Kujelaskan alasanku. Trus, beberapa hari kemudian temenku mem-follow up hal ini ke perwakilan lelaki itu, tentang bagaimanakah respon lelaki itu tentang aku. Dan perwakilan itu bilang bahwa lelaki itu tidak berminat padaku. Dan lelaki itu menyampaikan alasan yang setara dengan Kisah 1 di atas. Lelaki itu tidak bilang bahwa aku musti nurunin berat badan, tapi sederajat ama itulah. Dan temenku itu meledak, karena tokoh di Kisah 1 di atas adalah dia. Trus kemaren pas ku ketemu perwakilan itu dia nambahin alasan lain lagi, “Harusnya waktu itu lo pake rok..bukan clana jins..”. Lha? Aku mau pake apa, pake jins atau gamis, suka-suka aku dunk..! Temenku tambah meledak lagi.
Kalau aku lebih ke perasaanku pas Kisah 2. Aku ga ambil pusing dengan anjuran dia akan fisikku. Tapi lebih ke kenapa ketika 2 orang dikenalkan dengan maksud feasibility study untuk pasangan hidup, seolah-olah yang berhak memutuskan adalah pihak lelaki? Kalau dia OK, lanjut. Kalau dia ga OK, sorry aja. Aku jadi berpikir, harusnya saat itu juga ketika ku dah yakin bahwa aku tidak berminat untuk melanjutkan penjajakan, ku bilang ke dia. Biar jatohnya ga kayak gini. Biar tidak terkesan dia adalah Ande-ande lumut dan aku si Klenting Merah. (FYI, aku adalah perempuan ke-4 yang ditawarkan ke lelaki itu)
Jadi, kalau aku diberi kesempatan untuk ber-goukon ria gini (kebanyakan baca komik tentang ikan kering ni... ) ku akan dengan spontan menyampaikan kesanku saat itu juga. Dan mungkin ku akan pake gamis, yang kata Miya “Gamis ko ngepas badan”. Hahaha...