Pelajari dan pikirkan baik-baik sebelum memutuskan sesuatu.
Minggu kemaren adalah hari pernikahan teman baikku, Miya. Aku bertugas sebagai pembantu oemoem di acara kawinannya, termasuk seserahannya. Nah, pas aku ke rumahnya untuk acara seserahan aku melihat tangan Miya penuh dengan ornamen-ornamen, kakinya juga. Aku yang langsung mupeng gitu.. Trus pas liat adeknya Miya juga punya, walau jauh lebih sederhana dan di satu tangan aja, ku langsung memutuskan “aku mau jugaaaaa…”. Padahal adeknya Miya digambar itu sebagai bonus gambarnya Miya.
Aku langsung telfon Mbak penggambarnya. Dia sedang menggambari calon penganten lain dan baru akan selesai habis maghrib. Kubilang tak apa, akan kutunggu. Ternyata habis itu hujan turun dengan derasnya, janjian diundur jadi jam setengah 8. Aku jalan jam 7 dari Pasar Minggu menuju tempat janjian di Mal Ambassador, dengan ojek. Aku sampai di sana jam 19.33, telat 3 menit dan aku dah panik. Tapi ternyata si mbak datang jam 20.15, jauh lebih telat. Tapi tak apa, kan aku yang butuh dia.
Maka, dimulailah proses lukis tanganku. Enak deh sensasinya..anget2 semriwing merinding.. Karna waktu sudah mepet (mal tutup jam 9), maka tak ada proses diskusi mau gambar apa, dari mana ke mana, pokoknya kuulurkan tanganku dan mbak nya megangin pake tangan kiri dan mulai gambar pake tangan kanannya. Alat yang dia gunakan (ternyata) adalah sumpit bambu dia runcingkan, trus dia celupkan ke hena, trus dia gambar di tanganku. Selama gambar, kita ngobrol apa ajah. Termasuk “apakah mbaknya apal pola atau sambil gambar sambil mikir”. Dan jawabannya adalah sambil gambar sambil mikir. Oh okay..yang penting cantik..
Setelah digambar, tanganku ga boleh gerak sampai hena-nya kering. Jadi sepanjang jalan pulang, telapak tanganku meregang tak bergerak. Tak apa, yang penting besoknya tanganku cantik. Sampai kosan, hena-nya sudah kering, maka kumulai proses pengelupasan. Rasanya? Wow..tiap rambut tanganku ikut ketarik itu sungguh wow rasanya! Tak apa..yang penting cantik..
Keesokan harinya, misiku berhasil. Tangan cantikku menjadi perhatian teman-temanku yang kondangan. Tanganku dipegang-pegang dan diamati dengan seksama. Menyenangkan! Hohoho.. Komentar yang muncul berkisar betapa lucunya dan bagusnya. Pertanyaan yang muncul adalah dimana, berapa lama, dan berapa tarifnya. Aku jawab semua tanpa ada yang kututupi, dan kukasih juga nomor telpon mbak penggambarnya.
Hari berikutnya, aku ke kondangan lain. Tanganku masih saja menjadi perhatian, mengalahkan ikat pinggang oleh-oleh dari Jonaz yang kupakai. (Maaf ya Jo..tanganku lebih cantik daripada ikat pinggang kamu yang sebenernya lucu itu.. ^o^) Ada satu temenku yang berasa dapat anugrah gitu pas liat tanganku, “ini buat dimana?? Selama ini tiap ke salon aku nanya bisa gambar tangan atau nggak, jawabnya selalu ga bisa. Besok aku segera telpon mbak-nya”. Aku makin girang saja.
Nah, masuk hari kerja aku masih senang dan bangga dengan tanganku ini. Pas di bis, pas ku pegangan kan ku liat punggung tanganku..dan ku tersenyum. Trus pas di lift, pas pencet tombolnya kugunakan setelapak tangan biar punggung tanganku nampak. Aku sungguh suka sama tangan cantikku! Apalagi ternyata tangan cantik ini bisa menjadi perantara obrolan dengan orang asing. Beberapa orang secara spontan mengungkapkan kekagumannya, biasanya mbak-mbak. “Ih bagus bangeeett..”. Dan kalimat-kalimat sejenis. Pas aku makan dan ambil minum ada mas-mas yang antri dan memulai obrolan dengan topik gambar di tanganku. Kyaaaa… Senangnya!
Tapi kesenanganku tak berlangsung lama. Komentar kekaguman orang bukan makin bertambah dengan makin banyaknya orang yang melihat, tapi muncul satu komentar atau lebih tepatnya pertanyaan yang seragam dari para bapak-bapak dan oom2 bahkan mas-mas: "Habis nikah ya, Mbak?" Hiyaaaa…aku pasti langsung cemberut, “Enggaaa..”, dengan lemas dan geleng2 kepala menunduk.. Trus ada satu bapak-bapak muda sesama pengantri bilang kalau gambar hena itu tanda orang mau nikah, makanya dia nanya gitu. Ku pengen ga kemakan kata-kata dia, tapi yang nanya aku habis nikah tu banyaaaakk… Hiks..hiks.. Dan setelah kuingat2 lagi, sebenernya ku dah dapet early warning. Sehabis digambarin, di jalan pulang aku mampir ke gedung tempat kawinan esok harinya untuk melihat proses pendekorasian, mengecek semuanya sesuai dengan yang diinginkan sang pengantin (walaupun tetep aja ada yang kelewat.. Hehehe..). Nah bapak-bapak pendekor di situ pada nanya, "Mbak pengantennya yah?". Kujawab dengan senang dan sumringah, "Ya ga mungkinlah, Pak.. Masa iya penganten kelayapan malem-malem gini.. Hehehe..". Waktu itu ku sama sekali ga ngeh kalo mereka komentar gitu karna gambar di tanganku. Kupikir karena aku sebawel pengantennya pas ngecek jumlah bunga yang dipajang. Padahal satu Bapak dah ngomong, "oh saya kita pengantennya..habis tangannya digituin..". Dan aku meresponnya dengan, "Ouw.. Kalau penganten lebih heboh dunk gambarnya..".
Akhirnya kuputuskan untuk menyembunyikan ni tangan yang tadinya kuanggap cantik dari pandangan orang, lha tapi gimana caranya..kedua punggungku digambarin. “Oh..blum nikah.. Maaf..soalnya biasanya kalau yang buat iseng itu cuma satu tangan.. Ini mbak dua-dua nya jadi saya pikir habis nikah”, ku jadi inget kata-kata satu Oom-oom di lift. Maka, selama seminggu kemaren aku selalu deg-degan kalau ada orang ngliatin tanganku. Dan paling memurukkanku adalah komentar mbak-mbak security pemeriksa tas di gedungku, “Ga malu mbak tangannya digituin?”. Hiks..
Menjelang wiken, ku beneran berharap ni gambar ilang, karena kata mbak nya daya tahan hena adalah seminggu. Tapi sampai hari ini, hari ke-11, tanganku masih ’bernoda’, agak menipis jadi kayak gambar di abwah kulit gitu... Padahal dah kupake buat nyuci buanyak, buat renang juga.. Kata temenku, "coba pake minyak tanah”. Idih..ga mauuuu..
Jadi, temans.. Kalian jangan seperti aku yang grubak-grubuk yah.. Trus yang lebih penting lagi: aku belum nikah yaaaaa.. ^^