Sunday, May 9, 2010

Manja

Katamu hanya takaran gula yang [sedikit] kau kurangi dari minumanku.
Tapi kenapa terasa seperti kau tambahkan serbuk kina?

Friday, April 30, 2010

My Second Hand-Heart Would Like to Apply for the Vacant Position in His Heart

Seperti yang udah pernah ku-share, bahwa aku sedang dalam proses interview dengan suatu perusahaan. Sejauh ini interview-nya udah 3 kali. Dari 3 kali interview itu, dari user, HR, hingga petinggi di negara asal sana, punya satu pertanyaan yang sama: kenapa kamu berminat untuk pindah ke perusahaan kami. Dan karena aku pintar, maka aku bisa menyusun suatu jawaban yang pintar. Semua kukasih jawaban yang sama, paling kalo pas yang nanya bule ya tinggal di-translate saja. Hehehe..

 

Kupikir aku memang lumayan pintar untuk bisa nampak pintar. Miya pun pernah mengakuinya. Waktu itu dia mau ada talkshow buku dia, trus dari pihak penerbit ngasih kisi-kisi pertanyaan yang mungkin akan muncul. Trus aku ama dia merumuskan deh jawaban-jawaban yang akan membuat dia nampak pintar! Hohoho...

 

 

Tapi sekarang ku mentok, mampet, ga bisa nampak pintar lagi.

 

 

Bisa dibilang aku sedang dalam proses interview lain, bukan kerjaan tapi asmara. Calon user ku udah tau  kalau  aku apply untuk satu  posisi di hati dia. Dan seperti user2 kerjaan, dia bertanya “kenapa bisa berminat?”. Dan aku  langsung paused. Ga tau  tau musti jawab apa.

 

 

Sudah berhari-hari ku memikirkan jawabannya. Mencoba mencari-cari kalimat yang keren yang tidak hanya akan membuatku nampak pintar, tapi membuatku mendapatkan posisi di hati itu.

 

Kuulang-ulang pertanyaan itu: kenapa aku bisa suka ama dia? Kenapa aku cinta dia?

 

 

Dan aku serasa  nyaris frustrasi mikirin jawabannya. Mau nyontek, ga tau musti nyontek kemana. Dan seperti biasa, ketika puyeng, ku suka baca puisi. Dan muncullah lirik 41 itu.

 

 

Maka, inilah kata-kata terdalam yang mesti kuucapkan, kata-kata paling benar yang ingin kusampaikan,  kata-kata paling tepat yang kusediakan. Amin.

 

 

Karena aku belum menemukan jawaban kenapa aku suka pada lelaki itu, maka ku mundurin pertanyaannya: benarkah aku suka padanya? Suka yang seperti apakah? Apakah aku cinta dia?

 

 

Dan jawabanku adalah: terlalu dini jika kubilang aku cinta dia. Aku belum mengenal dia. Aku hanya bertemu dengannya, sedikit interaksi dan  kurasa kusuka. Jadi, kalau kubilang ku cinta dia, itu namanya aku membual. Jaman ama bipang dulu ajah, beberapa bulan jalan pun baru sampai tahap ngebanting ikan hiu alias I think I love u. Habis itu naik level ‘i love u-thank u’, trus baru deh ‘i love u-i love u too’.  Dan kupikir, untuk kali ini akan begitu. Semakin mengenal, maka ku akan semakin mantap untuk apply dan akhirnya aku bisa bilang ‘aku cinta’.

 

 

Kayak lagu kesukaanku...

 

Semakin jauh ku mengenalmu

Ku mengerti dirimu sehari-hari

Semakin aku memujakanmu

Mengagumi dirimu sehari-hari

Pertanyaan selanjutnya yang harus kujawab adalah: kenapa aku bisa suka dia. Okay..  ku berusaha mencari-cari jawaban yang keren dan pintar dan romantis jika perlu. Tapi.. ga nemu-nemu.. Dan kuingat kata-kata seorang teman, “Kalo udah mentok, jujurlah”. Baiklah.. aku akan jujur.

 

Jujur 1: aku ga pernah menyadari keberadaannya selama ini. Walaupun dia bilang sebelum-sebelumnya kita suka ‘ketemu’, tapi aku sama sekali ga ngeh kalau ada dia. Nuansa Bening gitu deh..

 

 

Jujur2: aku tidak jatuh hati pada pandangan pertama ataupun kesan pertama, walaupun kubilang ‘aku suka!’, ketika pertama ketemu

 

Jujur3: jujur aku juga bingung kenapa aku suka.

Yang aku tau, aku mulai condong ke dia setelah berakhirnya pertemuan pertama kali. Menjelang tidur, aku mengucap syukur “Tuhan, makasih yah aku bisa melewati bulan Maret ini.”. Yak, bulan Maret setahun kemaren adalah bulan yang cukup berat buat aku. Ada beberapa kejadian yang cukup menguras emosi di bulan ini. Puncaknya adalah di akhir Maret. Di Maret tahun ini, ku berusaha untuk menyibukkan diriku biar ga keinget-inget kejadian setahun kemarin. Dan akhirnya setelah ku nyadar Maret telah terlalui dengan damai, aku sangat bersyukur.

 

 

 

Sesaat setelah bersyukur, ku berasa dapat pencerahan. Di hari aku seharusnya merana dan mengenang lepasnya si Cinta, aku bertemu dengan lelaki ini, secara ajaib. Yak! Kata ‘ajaib’ lah yang kugunakan untuk menamai pertemuan kami yang..ummh..ajaib! Alam mengatur pertemuan kami secara ajaib.

 

 

Dan aku percaya pertanda. Aku percaya Alam berbicara dengan kita, menyampaikan sesuatu. Dan aku tidak mau mengabaikannya.

 

Begitulah.. Aku merasakan dadaku menghangat. Aku siap untuk bercinta, dengannya.

 

 

Dan, aku bener2 pengen lebih mengenal dia.

 

 

Dan entah kenapa lagu yang terputar di otakku adalah

One way or another I will get to you

I hope you like me

What can I say to get you into my sweater ?

What can I do to get to know you better ?

 

^o^

 

 

Seperti ajaran Oom TTSku, aku akan menggunakan metode Maks-Min dalam hal ini.

 

 

Maksimal: application ku untuk vacant position di hatinya diterima

 

 

Minimal:

1. Ku bisa memperkaya pengalaman bercinta

2. Ku bisa menyenangkan teman-teman sekitar (nge-ceng2in itu menyenangkan bukan?)

3. Ku semakin dekat dengan satu orang yang sering ingin kupeluk

 

 

 

Kata seorang teman jaman SMA dulu, one thing can have some goals. Maka, kubuat tujuanku beberapa, jadi aku tidak akan pernah mengalami kegagalan ^^

 

 

 

Tuesday, April 27, 2010

PAUS JOAN


Pemutaran film dihadiri sutradara Sönke Wortmann


4 Mei 2010, 19:00 WIB
GoetheHaus
Jalan Sam Ratulangi No. 9-15
Menteng, Jakarta Pusat
Tel. 021 23550208 ext. 147/ 157
Gratis, tempat terbatas



Paus Joan
Jerman / Inggris / Italia / Spanyol 2008/2009, Drama
Sutradara: Sönke Wortmann
Skenario: Donna Woolfolk Cross, Heinrich Hadding, Sönke Wortmann
Durasi: 148 Min.
Pemain: Johanna Wokalek, John Goodman, David Wenham, Iain Glen, Anatole Taubman, Suzanne Bertish, Nicholas Woodeson, Branko Tomovic



Versi film yang dari novel laris berjudul sama karya Donna Woolfolk Cross. Pada tahun 814 segala aspek kehidupan Johana seolah telah diatur dan dipastikan oleh orang lain: bekerja di rumah, mengurus anak dan mati muda. Namun Johanna menolak menjalani kehidupan seperti itu. Dia melawan ayahnya yang keras, memberontak dari peraturan-peraturan gereja dan masyarakat tempatnya hidup. Johanna menjadi murid di sebuah sekolah katedral di kota Dorstadt. Dia kemudian berkenalan dengan seorang bangsawan terhormat, Graf Gerold, yang ditemuinya di lingkungan keuskupan setempat. Persahabatan di antara mereka berkembang menjadi cinta. Ketika Gerold meninggalkannya demi ikut berperang, Johannya teringat pada panggilan hatinya. Namun tujuannya itu mustahil tercapai dengan identitasnya sebagai seorang perempuan. Johanna pun mengambil sebuah keputusan besar: menggunakan nama samaran Pastur Johannes dia tampil menyamar sebagai seorang lelaki di sebuah biara Benedikt di Fulda. Johanna terus melaju di jenjang hirarki gereja dan akhirnya terpilih menggantikan Paus Sergius.

 

Terimakasih untuk Ardi yang kasih info awalnya... (tuh kusebut nama kamuuuu... )


 

Monday, April 26, 2010

Buat Jonaz: Let's move on, dear..

 

There comes a point in your life when you realize:
who matters,
who never did,
Who won't anymore...
and who always will.

So, don't worry about people from your past,
there's a reason why they didn't make it to your future...

 

 

Ku suka banget kata-kata itu, dan itu semakin memantapkanku untuk melangkah! Kamu juga yah!

 

Sebelum kamu berpikir bahwa aku smart and brilliant, ku bilangin darimana ku dapet kata-kata itu... Dari m'onit! Dan dia dari dari status fesbuk temennya.. ^^ Bukan aku yang buat yah! ^o^ Tapi aku suka! Kujadiin mantra aaahhh...

 

Buat Jonaz-jonaz lainnya, move on yuks...

 

 

 

Saturday, April 24, 2010

Lirik Cinta 41

        Ingin aku mengucapkan kata-kata terdalam yang mesti kuucapkan padamu; tetapi tak berani aku, karena takut, engkau akan tertawa.
       Itulah sebabnya mengapa kutertawakan diriku sendiri dan kuremukkan rahasiaku dalam bergurau.
       Kuringankan kepedihanku, karena takut, engkau akan membuatnya demikian.


       Ingin aku menyampaikan kata-kata paling benar yang ingin kusampaikan padamu; tetapi tak berani aku, karena takut kalau engkau tak mau mempercayainya.
       Itulah sebabnya mengapa kusamarkan kata-kataku dalam dusta, mengatakan yang sebaliknya dari apa yang kumaksud.
        Kubuat kepedihanku aneh kelihatan, karena takut kalau engkau akan membuatnya demikian pula.


      Ingin aku memakai kata-kata paling tepat yang kusediakan bagimu; tetapi tak berani aku, karena takut, aku tak akan terbalas dengan harga yang setara.
       Itulah sebabnya kusampaikan kata-kata keras padamu dan kubanggakan kekuatanku yang kukuh padu.
      Kulukai engkau, karena takut, engkau tak pernah mengenal kepedihan sedikit juga.


       Ingin aku duduk membisu di dekatmu; tetapi tak berani aku, takut kalau hatiku terluncur ke bibirku.
      Itulah sebabnya mengapa aku bicara dan mengoceh dengan ringannya dan menyembunyikan hatiku di balik kata-kata.
      Kuperlakukan kepedihanku dengan kasar, karena takut, engkau akan memperlakukannya demikian pula.


       Ingin aku pergi menjauh dari sisimu; tetapi tak berani aku, karena takut kecemasanku akan terbuka bagimu.
       Itulah sebabnya mengapa kutegakkan kepalaku tinggi-tinggi, dan tak peduli datang aku ke hadapanmu.
    Tusukan terus-menerus dari matamu membuat kepedihanku segar selalu.




Rabindranath Tagore; Tukang Kebun; Lirik no.41
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tukang Kebun-nya Rabindranath Tagore ini bisa dibilang satu kumpulan lirik yang pertama kali khatam kubaca. Dan ku hafal hampir semua isinya. Jadi, ketika ku sedang merasakan apa, maka ku akan dengan mudah menemukan lirik yang sesuai. Membaca lirik-lirik Tagore selalu membuatku tersenyum dan damai, "Oh my...berpuluh-puluh tahun lalu ada juga yang merasakan apa yang kurasakan sekarang". Mengagumkan yah? Emosi tidak mengenal istilah jadul. Applicable sepanjang masa. Dan kali ini lirik no.41 di ataslah yang kalau nyontek kata-kata Jonaz, aku banget ^^

Monday, April 19, 2010

Dilema 2 Cintaku_Jasmine vs Nicolas

 

Kid Film Festival 2010

 

 

Semalam tiba-tiba ku pengen ngajak Jasmine ke Kid Film Festival. Maka, kuminta tolonglah ARDIYAN untuk mencari jadwalnya. Setelah kudapatkan, pagi ini kuajukan ke ayahnya Jasmine. Hari Sabtu ayahnya Jasmine ada reuni SMP, jadi ga bisa pergi. Maka satu-satunya kemungkinan adalah hari Minggu.

Berikut jadwal nya..

 

Friday 23 April:
16.30 King (Indonesia, 2009, Age 8+)
19.00 Brazilian Football (Brazil, 2009, Age 10+)



Saturday 24 April:
12.00 Little Robbers (Austria/Latvia, 2009, Age 6+)
14.00 The Crocodiles (Germany, 2009, Age 10+)
16.00 SOS Summer of Suspense (Norway, 2008, Age 8+)
17.45 The Azemichi Road (Japan, 2009, Age 10+)



Sunday 25 April:
12.00 Frogs & Toads (NL, 2009) -- pre booked by Kalyana
14.00 Sniff the Dog (Netherlands, 2008, Age 8+)
16.00 Paula's Secret (Germany, 2006, Age 10+)
18.00 Vitus (Switzerland, 2006, Age 8+)



Tickets Sale starts April 9 at Blitz Megaplex Pacific Place.
9-15 April: Rp. 20.000 (with Blitz card) Rp25.000 (regular)
16-25 April: Rp. 25.000
______________________________________________

Layar Tanceps at South Lobby Pacific Place Mall
______________________________________________


Friday 23 April:
18.15 Kombatei (Thailand/Indonesia, 2009, Age 8+)
19.15 Short Film Competition (Indonesia, 2010, Age 8+)



Saturday 24 April:
14.00 FeMale Radio Final Cool Family on the Block
18.15 Pyrata (Thailand, 2008, Age 8+)
19.15 Garuda Di Dadaku (Indonesia, 2009, Age 8+)



Sunday 25 April:
17.15 KidsFfest Award Ceremony
18.15 Sunshine Barry & The Disco Worms
------- (Denmark, 2008, Age 8+)
------- closing event: open for all and FREE



Layar Tanceps (open air screenings) are open for public
and FREE! No registration needed.

 

 

 

 

Nah, dari jadwal hari Minggu, yang sesuai umur Jasmine cuma Frog & Toads ajah. Naaahhh... ko ada tulisannya ‘pre booked by Kalyana’ yah? Itu maksudnya masih bisa kutonton ama Jasmine atau nggak? Akan masih ada tiket buat kita kah?

 

 

 

Trus, sebenernya ku dah beli tiket Le Petit Nicolas untuk hari itu di jam itu juga. Tempatnya di Blitz. Beraaaattt untuk meninggalkannya.. Tapi demi cintaku untuk Jasmine, sepertinya ku akan mengembalikan tiketku ke ticketing Festival Sinema Prancis lagi nih... Atau ada yang mau menyelamatkan tiket itu?

 

 

 

 

Ku masih berharap ayahnya Jasmine ga berangkat reuni, biar kita nonton Little Robbers hari Sabtu ajah... ^^

 

 

 

Sunday, April 18, 2010

Obvious

Masih perlukah ku terangkan
hal yang telah terang benderang,
sayang?