Wednesday, January 5, 2011

Hari yang Kocak dan Penuh Tawa

Rabu, 5 Januari 2010

Ini harus kutulis agar bisa kukenang dan tidak membuatku senyum-senyum sendiri.

 

 

Sehari kemarin itu cukup ‘padat’ kegiatanku. Dimulai dari datang ke kantor sangat siang karena baru bangun jam 7 pagi (salahkan 711 Senayan dimana malam sebelumnya aku dan beberapa teman ngobrol sampai jam 11), kemudian beli tiket musikal LP untuk kesekian kali (terkait nonton keduakalinya dan profesi calo) dan jogging di Gelora Bung Karno. Walau ada beberapa kejadian low, tapi highlight hari kemarin adalah tawa. Ini beberapa di antaranya.

 

Kocak 1

Kemarin itu kan alam dengan isengnya menurunkan hujan sedari pagi dan tidak berhenti hingga jam makan siang, walau hanya tinggal gerimis. Tapi, aku yang sudah menjadwalkan untuk pergi beli tiket musikal pas jam makan siang, tidak terganggu oleh gerimis itu. Maka, pergilah aku ke tukang ojek untuk mengantarku. Dan tukang ojeknya ternyata merangkap sebagai tukang tambal ban, jadi aku harus menunggunya memompa ban sebuah sepeda motor. Yaa..daripada jalan lagi di bawah gerimis untuk mencari pangkalan lain, maka kutungguilah.

 

 

Singkat cerita, tiket terbeli dan diamplopi sehingga tanganku memegang dompet, hape dan amplop itu. Karena riweuh ketika memakai helm, maka benda-benda itu kuletakkan terlebih dahulu di jok motor. Dan kelar pakai helm, aku kaget karena di jok hanya ada dompet dan hape. Amplopnya ga adaaaa..! Dan sumpah yg pertama terlintas di pikiranku adalah: ada yg mencurinya! Mengingat tiket kelas itu banyak dicari orang. Dan aku panik, “Amplop saya mana, Pak??”. Bapaknya bingung karena emang posisi dia kan memunggungi aku dan walaupun dia punya spion, jangkauannya kan bukan belakang punggungnya. Trus dia nengok ke bawah, ke genangan air dan…jderrr..amlopku terendam di sana! Yang namanya terendam pastinya tidak hanya basah ya..tapi kuyup tak menyisakan kering setitikpun. Dan pas kuangkat, bukan hanya lepek tapi juga peyot dan sangat mudah terobek. Kucoba melihat keadaan tiket di dalamnya: saling melengket dan cap tulisan tanggal dan jam tayangnya mulai memudar. Hiyaaa… Dan aku spontan ketawa, “Kocak banget si besok nontonnya pake tiket tak teridentifikasi gini.. Hahaha..”. Tadinya pengen ke ticket box lagi untuk tuker tiket, tapi resiko diketawain dan membuat orang-orang terheran2 tinggi, maka ku pulang saja.

 

Sesampai di kantor, tiket itu kugelar di meja agar kering. Dan pas kering, tentu saja keriting dan crispy.. ^o^

Kocak 2

Ada seorang temanku yang biasanya kita sering bertemu tapi karena kesibukan dan liburan akhir tahun untuk beberapa waktu kita tidak bertemu. Maka kami memilih-milih hari ketemuan, dimulai hari selasa dimana dia berpikir untuk ketemuannya di hari rabu saja. Tapi kubilang “Tak bisa..aku jogging..”. Maka dikusi berlanjut kemarin.

 

Dia: Kamis aja yuk ketemu sambil The Tourist atau apa gitu..

Tata: Tak bisa.. Kamis aku Khalifah-an..

Dia: oo.. Ya udah jumat yuk..

Tata: sip..sip..  [sesaat kemudian] Eeee… ga bisaaa.. jumat aku mau musikal LP!

Dia: gila ya, Ta..lo sibuk banget.. Ya udah sabtu..

Tata: hehehe… Sabtu aku di GalNas…nonton band ma film..

Dia: ya udah deh…kita ga usah ketemuan di dunia.. susah bener.. tar aja kita janjian di padang mahsyar!

Tata: ………………

Kocak 3

Dari seorang teman yang konon sedang tidak enak badan. Waktunya pas tengah malam pas aku sudah sangat siap untuk tidur. Beberapa waktu sebelumnya aku kan jogging berputar-putar GBK, lanjut makan salad buah dan yoghurt (lagi-lagi) di 711 Senayan, trus ngobrol dengan teman hingga (lagi-lagi) jam 11. Sesampai kosan mau ga mau mandi total dunk.. Selesai mandi, badan enaaakkk..segeeerrrr…walau agak2 capek. Dan aku siap tidur. Eh mendadak hujan turun. Badan capek + bersih + tengah malam + hujan = sempurna untuk tidur bukan? Kubayangkan tidurku akan nyenyaaakkk…

 

Tapi tiba-tiba masuk pesan ke hape dari temanku yg sedang tidak enak badan itu:

Tik tik tik hujan rintik di atas genting

Airnya turun merintik nitik

Lihatlah itik, tidur di batik

 

 

Dan aku langsung terperanjat, karena:

1.       Ko dia blum tiduuuurrr..kan katanya ga enak badan

2.       Ko dia bisa luchuuuu…

 

Temenku ini kadang emang luchu dan menggemashkan, tapi ga nyangka bisa seiseng dan sekocak itu. Jadi pas baca pesan dia itu aku langsung nganga dan ngakak, kayak pas denger SBY mengakhiri pidatonya dengan pantun dulu itu. Hahaha..

 

 

Dan ngantukku resmi hilang ketika dia mengirimkan lirik lagu itu, baris terakhirnya:

Ga perlu cantik yang penting ba..ik

Gyaaa…. Gimana aku ga cinta cobaaaa…

Dan sampai sekarang aku masih senyum-senyum tiap nyanyiin lagu itu.. I heart you, boy..! ^^ 

Wednesday, December 29, 2010

Sebuah Kebetulan yang Manis*

…jika tak mau menyebutnya keajaiban…

 

Di antara banyak manusia berlalu-lalang, banyak waktu berlintasan dan banyak tempat berserakan; alam menggiringku untuk ke tempat itu, di saat itu, untuk bertemu kamu. Ya, kamu.

 

Tanpa awal cerita dan rekayasa, kita berjumpa. Tanpa umbar pemikat, kita saling menyapa. Dan bukan atas siapa [kamu] yang membuatku terpesona, bukan pula tentang apa [tingkahmu] sehingga aku jatuh cinta.

 

Tapi satu hal kecil lagi sederhana yang menambatkan kita.  Kita sama sekaligus saling melengkapi. Aku suka makan, kamu suka memasak. Aku suka lagu, kamu suka bernyanyi. Kamu suka tertib dan aku suka antri. Tak ada kebetulan yang lebih manis dari ini bukan?

 

Yak.. bagiku, bertemu denganmu adalah sebuah kebetulan yang [sangat] manis...semanis kamu... ^^

 

 

 

 

 

p.s: aku imut dan kamu tinggi!

 

 

 

 

.....mengenang 2 Oktober 2009....

 

 

 

*hasil membajak dengan izin dari yang bersangkutan

 

Wednesday, December 8, 2010

Cinta yang Mengudara

 

Demi melihat senyum genitmu untuk dia, aku bahagia

Demi keterbukaanmu atas dia, aku bangga

Demi mengetahui siapa dia, aku suka!

 

Tenang kawan, tak [akan] ada persaingan untuk menjadi juara

Hanya ada cinta, untuk kita semua

Dan energi positif yang [semoga] semakin mengaura

 

Selamat bercinta…

 

 

 

……tak dapat berhenti tersenyum untuk seorang teman…..

 

Friday, December 3, 2010

Nekad Travelling_Tidung

Tak jadi ke Ujung Kulon, mendadak ke Tidung pun jadi

Warning: Panjangan prolognya daripada cerita intinya (sebelum diprotes seseorang)

John adalah temannya teman yang kemudian menjadi temanku karena ku menyamber keinginannya untuk kencan dengan wanita berjilbab di blognya. Itu 3 tahun yang lalu. John ini adalah orang Irlandia, bekerja di New York, dan tiap tahun datang ke Indonesia. 12 dari 18 hari cutinya dia habiskan di Indonesia selama 6 tahun terakhir ini. Untuk tahun ini jauh hari sebelum dia datang dia bilang bahwa dia mengosongkan 1 wiken untukku, dan pas kutanya mau kemana, dia bilang Ujung Kulon.

 

Maka kumulailah cari info tentang Ujung Kulon. Aku adalah tipe orang yang harus kebayang apa yang akan dilakukan. Aku bukan tukang jalan-jalan yang spontan. Rundown acara jalan-jalan itu wajib untukku. Nah, ternyata untuk Ujung Kulon ini agak sulit kulakukan, sumber infoku ngambang semua. Oleh karena itu walau aku tetap menyusun planning & budgetingnya, ku berharap akan batal ^^ Dan alasan utamaku batal kencan adalah interview Kineforum, kondangan ke Tangerang, Jiffest dan JGTC di hari yg sama.

Harapan Batal 1

Cuaca yang tak menentu, Krakatau yang batuk-batuk, pertanda menuju pembatalan itu.  Jadi, kunyatakan ke John kalau Ujung Kulon resmi batal karena cuaca. Tapi, pas tau dia ga punya plan B, ku jadi ga tega membiarkan dia luntang-lantung di Jakarta. Kuhubungi temanku, si Ari,  yang punya plan B berupa Tidung, di jumat malam, kubilang aku dan John mau join. Jadilah kita ke Tidung berempat: aku, john, ari dan desy temannya Ari.

 

Harapan Batal 2

Jumat malam itu si John baru jalan balik dari Bandung via Sukabumi. Sampai jam 11 malam, dia masih di jalan entah dimana. Dan kubilang “Kamu yakin besok mau jalan2 sedangkan sekarang kamu pun masih di jalan?”. Kan kubayangkan dia pasti capek, trus esoknya pengen hibernasi seharian. Ternyata dia menjawab “no problem. Daripada nganggur di Jakarta”. Baiklah..

Harapan Batal 3

Untuk menyebrang menuju Tidung itu ada 2 cara:

1.       Via Muara Angke

Jam keberangkatannya pagi buta, paling siang jam 7.

2.       Via Muara Cituis aka Rawa Saban

Jam keberangkatan kapalnya manusiawi, yaitu jam 11.

Nah, kukasih taulah ke si John kalau kita musti ada di Angke jam setengah 7, karena di antara kita semua ga ada yg tau jalan ke Cituis. Kubayangkan dia akan jadi males karena tengah malam aja dia masih di jalan kan? Dan dia menjawab “just lemme know when and where we should meet tmr”. Duh..persistent ajah dia.. Dan ternyata yg ga sanggup pagi-pagi nyampe Angke bukanlah John, tapi si Ari . Hiyaaa..jadi mau ga mau kita lewat Cituis. Ku cari info tentang Cituis melalui si Senja dan ku lumayan dapat gambaran perjalanannya.

Harapan Batal 4

Citus itu letaknya ada di Tangerang sana. Rencana awal adalah, kita ke Tangerang trus sewa angkot untuk antar ke Cituis. Dan serasa dapat pencerahan, pas subuh2 Senja bilang “Aku tauuuuuu…”, dan dia menjelaskan cara mudah menuju Cituis:

. naik DAMRI ke bandara

. lanjut taksi ke Cituis

Karena jadwal kapal nyebrangnya adalah jam 11, maka kutentukan kita jalan dari blok M jam 9.

Aku bayangkan, si John bakal tepar jaya, jadi dia bakal kesiangan dan telat menuju blok M. Kalau dia telat kan kita juga bisa telat nyebrang. Batal deh.. Ternyata eh ternyata, jam setengah 9 dia menelpon dan bilang bahwa dia sudah berada di dekat bis DAMRI. Dan itu aku baru mau jalan. Hiks..

Harapan Batal 5

Kuharapkan macet, ternyata lancar jaya. Hanya butuh 40 menit untuk mencapai bandara. Supir taksi yang ga tau Cituis pun pantang menyerah bertanya ke banyak orang di bandara itu. Maka jalanlan kita menuju antah berantah itu.

Seruuu.. lewatin rumah-rumah tradisional, jalan yang kita lewati digelari gabah padi yg dijemur..trus papasan sama kambing juga.. Nanya orang di tiap simpangan jalan, dan jawabannya serupa “Oh..lurus saja, nanti perempatan belok kanan”. Beuh..kita dah jalan jauuuhhh, tuh perempatan ga ketemu-ketemu. Nanya lagi, jawabnya sama lagi.. Dududu..

Hingga tiba-tiba si bapak taksi belok kanan, padahal bukan perempatan “Pak, ini pertigaan bukan?”. Dan dia “Tapi ada petunjuk jalannya tadi..”. Oh okay.. Dan ini makin mengantahberantah. Lewatin sawah-sawah.. Pas udah jauh, dan waktu menunjukkan 10.30 dan makin tidak mengarah, kuminta untuk nanya ke orang. Dan jawab orang itu, “Oh..salah jalan.. Putar balik, nanti ketemu jalan utama, ke kanan. Lurus saja, perempatan baru belok kanan”. Gubrak..

Anehnya, aku tidak panik. Sementara 2 temanku mulai bertanya2 ini jam berapa. Kubayangkan, kita sampai sana jam sebelas lewat dan kapal sudah berangkat. Hohoho.. Si Desy, bertanya apakah dia harus menelfon tempat menginap, kubilang nanti saja. “Belum tentu kita jadi nyebrang..hohoho..”, dalam hatiku berkata begitu.

 

Perjalanan lanjut dan akhirnya aku melihat laut di kanan jalan dan kapal-kapal perahu. Hwuaaa… Sampai jugaaa… Setelah kebablasan dikit, kita masuk ke jalan tanah, becek, berlumpur gitu. Pas pintu taksi dibuka, beuh..baunya ikaaaaannnn bangeeeettt… Ternyata itu belom sampai, kata petugas pintu masuk “Masih jauh..lurus terus sampai mentok di Labuan”. Hoooo..

 

Dan pas kita liat wujud kapal dan pelabuhannya.. Kita semua tergelak. Ga nyangka seseru itu!

Dan ternyata karena banyak barang-barang yg musti diangkut, jadi kapal berangkat jam 12. Kita terbawa deh… ^^

 

Perahu yang menyeberangkan kita merupakan alat transportasi yang membawa penduduk Tidung dari dan ke Tangerang. Jadi di dalam perahu itu isinya selain manusia adalah barang-barang belanjaan, mulai ayam, minuman botol, beras, bensin dan ada juga sepeda motor. Tak ada tempat duduk atau bangku. Semua penumpang duduk ngampar di lantai kayu. Dan karena padat, maka tak bisa selonjoran. Dua jam seperti itu. Mantap!

Dan akhirnya setelah 2 jam di laut, berasa syuting Monsters (langit menggelap, hampir hujan, angin lebih dari sepoi2, eh si John mulai jeprat jepret), akhirnya kita sampai di Pulau Tidung!

 

TIDUNG ITU MENGAGUMKAN!

Aku kagum mendapati bahwa Tidung adalah sebuah kecamatan. Artinya orang-orang itu menetap di sana, hidup di sana. Bayangkan! Di tengah laut! Transportasi ke Jakarta darat jarang. Tak ada sarana hiburan (baca = bioskop). Tak ada mobil, tak ada kereta, jalanannya tak lebih lebar dari tiang bendera. Tak ada pasar, tak ada sawah, tak ada kolam renang. Tapi mereka hidup di sana! Wow…!

Alat transportasi mereka adalah sepeda motor dan sepeda. Bentuk jalanannya seperti di perkampungan padat di Jakarta, sempit dan bercabang-cabang dan banyak polisi tidurnya. Rumah-rumahnya beragam, dari sederhana hingga bergaya.

Fakta menarik yang kutangkap adalah, banyak dari rumah-rumah itu merangkap sebagai warung kebutuhan sehari-hari. Sebagai orang yang tidak bisa berdagang, ku bertanya-tanya: lakukah? Kan pembelinya ya tetangga-tetangga mereka juga. Sedangkan warungnya banyak juga. Itu gimana ‘rebutan’ konsumennya yah? ^^

Fakta menarik lainnya adalah bisa dibilang hampir semua rumah berfungsi ganda: tempat tinggal dan disewakan untuk pengunjung, ‘home stay’ istilahnya. Dan inilah yang mengobrak-abrik fantasiku tentang Tidung. Kupikir (dan John pikir juga), Tidung adalah pulau wisata, jadi kita akan tinggal di penginapan yang menyediakan semuanya (alat mandi dan makanan). Ternyata, Tidung adalah pulau hunian. Kita tinggal di rumah orang tanpa fasilitas apapun. Jadi, rumah mungil itu terdiri atas 1 kamar mandi, 1 kamar tidur dan ruang depan berisi kasur dan TV. Itu bukan masalah bagiku, karena aku membawa peralatan mandi. Bagaimana dengan John? Bawaan dia lebih banyak dari aku, dalam hal dia gendong tas dan nenteng juga, sedangkan aku hanya gendong. Ternyata, yang digendong dia itu adalah kamera saja. Jadi, untuk ke Tidung ini dia hanya menyiapkan 1 kaos, 1 celana dan 1 buku financial engineering! Hoho… untung si Ari berbaik hati untuk sharing handuk ^^

Setelah fantasi tempat tinggal terobrak-abrik, berikutnya adalah makanan. Kupikir, namanya tempat wisata pastinya akan banyak tempat makan dunk. Ibarat kata kumau apa saja, tinggal datangi saja. Makanya pas sebelum nyebrang si Desy menanyakan apakah kita mau pesan makanan atau tidak, kujawab “Ga usah.. Tar aja kita cari”. Hiyaaa.. Sotoy tingkat tinggi! Dan pas sampai di sana dan mendapati tak ada warteg atau restoran padang, aku mengerti kenapa Desy menawarkan untuk pesan makanan sejak dini.

 

APA YANG BISA DILAKUKAN DI TIDUNG

Itulah pertanyaanku kepada Desy. Karena aku bukan fans dari laut, ga suka basah ga suka lembab ga suka lengket berpasir. Dan Desy menjawab “Kalau di sini andalannya adalah sunset, sunrise, snorkeling, diving”. Baiklah.. Karena mendadak, packingnya pas mau berangkat, jangankan baju buat berenang, lha buat tidur aja ga bawaaaa… =(

Trus, daya tarik berikutnya adalah jembatan penghubung Tidung Besar dan Tidung Kecil. Di jembatan itulah tempat untuk menikmati sunset dan sunrise berada. Nah, kita tinggalnya di ujung lain dari jembatan itu. Untuk menuju jembatan itu, kita menyewa sepeda. Dan karena aku tidak dapat mengendarai segala sesuatu yang beroda, maka diboncenglah aku. Dan itu sakiiiiiittt… Tempat duduknya kan dari besiiiii… Maka, esok harinya pas mau liat sunrise, pas dibilang naik sepeda lagi, aku langsung dengan sigap berkata “Ga mau! Aku ga ikut! Mending jalan!”. Dan tring! Sekalian jogging sajaaaa.. Maka, jogginglah aku di subuh hari di pulau tidung, seorang diri. Dan karena bolak-balik, artinya aku sudah jogging 1 putaran Pulau Tidung! Hohoho..

Snorkling dan diving kita lewatkan, karena ga ada yg minat ^^ Jadi tak ada cerita

 

Bintang yang katanya indah, juga kita lewatkan. Kenapa? Karena kita capek, jadi jam 8 sudah tidur. Kata seorang teman “Apa gunanya ke Tidung kl hanya untuk tidur?”. Dan kubilang “Lho? Bukannya inti dari liburan itu adalah relaxing? Kl ku bisa tidur nyenyak, 9 jam lamanya, tujuan tercapai dunk…”. Hoho..

 

PULAU-PULAU ANTARA TIDUNG-PRAMUKA

Jadi, untuk kembali ke Jakarta darat, ada kapal dari Tidung ke Angke di jam tujuh pagi. Dan tentu saja kita tidak mau naik itu: kepagian, ga ada kesempatan liat-liat pulau lain. Maka diputuskan untuk menyewa perahu untuk mengantarkan kita ke Pulau Pramuka agar kita bisa naik kapal ke Jakarta jam 2.

Kapalnya mungil, pas lah untuk ber4. Tapi leleeeett..jalannya pelaaannn.. Atau memang kecepatan perahu itu segitu yah? Atau karena tak ada pohon2 di sekitar jadi tak terasa kalau jalan yah? ^^

Beberapa pulau hanya kita lewati saja, di antaranya Pulau Karya yang merupakan pulau makam warga pulau seribu. Hmmm..aku membayangkan seru juga yah kalau ada yg meninggal pemakamannya pake perahu iring2an.. Jadi inget Contracoriente juga.. ^^

Trus kita lewat di Pulau Air yg baguuuuss… Pulau tipis terbelah dua, kita lewat di antaranya. Warna airnya indah! (fotonya udah yah kemaren di teaser).

 Sebenarnya kita ditawari apakah mau turun dulu atau tidak. Tapi selain karena ga mau ngrepotin nakhodanya, juga karena ga ada yg banci foto2 selain aku, dan karena ngeri aja ketinggalan kapal dari Pramuka nanti, jadi kita hanya lewat saja.

Pulau Keramba, adalah pulau penangkaran ikan.

Ada hiuuuuu… Lucu deh, mulus kayak lumba-lumba!

Dan habis itu pulau Pramuka. Di situ ada penangkaran Penyu dan Kupu-kupu. Tapi karena itu hari minggu, tutup. Kata penjaganya “Kerja atau enggak kerja kalau hari minggu saya ga dibayar!”. Dududu..biasa aja dunk, Pak.. ^^

Dan ternyata benar adanya, kapal dari Pramuka menuju Angke berangkat jam 1, bukan jam 2 seperti kabarnya. Dan kita sampai sana jam 12an. Pas!

Dan setelah menempuh perjalanan dalam suasana agak berkabut selama 2.5 jam, dengan kabar bahwa di Jakarta hujan menggila, sampailah kami di Angke. Kemudian naik angkot sampai terminal Grogol. Trus John bertanya “Naik apalagi kita?”, dengan semangatnya. Dan aku dengan tak kalah semangat menjawab “TAKSI!”. Mana kutau dari grogol menuju Kuningan naik apaaaa…

 

Yak itulah laporan kencanku wiken kemaren!

 

Makasih untuk Ari dan Desy yang menemani dan menjadi guide kami.. Lain kali lagiii…

 

 

 

Untuk foto lebih lengkap bisa dilihat di fesbuknya Ari. Lebih lengkap lagi, seminggu lagi setelah the D700-guy balik ke negaranya dan mengolah foto2nya ^^ "Blum tentu ku upload semua juga lho yah..kl menurutku ga bagus, kuapus", itu pesannya. Hiks..

 

 

 

 

 

Monday, November 29, 2010

[pemanasan] Tidung-ku

..jadi kencan ke Ujung Kulon bersama John, batal dan sangat mendadak berganti ke Pulau Tidung..

 

Pengen buat cerita laporannya, tapi blum kelar.. Jadi ini nyicil dulu yah.. Ibarat film ini adalah teasernya.. ^^

 

Ini tanpa turis...

 

dan ini dengan turis..

 

 

Kerreeennn yaaa.... ^^

 

Kisah selengkapnya, segeraaa... ^o^

 

Wednesday, November 24, 2010

ONROP_NO HOPE?

Rating:★★
Category:Other
Adalah sangat sulit untuk menuliskan review dari sesuatu yang tidak mengesankan [sama sekali].


Warning: kata ‘penonton’ sengaja diganti menjadi ‘aku’ semua, untuk menghindari generalisasi dan untuk menunjukkan bahwa ini murni pendapat pribadiku.


Onrop! Musikal ini, faktor penarikku menontonnya adalah tagline-nya “Sebuah Komedi Satir Bagi Yang Masih Percaya Akan Kekuatan Cinta”. Sebuah komedi satir!. Pengalamanku menonton suatu pertunjukan langsung, baik itu teater, monolog, atau pembacaan puisi, komedinya itu tuh ganas! Lucu-nya tuh smart dan pasti membuatku ngakak dan reflex tepuk tangan di tempat, saat itu juga. Bahkan pidato kebudayaan pun, yang 'hanyalah' pidato, bisa membuatku ngakak guling-guling. Maka, dengan mengabaikan siapa yang membuat, siapa yang terlibat atau critanya tentang apa, aku memutuskan untuk menonton. Satu keyakinan yang kupunya: ini akan menjadi suatu kejutan.


Aku bukan jenis orang yang bisa membaca buku untuk kedua kalinya, menonton suatu film dua kali (pun dua kali adalah karena pasti menemani orang). Kenapa? Karena ku tidak bisa menikmati sesuatu yang pernah kunikmati sebelumnya. Yang keduakalinya pasti ga senikmat yang pertama. Dan mengutip kalimat seorang teman (baca = Ardi), adalah menyebalkan ketika kita sedang menikmati sesuatu, kemudian apa yang kita nikmati itu mengingatkan kita pada hal lainnya. Nah, tambahkan kelemahan memoriku dalam momen menyebalkan itu, sedang menonton sesuatu kemudian ingat bahwa apa yang sedang ditonton mirip dengan tontonan lain, tapi ga bisa ingat apa itu. Hasilnya adalah gatel otak akut.


Onrop! Musikal yang menjanjikan sebuah komedi satir melalui tagline-nya, ternyata berisi guyonan-guyonan yang bukan komedi apalagi satir. Namun dia selamat dari menyebabkan kegatelan otakku. Bukan karena memoriku mengalami perbaikan, tapi karena begitu kentaranya guyonannya mirip siapa. Tak ada yang lucu satu pun dari semua komedi yang ditampilkan. Entah berapa kali aku berkata “Apaan si?” dan saling memandang dengan tetanggaku, karena bingung ada saja yang tertawa. Ada kalanya aku berkata “Ko picisan yaaa..”. Dan sering juga juga berkata “Fail!”. Pokoknya bagiku semuanya garing jaya. Dan perlu kusampaikan juga, aku tidak bisa dibuat tertawa oleh guyonan fisik, misalnya jatoh. Dan Onrop memberikan adegan cewek nempel di dinding karena kepepet pintu yang sedang dibuka. Aku juga bukan penganut becandaan terkait sex, jadi aku tidak bisa tertawa pada “SELIJI = keselip di biji”, apalagi dada besar sebagai pelampung di laut (selain main fisik, juga basi).


Tak ada sesuatu yang baru dan segar yang ditawarkan oleh cerita Onrop! Semuanya sudah pernah kudapatkan. Bahkan pada bagian yang menurutku dimaksudkan sebagai misi penyetaraan gay pun, bukan hal original buatku. Penampilan apa-apa yang disindir pun basi jaya: baby sitter, penari jaipong, atlit2. Kemudian (yg mungkin) penyebab klimaksnya yang membawa cerita ke pulau Onrop pun datar “kita musti telanjang’. Hadeuh.. Pokoknya dari segi cerita dan komedi, Onrop no hope deh.. Membuatku bertanya-tanya kemanakah yang namanya si Kreatif pergi (karena kalau aku mempertanyakan selera humorku, tar dibilang labil..). Pesan yang sepertinya ingin diemban, disampaikan literally dalam kalimat kaku “norma adalah bla..bla..”, atau “agama adalah bla..bla..” dan ada juga “buat apa kekerasan kalau kita bla..bla..”. Pesan yang bagus..tapi penyampaiannya itu lhoooo.. Ga nampol ajah!


Bagaimana dengan musik dan lagunya? Dalam promosinya, si sutradara menyatakan (dengan bangganya) bahwa orkestranya live dan pas baca itu aku langsung “Yaeyalaaaahhh.. Masa iya mau playback atau minus one?!”. Jadi, dengan statement beliau itu, aku tidak berharap banyak pada musiknya, karena bagi sang sutradara sepertinya yang penting live. Dan memang, entah karena faktor komposisinya atau apa, musiknya tak ada yang memerindingkan. Untuk lagu, lebih tepatnya lirik, karena asalnya adalah sama dengan si pembuat cerita, jadi yaaa setali tiga uang. Kalau ga mau dibilang jayus, ya garing. Cuma satu yang kusuka, 'kl ga ada kamu..apa gunanya'. Beberapa lagu sudah bisa di-download dari jauh hari, sehingga aku bisa mendengarkannya dan tahu liriknya. Tapi banyak lagu lain yang benar-benar lagu baru. Nah, dalam pertunjukan musikal, lagu merupakan bagian dari jalan cerita bukan? Apa jadinya ketika kita berusaha mengikuti cerita yang sedang disampaikan melalui lagu, tapi ternyata beberapa kata tidak terdengar jelas? Bertanya pada tetangga pun sama ‘budheg’nya. Membuka katalog pertunjukan? Lha isinya foto-foto pemainnya semua. Yak, katalognya berisikan foto-foto dan profil para pemainnya dan sponsor. Padahal menurutku baiknya lirik lagu itu ada di katalog, sehingga ketika menunggu gong berbunyi 3 kali, aku bisa membacanya sehingga ketika mendengar lagunya dinyanyikan, sudah bisa meraba dan tidak akan keteteran.


Tata panggung. Salahkan aku yang termakan provokasi twit idolaku yang menyatakan bahwa artistik Onrop sangat memuaskan dan akan ada surprise di tiap pergantian scene. Ekspektasiku melambung karena itu. Dan Onrop tidak mencapai ekpektasiku itu. Keren si keren..(beberapa), paling kusuka adalah yang di awal Act2, pohon warna biru dan background nya merah menyala (atau kebalik yah? Lupa..). Itu membuatku terpukau dan tersenyum, suka liatnya! Lampu dan tata cahayanya juga kadang keren, tapi bukan sesuatu yang wow. Kemudian, apresiasi juga kuberikan untuk banyaknya scene yang digunakan yang artinya pergantiannya jadi sering. Nah, catatanku di pergantian scene ini adalah tidak terperhatikannya moodku. Pergantian scene dilakukan dengan meredupkan lampu di panggung selama kru-kru berbaju hitam mengangkat properti, musik sunyi. Meski hanya sebentar, situasi seperti itu menurutku membuat ku mati gaya. Mau ngobrol, kesunyiannya terlalu kudus untuk dicemari. Mau nonton ke depan, ga ada yang bisa ditonton juga. Sebenarnya ada dua pilihan untuk pergantian scene ini. Satu: gelap gulita total seperti yang dilakukan Nyai Ontosoroh. Waktu itu tiap properti difasilitasi dengan panggung mini yang beroda. Sehingga, kru yang bertugas cukup menarik keluar atau masuk pentas. Unsur surprise kena, walaupun menyiksa mata yang harus beradaptasi. Pilihan kedua adalah: melibatkan kru pengatur set ke dalam pertunjukan, seperti yang dilakukan (okeh..aku lupa) kalau bukan Gandrik ya Koma. Jadi, kostum para kru itu tetap hitam namun agak berhias. Kemudian mereka masuk ke panggung dengan sedikit akting, entah itu lari-lari kecil, entah koprol, pokoknya lucu-lucuanlah. Ya namanya juga pertunjukan komedi kan? Jadi aku tetap punya tontonan dan terhibur.


Koreografi. Bagus jika disajikan terpisah. Terlalu sayang jika dinikmati sebagai pelengkap cerita. Bayangkan, telinga dan otak bekerja untuk menangkap lirik lagu yang dinyanyikan pemeran utama. Selain itu mata ku juga harus mengikuti gerakan si pemain utama. Tapi, ujung mata juga menangkap tarian-tarian para ensamble yang jumlahnya tidak sedikit dan tersebar merata di panggung. Dan masing-masing gerakan mereka itu menarik. Mau lihat adegan berkasih-kasihan dua lelaki di kanan panggung, tapi di kiri juga ada satu lelaki cium2 tubuh perempuan. Di tengah belakang ada juga. Hadoooohh..mataku kan cuma duaaaaa… Jadi, ku memikirkan adanya pagelaran tari saja. Kan kalau film ada CD soundtrack yang dijual terpisah dan bisa dinikmati sendiri. Nah, kupikir untuk Onrop, perlu dipertimbangkan pagelaran tariannya saja. Soalnya kalau lagunya didengarkan terpisah, ummmhhh..liriknya akan membuat kita mengernyitkan dahi.


Jadi, kalau aku harus menilai, maka
Koreografi : 7
Musik dan lagu : 5
Tata panggung & cahaya : 6
Cerita dan humor : -3
Rata-rata: 3.75. Not bad lah ya…


Kesimpulannya bisa 2:
- dududududu.. cukup sudah..jangan ada lagi.. “kalau cuma terima yang basi, maka pasti dilibas”, lirik lagu (yg mungkin judulnya) Mayoritas Bersuara by Joko Anwar

- ‘There’re a lot of rooms for improvements’ , testimoni Dirgayuza.


Tergantung kamu masuk kategori mana dari pembagian yang dibuat oleh sang sutradara: pembenci atau pecinta ^^



~sengaja dikeluarkan ketika pecan Onrop telah berlalu, demi tidak menggiring opini calon penonton dan demi dinginnya kepala dan hati~






Pfuuuhh..akhirnya publish juga setelah rombak berulang kali ^^



Baca juga review lainnya yah untuk pelengkap (terutama bagian cerita) dan penyeimbang.. ^^
1. Ardi punya: http://arddhe.multiply.com/reviews/item/211
2. Mikael punya http://oomslokop.posterous.com/onrop-sebuah-komedi-satir-bagi-yang-masih-per
3. Mumu punya: http://rumputeki.multiply.com/reviews/item/129
4. Candra punya: http://nggacor.multiply.com/reviews/item/371


Sunday, November 14, 2010

QhoirSingers Male Vocal Ensamble_Membangkitkan Jiwa Remajaku

Rating:★★★★
Category:Other
Karena baru nonton Onrop-nya besok, tapi hasrat untuk mereview sesuatu menggebu-gebu (demi mengimbangi demam Onrop yang mulai memanas), maka inilah salah satu pertunjukan yang sangat kunantikan di bulan November.


9 cowok bersatu dan bernyanyi diiringi piano.


Bayangkan sembilan cowok, dijejer-jejer, megang mic semua, dan semuanya bernyanyi disertai koreografi! Siapa yang tak klepek-klepek dibuatnya..!


Bertempat di FX Music, Xpander studio, pertunjukan yang hakikatnya adalah sebuah GR (Grand Rehearsal) menjadi begitu hidup dan indah. Karena aku masih menderita buta angka, jadi aku tidak dapat menggambarkan ukuran ruangannya. Tapi kira-kira beginilah settingannya. Antara tempat pentas dan bangku penonton, tidak berbeda tingginya. Bangku-bangku diatur rapi menjadi 2 sayap, masing-masing sayap ada sekitar 25 bangku. Jadi totalnya adalah 50 bangku, dengan masih ada sisa tempat lumayan luas di bagian belakangnya. Nah, untuk bagian depan, bagian pentasnya, pengaturannya sungguh cantik. Di sisi kiri adalah grand piano warna hitam kelam. Kemudian, dindingnya ditutupi dengan dekorasi mirip sebuah kamar (interpretasi pribadi..hehehe.. Lihat gambar sajah..). Sederhana tapi cantik dan indah. Pencahayaannya juga mendukung suasana adem-nya.
Malam itu tema kostum mereka adalah white (jadi inget Sundaze White yang kutonton di Paranoia, jadi inget juga Katalis-ku yang dresscode nya juga jins + putih). Semua personil Qhoir jadi nampak bright, cute and charming. Dan saat mereka mulai bernyanyi, dudududu..menggemaskan!


Lagu yang mereka bawakan ada 6: Till There was You (musical of Music Man), Indonesian Movie Soundtrack Medley, A Tribute for Alm. Chrisye, Vina Panduwinata Medley, Selection from The Sound of Music, Mamma Mia! Medley, dan terakhir adalah lagu mereka sendiri: Musik Kami.


Setiap nomor komposisi lagu, diawali dengan sedikit narasi tentang lagu-lagunya yang disampaikan oleh dua personil secara bergantian. Kemudian mereka mulai bernyanyi. Lagu pertama sangat berhasil dalam memanaskan suasana. Diawali dengan harmoni yang merdu dan diakhiri dengan irama yang ceria dan agak centil, benar-benar membuatku sumringah dan bersemangat.


Lagu-lagu berikutnya semakin menghipnotis penonton untuk menikmatinya. Bahkan aku lupa untuk mengambil gambar karena terbuai dengan lagu-lagu, terpikat untuk ikut bernyanyi dan menari. Unsur koreografinya, sederhana tapi pas dan mengena. Tidak ada pergantian posisi berdiri di antara personil, tidak ada atraksi-atraksi melibatkan kursi diputar-putar (kayak di As Long as You Love Me-nya Backstreet Boys), tapi enak dilihat, lucu dan itu tadi, menggemaskan! Apalagi pas gaya bebas, wow..ada satu personil yang banci tampil banget dan dia benar-benar memikat! ^^



Lagu penutupnya, meski lagu baru pertama kali kudengar, langsung nuncep di otak. Bagus! Dan ketika narasi penutupan disampaikan oleh salah satu personil, 8 lainnya tetap menyanyikan lagu itu dengan lembut. Wow..kerrreenn..

Untuk ukuran grup yang baru berumur 5 bulan, dengan tambahan 2 personil baru kurang lebih sebulan, QhoirSingers kubilang sangat mengagumkan. Mereka menyanyikan 6 komposisi di atas secara non-stop. Tanpa adanya jeda minum atau iklan, yang menurutku perlu dipertimbangkan. Selain memberi kesempatan mereka bernafas, juga buat penonton untuk saling berbagi betapa kerennya penampilan lagu tadi. Karena untuk aku yang memiliki short term memori lemah, setelah pertunjukan selesai, agak tertatih-tatih untuk membahas dengan teman-temanku bagian mana yang kusuka, mana yang suka banget.


Grogi adalah catatan lain dariku, terutama ketika menyampaikan narasi, yang menurutku cukup wajar. Meleset nada, juga sesekali terjadi, tapi itu bisa diabaikan. Gerakan koreo ada yang agak out of beat, juga tak apa.. ;)


Di tengah-tengah pertunjukan, aku merasakan sensasi masa remaja saat aku tergila-gila pada boyband. Dimana aku dan teman-temanku saling memilih personil idola masing-masing dari boyzone, westlife, dll. Nah, ternyata untuk Qhoir ini pun terjadi lagi. Aku dan partnerku langsung punya idola gitu.. ^^ Dan selesai nonton, kita kan makan. Sepanjang makan obrolan kita adalah Qhoir, Qhoir dan Qhoir, tak ada bosan-bosannya membahas mereka sampai tengah malam. “Ko kita kayak jaman SMP dulu gini yah?”. Fufufu.. Qhoir berhasil membangkitkan gejolak jiwa mudaku!


Sangat berharap mereka membuat rekaman baik untuk diupload, dijadikan RBT ataupun dipasarkan dalam bentuk CD.


Sementara itu aku mau ngapalin nama masing-masing 9 personil Qhoir. Saat ini aku menyebutnya dengan si nomor 4, nomor 3, berdasarkan posisi mereka berdiri ^^ Pssttt..idolaku adalah si momor 1 dan nomor 4! Nomor 2 juga.. *kemaruk*


Oiyah! Penyampaian etika/ peraturan menonton di awal kupikir patut untuk dicontoh. Disampaikan aturan sederhana: tidak boleh makan, minum, merokok; tidak boleh keluar masuk; boleh mengambil gambar dengan apapun asal tidak menggunakan lampu kilat; semua alat komunikasi dialihkan ke nada getar atau silence. Kusuka aturannya! ^^


Photo by: Pepito

Silakan follow mereka di @QhoirSingers atau fesbuknya, Qhoir (kayaknya..)