Monday, January 17, 2011

Terasing di Rumah Sendiri

 

…menjadi asing di tempat yang tidak asing, adalah indah…

-Mumu Aloha-

 

Kupikir ada benarnya juga kalimat itu. Kadang berada di antara orang-orang yang kita kenal justru tidak menimbulkan rasa nyaman. Kadang kita pergi ke suatu tempat, sendiri, untuk menikmati kesendirian. Dan ketika seperti itu dan kita bertemu dengan orang yang kita kenal, efeknya bisa menaikkan mood tapi bisa juga sebaliknya.

 

Contohnya, di bis. Saat-saat di bis adalah saat sendiri. Sambil melihat keluar tak tahu jelas apa yang dilihat, pikiran kita adalah bebas. Kita bisa melamun, berkhayal, berimajinasi bahkan membuat draft tulisan atau kerjaan. Tentu saja itu sebelum Twitter menginvasi (ku). Nah, ketika sendiri dengan segala imajinasi itulah nikmat datang. Apalagi jika ada backsound dari pengamen, duh rasanya seperti sedang buat video klip ajah gitu. Maka, ketika tiba-tiba muncul orang yang kita kenal yang mana pastinya mengharuskan kita untuk saling menyapa dan bertukar cerita, entah basi entah berisi, musnahlan nikmat dan nyamannya dunia.

 

Contoh lain, di tempat pertunjukan, sebutlah TIM. Aku sering datang ke tempat itu seorang diri. Aku merasakan kenyamanan datang seorang diri karena aku tidak perlu terlibat obrolan seputar acara atau nostalgia acara. Kadang aku menonton pertunjukan itu untuk memberi hiburan pada diri sendiri, duduk dan menikmati. Aku terlalu capek untuk mengingat-ingat pementasan 2 tahun lalu yang bertempat di tempat yg sama salah satu pemainnya ikut bermain juga di pentas kali ini, aku tak sanggup membandingkan pentas A dan pentas B. Jadi, dengan datang sendiri, otakku tak terbebani. Aku hanya perlu sedikit beramah tamah dengan sekeliling, mengobrol seperlunya sebelum layar terangkat.

 

Begitulah…  Ada kalanya aku betul-betul mendamba untuk menjadi orang asing di tempat yang tak asing.

 

Tapi kali ini terjadi sebaliknya. Aku menjadi asing di tempatku sendiri, dan itu sangatlah tidak nyaman. Aku ingin berkata “aku merasa asing dengan inbox multiply ku sendiri”. Tiap buka MP, inbox ku berisi postingan-postingan yang, sorry to say, tidak dalam peminatanku. Men-delete adalah salah satu usahaku untuk menjadikan inboxku tidak asing bagiku. Tapi ketika jumlah postingan kategori itu jauuuhh lebih banyak dari postingan yang kutunggu-tunggu, klik tanda silang adalah melelahkan dan kadang memfrustrasikan. Aku mencoba bertanya-tanya, kenapa bisa jadi begini? Salah satu sebabnya mungkin kontak yang dulu selalu kutunggu-tunggu sudah lumayan banyak yang tidak aktif lagi, dan sebaliknya postingan asing begitu produktif sekali sehingga ‘menutupi’ kemunculan postingan yang kutunggu. Dan yang tak kalah berkontribusi adalah fitur QN makin merajalela penggunaannya.

 

Ada seorang teman yang menyatakan kehilangannya akan aku di MP. Aku tidak menyangkalnya, karena memang porsi waktuku untuk MP berkurang banyak. Karena rasa keterasingan itu tadi. Tapi, aku tetep rutin tiap hari buka MP kok, tapi tiap kali itu pula aku merasa asing, scroll, tutup lagi. Sorry… :(

 

 

 

IDOLA BARU!

…satu oleh-oleh nonton Musikal Laskar Pelangi…

 

Hampir sebulan lalu aku menonton pertunjukan Musikal Laskar Pelangi (MLP) untuk pertama kalinya. Sebenarnya aku tidak ada motivasi khusus ketika menonton pertunjukan ini. Aku tidak (sanggup) membaca bukunya dan aku tidak menonton filmnya. Aku bukan fans dari Mira Lesmana dan Riri Riza, aku baru mendengar nama Hartati sang koreografernya. Erwin Gutawa? Jujur aku tidak begitu terpukau dengan karyanya, bahkan pernah kesal padanya ketika dia ‘merusak’ lagu-lagu Siti Nurhaliza di konsernya di Inggris sana. Jay Subiakto? Aku tidak begitu mengenal dia, karena selain jarang muncul di acara gossip, karya dia (kupikir) juga bukan merupakan konsumsiku. Hanya aku mendengar bahwa dia baru saja membuat pertunjukan Matah Ati di Singapura dan dia ‘dibenci’ pemain karena memiringkan panggung demi penonton bisa melihat aksi panggung secara komplit. Ketika membaca berita itu di Kompas, aku mencatat namanya (di hati) ^o^

 

Jadi, motivasiku nonton MLP selain untuk memperkaya tontonan juga untuk Jasmine. Kapan lagi aku bisa mengajak Jasmine kencan dengan tontonan jenis baru kan? “Jadi kita mau nonton Laskar Pelangi yang orangnya asli?”, Jasmine menyimpulkan arti kata ‘live’.

 

Dan ketika menonton, bukan hanya Jasmine, aku pun klepek-klepek dibuatnya. Dari layar diangkat Jasmine sudah terpekik “Wah..lucu sekaliii ada mobil di panggung!”. Sedangkan aku “Amiit..niat ajah yah..”. Dari segi cerita, menurutku sederhana namun runut. Musik dan liriknya menghipnotis. Begitu lagu pertama dimainkan, aku langsung berkata “Aku harus beli CD nya!”. Liriknya lugas, bukan puitis, tapi tidak kaku, dan sedikit mengingatkan pada lagu-lagu jaman Petualangan Sherina dulu. Koreografinya, luar biasa pas. Kompak dan bersatu dengan musik dan adegannya. Juaranya tentu saja tata panggungnya, lebih tepatnya production design-nya. Bukan sesuatu yang wow atau wah, tapi memanjakan mata. Bukan sesuatu yang dahsyat secara visual tapi cukup mengejutkan.

Kejutan-kejutan kecil muncul dengan teratur dan terus-menerus, tak ada kesempatan kita untuk bosan. Ibarat pacaran, aku tidak jgerr dikasih istana, tapi dikasih kopi pagi, kemudian agak siangan dikirim bunga, sorean dapat SMS luchu, ya gitu-gitu deh. Jadi, sebentar-sebentar aku akan menahan nafas takjub, diikuti dengan “anjiirr..”,astaga..”,oh.my.god”, “woow”, "kurang ajar ya" dan celetukan-celetukan kagum lainnya. Dan aku akhiri dengan “aku harus bertemu Jay!”.

 

Jadi, selesai pertunjukan aku segera menuju toko yang ada di situ dan membeli CDnya dan menemui Jay Subiakto! Dan bertemulah aku dengannya! Ummhh..dia kan orangnya kayak batu es gitu yah? Dingin dingin gimana gitu. Jadi aku pun tak berani untuk peluk dia ^^ Hanya kujabat tangannya dan bilang “makasih sudah memberikan panggung yang kerrennn!”. Dan dia sambil membungkuk sopan berkata “Terimakasih terimakasih sudah datang”. Yaaa mungkin template sih..tapi bahasa tubuhnya menunjukkan dia tulus. Kemudian aku sedikit menyampaikan bagian-bagian tata panggung favoritku. Dan cintaku terjatuh padanya ketika dia merangkulkan tangannya ke Jasmine. Ouw ouw ouw..aku cinta, aku CINTA orang yang suka dan cinta anak-anak!

 

Dan segera setelah itu aku mengirim pesan ke teman-temanku “Aku cinta Jay Subiakto! Aku cinta Jay Subiakto! Aku cinta Jay Subiakto! Aku cinta Jay Subiakto!”.

 

Waktu pentas MLP yang cukup panjang dan sistem tiket yang jelas membuatku bertekad untuk menontonnya sekali lagi. Maka, pergilah aku untuk menonton lagi untuk kedua kalinya di awal Januari. Kali ini bersama teman-teman, tidak lagi momong. Apakah ada beda? Tentu saja. Menonton pertama itu adalah memapar diri dan mata serta hati dengan kejutan, dan menonton kedua kalinya adalah menikmatinya dengan sepenuh hati. Lagu-lagunya sudah kuhapal semua jadi aku tinggal mengikuti sesekali. Dan tekadku kali ini adalah: ketemu jay lagiiii! Apalagi ketika habis istirahat si Willy mamamerkan padaku bahwa dia baru saja bertemu Jay dan berfoto bersama.

 

Agak susah menemukan Jay Subiakto. Karena dia bukan orang yang dicari-cari seperti halnya Mira atau Riri atau Andrea Hirata yang langsung dikerubuti orang. Para pemain juga dikerubuti orang untuk berfoto bersama. Dengan menyibak orang-orang aku berjalan dari ujung ke ujung, bolak-balik untuk menemukan Jay. Teman-temanku ikut berburu Jay. Dan ketika Shanty melihat sosoknya di luar, dia langsung “itu dia!” dan aku segera berlari keluar gedung.

 

Sesampai di depannya, sedang ada 1 orang berfoto bersamanya. Setelah selesai kujabat lagi tangannya “Dua kali menonton dan dua kali terpesona pada panggungnya”. Jay, dengan tampang datarnya “Oh dua kali nonton? Terimakasih sekali terimakasih sekali…”. Dan aku minta ijin untuk foto.

 

 

Eh, anak-anak mau ikutan.. “Aku juga mau dunk..”. Maka berfotolah kita

 

(ki-ka: eugene, willy, jay, tata)

Dan hari ini tokoh yang ada di Kompas kita adalah dia. ouw ouw ouw..rupanya jalanku untuk lebih mengenalnya direstui alam.. ^^ Dan aku agak shocked ketika membaca tahun lahirnya: dia seumuran bapakkuuuu!. Batal ngegebet deh… ^o^

 

Tapi teuteup.. Luv u, Jay..  Cinta pada “Saya bangkit ketika orang meremehkan diri saya, ketika mereka tidak memberikan kepercayaan dan menganggap saya tidak akan bisa mewujudkan suatu pekerjaan dengan baik” dan pada konsep “tabungan ide”-nya.

 

 

Tuesday, January 11, 2011

Do I Need to Remind You, Dear?

 

Do I need to remind you what you mean to me, dear?

 

It’s you the one who sail the world, when I’m stuck in the middle of the sea, to find me

It’s you the one who’ll be the light, when I’m lost in the dark, to guide me

It’s you who sing a song, when I toss and I turn and I just can’t fall asleep, beside me

And.. it’s always your shoulder that I have, when I cry

 

So, do I need to remind you what you mean to me, dearest friend?

 

 

 

*hasil ‘merusak’ Count on Me-nya Bruno Mars*

^o^

Karaokean yuukkss… ^^

 

 

 

 

 

Wednesday, January 5, 2011

Hari yang Kocak dan Penuh Tawa

Rabu, 5 Januari 2010

Ini harus kutulis agar bisa kukenang dan tidak membuatku senyum-senyum sendiri.

 

 

Sehari kemarin itu cukup ‘padat’ kegiatanku. Dimulai dari datang ke kantor sangat siang karena baru bangun jam 7 pagi (salahkan 711 Senayan dimana malam sebelumnya aku dan beberapa teman ngobrol sampai jam 11), kemudian beli tiket musikal LP untuk kesekian kali (terkait nonton keduakalinya dan profesi calo) dan jogging di Gelora Bung Karno. Walau ada beberapa kejadian low, tapi highlight hari kemarin adalah tawa. Ini beberapa di antaranya.

 

Kocak 1

Kemarin itu kan alam dengan isengnya menurunkan hujan sedari pagi dan tidak berhenti hingga jam makan siang, walau hanya tinggal gerimis. Tapi, aku yang sudah menjadwalkan untuk pergi beli tiket musikal pas jam makan siang, tidak terganggu oleh gerimis itu. Maka, pergilah aku ke tukang ojek untuk mengantarku. Dan tukang ojeknya ternyata merangkap sebagai tukang tambal ban, jadi aku harus menunggunya memompa ban sebuah sepeda motor. Yaa..daripada jalan lagi di bawah gerimis untuk mencari pangkalan lain, maka kutungguilah.

 

 

Singkat cerita, tiket terbeli dan diamplopi sehingga tanganku memegang dompet, hape dan amplop itu. Karena riweuh ketika memakai helm, maka benda-benda itu kuletakkan terlebih dahulu di jok motor. Dan kelar pakai helm, aku kaget karena di jok hanya ada dompet dan hape. Amplopnya ga adaaaa..! Dan sumpah yg pertama terlintas di pikiranku adalah: ada yg mencurinya! Mengingat tiket kelas itu banyak dicari orang. Dan aku panik, “Amplop saya mana, Pak??”. Bapaknya bingung karena emang posisi dia kan memunggungi aku dan walaupun dia punya spion, jangkauannya kan bukan belakang punggungnya. Trus dia nengok ke bawah, ke genangan air dan…jderrr..amlopku terendam di sana! Yang namanya terendam pastinya tidak hanya basah ya..tapi kuyup tak menyisakan kering setitikpun. Dan pas kuangkat, bukan hanya lepek tapi juga peyot dan sangat mudah terobek. Kucoba melihat keadaan tiket di dalamnya: saling melengket dan cap tulisan tanggal dan jam tayangnya mulai memudar. Hiyaaa… Dan aku spontan ketawa, “Kocak banget si besok nontonnya pake tiket tak teridentifikasi gini.. Hahaha..”. Tadinya pengen ke ticket box lagi untuk tuker tiket, tapi resiko diketawain dan membuat orang-orang terheran2 tinggi, maka ku pulang saja.

 

Sesampai di kantor, tiket itu kugelar di meja agar kering. Dan pas kering, tentu saja keriting dan crispy.. ^o^

Kocak 2

Ada seorang temanku yang biasanya kita sering bertemu tapi karena kesibukan dan liburan akhir tahun untuk beberapa waktu kita tidak bertemu. Maka kami memilih-milih hari ketemuan, dimulai hari selasa dimana dia berpikir untuk ketemuannya di hari rabu saja. Tapi kubilang “Tak bisa..aku jogging..”. Maka dikusi berlanjut kemarin.

 

Dia: Kamis aja yuk ketemu sambil The Tourist atau apa gitu..

Tata: Tak bisa.. Kamis aku Khalifah-an..

Dia: oo.. Ya udah jumat yuk..

Tata: sip..sip..  [sesaat kemudian] Eeee… ga bisaaa.. jumat aku mau musikal LP!

Dia: gila ya, Ta..lo sibuk banget.. Ya udah sabtu..

Tata: hehehe… Sabtu aku di GalNas…nonton band ma film..

Dia: ya udah deh…kita ga usah ketemuan di dunia.. susah bener.. tar aja kita janjian di padang mahsyar!

Tata: ………………

Kocak 3

Dari seorang teman yang konon sedang tidak enak badan. Waktunya pas tengah malam pas aku sudah sangat siap untuk tidur. Beberapa waktu sebelumnya aku kan jogging berputar-putar GBK, lanjut makan salad buah dan yoghurt (lagi-lagi) di 711 Senayan, trus ngobrol dengan teman hingga (lagi-lagi) jam 11. Sesampai kosan mau ga mau mandi total dunk.. Selesai mandi, badan enaaakkk..segeeerrrr…walau agak2 capek. Dan aku siap tidur. Eh mendadak hujan turun. Badan capek + bersih + tengah malam + hujan = sempurna untuk tidur bukan? Kubayangkan tidurku akan nyenyaaakkk…

 

Tapi tiba-tiba masuk pesan ke hape dari temanku yg sedang tidak enak badan itu:

Tik tik tik hujan rintik di atas genting

Airnya turun merintik nitik

Lihatlah itik, tidur di batik

 

 

Dan aku langsung terperanjat, karena:

1.       Ko dia blum tiduuuurrr..kan katanya ga enak badan

2.       Ko dia bisa luchuuuu…

 

Temenku ini kadang emang luchu dan menggemashkan, tapi ga nyangka bisa seiseng dan sekocak itu. Jadi pas baca pesan dia itu aku langsung nganga dan ngakak, kayak pas denger SBY mengakhiri pidatonya dengan pantun dulu itu. Hahaha..

 

 

Dan ngantukku resmi hilang ketika dia mengirimkan lirik lagu itu, baris terakhirnya:

Ga perlu cantik yang penting ba..ik

Gyaaa…. Gimana aku ga cinta cobaaaa…

Dan sampai sekarang aku masih senyum-senyum tiap nyanyiin lagu itu.. I heart you, boy..! ^^ 

Wednesday, December 29, 2010

Sebuah Kebetulan yang Manis*

…jika tak mau menyebutnya keajaiban…

 

Di antara banyak manusia berlalu-lalang, banyak waktu berlintasan dan banyak tempat berserakan; alam menggiringku untuk ke tempat itu, di saat itu, untuk bertemu kamu. Ya, kamu.

 

Tanpa awal cerita dan rekayasa, kita berjumpa. Tanpa umbar pemikat, kita saling menyapa. Dan bukan atas siapa [kamu] yang membuatku terpesona, bukan pula tentang apa [tingkahmu] sehingga aku jatuh cinta.

 

Tapi satu hal kecil lagi sederhana yang menambatkan kita.  Kita sama sekaligus saling melengkapi. Aku suka makan, kamu suka memasak. Aku suka lagu, kamu suka bernyanyi. Kamu suka tertib dan aku suka antri. Tak ada kebetulan yang lebih manis dari ini bukan?

 

Yak.. bagiku, bertemu denganmu adalah sebuah kebetulan yang [sangat] manis...semanis kamu... ^^

 

 

 

 

 

p.s: aku imut dan kamu tinggi!

 

 

 

 

.....mengenang 2 Oktober 2009....

 

 

 

*hasil membajak dengan izin dari yang bersangkutan

 

Wednesday, December 8, 2010

Cinta yang Mengudara

 

Demi melihat senyum genitmu untuk dia, aku bahagia

Demi keterbukaanmu atas dia, aku bangga

Demi mengetahui siapa dia, aku suka!

 

Tenang kawan, tak [akan] ada persaingan untuk menjadi juara

Hanya ada cinta, untuk kita semua

Dan energi positif yang [semoga] semakin mengaura

 

Selamat bercinta…

 

 

 

……tak dapat berhenti tersenyum untuk seorang teman…..

 

Friday, December 3, 2010

Nekad Travelling_Tidung

Tak jadi ke Ujung Kulon, mendadak ke Tidung pun jadi

Warning: Panjangan prolognya daripada cerita intinya (sebelum diprotes seseorang)

John adalah temannya teman yang kemudian menjadi temanku karena ku menyamber keinginannya untuk kencan dengan wanita berjilbab di blognya. Itu 3 tahun yang lalu. John ini adalah orang Irlandia, bekerja di New York, dan tiap tahun datang ke Indonesia. 12 dari 18 hari cutinya dia habiskan di Indonesia selama 6 tahun terakhir ini. Untuk tahun ini jauh hari sebelum dia datang dia bilang bahwa dia mengosongkan 1 wiken untukku, dan pas kutanya mau kemana, dia bilang Ujung Kulon.

 

Maka kumulailah cari info tentang Ujung Kulon. Aku adalah tipe orang yang harus kebayang apa yang akan dilakukan. Aku bukan tukang jalan-jalan yang spontan. Rundown acara jalan-jalan itu wajib untukku. Nah, ternyata untuk Ujung Kulon ini agak sulit kulakukan, sumber infoku ngambang semua. Oleh karena itu walau aku tetap menyusun planning & budgetingnya, ku berharap akan batal ^^ Dan alasan utamaku batal kencan adalah interview Kineforum, kondangan ke Tangerang, Jiffest dan JGTC di hari yg sama.

Harapan Batal 1

Cuaca yang tak menentu, Krakatau yang batuk-batuk, pertanda menuju pembatalan itu.  Jadi, kunyatakan ke John kalau Ujung Kulon resmi batal karena cuaca. Tapi, pas tau dia ga punya plan B, ku jadi ga tega membiarkan dia luntang-lantung di Jakarta. Kuhubungi temanku, si Ari,  yang punya plan B berupa Tidung, di jumat malam, kubilang aku dan John mau join. Jadilah kita ke Tidung berempat: aku, john, ari dan desy temannya Ari.

 

Harapan Batal 2

Jumat malam itu si John baru jalan balik dari Bandung via Sukabumi. Sampai jam 11 malam, dia masih di jalan entah dimana. Dan kubilang “Kamu yakin besok mau jalan2 sedangkan sekarang kamu pun masih di jalan?”. Kan kubayangkan dia pasti capek, trus esoknya pengen hibernasi seharian. Ternyata dia menjawab “no problem. Daripada nganggur di Jakarta”. Baiklah..

Harapan Batal 3

Untuk menyebrang menuju Tidung itu ada 2 cara:

1.       Via Muara Angke

Jam keberangkatannya pagi buta, paling siang jam 7.

2.       Via Muara Cituis aka Rawa Saban

Jam keberangkatan kapalnya manusiawi, yaitu jam 11.

Nah, kukasih taulah ke si John kalau kita musti ada di Angke jam setengah 7, karena di antara kita semua ga ada yg tau jalan ke Cituis. Kubayangkan dia akan jadi males karena tengah malam aja dia masih di jalan kan? Dan dia menjawab “just lemme know when and where we should meet tmr”. Duh..persistent ajah dia.. Dan ternyata yg ga sanggup pagi-pagi nyampe Angke bukanlah John, tapi si Ari . Hiyaaa..jadi mau ga mau kita lewat Cituis. Ku cari info tentang Cituis melalui si Senja dan ku lumayan dapat gambaran perjalanannya.

Harapan Batal 4

Citus itu letaknya ada di Tangerang sana. Rencana awal adalah, kita ke Tangerang trus sewa angkot untuk antar ke Cituis. Dan serasa dapat pencerahan, pas subuh2 Senja bilang “Aku tauuuuuu…”, dan dia menjelaskan cara mudah menuju Cituis:

. naik DAMRI ke bandara

. lanjut taksi ke Cituis

Karena jadwal kapal nyebrangnya adalah jam 11, maka kutentukan kita jalan dari blok M jam 9.

Aku bayangkan, si John bakal tepar jaya, jadi dia bakal kesiangan dan telat menuju blok M. Kalau dia telat kan kita juga bisa telat nyebrang. Batal deh.. Ternyata eh ternyata, jam setengah 9 dia menelpon dan bilang bahwa dia sudah berada di dekat bis DAMRI. Dan itu aku baru mau jalan. Hiks..

Harapan Batal 5

Kuharapkan macet, ternyata lancar jaya. Hanya butuh 40 menit untuk mencapai bandara. Supir taksi yang ga tau Cituis pun pantang menyerah bertanya ke banyak orang di bandara itu. Maka jalanlan kita menuju antah berantah itu.

Seruuu.. lewatin rumah-rumah tradisional, jalan yang kita lewati digelari gabah padi yg dijemur..trus papasan sama kambing juga.. Nanya orang di tiap simpangan jalan, dan jawabannya serupa “Oh..lurus saja, nanti perempatan belok kanan”. Beuh..kita dah jalan jauuuhhh, tuh perempatan ga ketemu-ketemu. Nanya lagi, jawabnya sama lagi.. Dududu..

Hingga tiba-tiba si bapak taksi belok kanan, padahal bukan perempatan “Pak, ini pertigaan bukan?”. Dan dia “Tapi ada petunjuk jalannya tadi..”. Oh okay.. Dan ini makin mengantahberantah. Lewatin sawah-sawah.. Pas udah jauh, dan waktu menunjukkan 10.30 dan makin tidak mengarah, kuminta untuk nanya ke orang. Dan jawab orang itu, “Oh..salah jalan.. Putar balik, nanti ketemu jalan utama, ke kanan. Lurus saja, perempatan baru belok kanan”. Gubrak..

Anehnya, aku tidak panik. Sementara 2 temanku mulai bertanya2 ini jam berapa. Kubayangkan, kita sampai sana jam sebelas lewat dan kapal sudah berangkat. Hohoho.. Si Desy, bertanya apakah dia harus menelfon tempat menginap, kubilang nanti saja. “Belum tentu kita jadi nyebrang..hohoho..”, dalam hatiku berkata begitu.

 

Perjalanan lanjut dan akhirnya aku melihat laut di kanan jalan dan kapal-kapal perahu. Hwuaaa… Sampai jugaaa… Setelah kebablasan dikit, kita masuk ke jalan tanah, becek, berlumpur gitu. Pas pintu taksi dibuka, beuh..baunya ikaaaaannnn bangeeeettt… Ternyata itu belom sampai, kata petugas pintu masuk “Masih jauh..lurus terus sampai mentok di Labuan”. Hoooo..

 

Dan pas kita liat wujud kapal dan pelabuhannya.. Kita semua tergelak. Ga nyangka seseru itu!

Dan ternyata karena banyak barang-barang yg musti diangkut, jadi kapal berangkat jam 12. Kita terbawa deh… ^^

 

Perahu yang menyeberangkan kita merupakan alat transportasi yang membawa penduduk Tidung dari dan ke Tangerang. Jadi di dalam perahu itu isinya selain manusia adalah barang-barang belanjaan, mulai ayam, minuman botol, beras, bensin dan ada juga sepeda motor. Tak ada tempat duduk atau bangku. Semua penumpang duduk ngampar di lantai kayu. Dan karena padat, maka tak bisa selonjoran. Dua jam seperti itu. Mantap!

Dan akhirnya setelah 2 jam di laut, berasa syuting Monsters (langit menggelap, hampir hujan, angin lebih dari sepoi2, eh si John mulai jeprat jepret), akhirnya kita sampai di Pulau Tidung!

 

TIDUNG ITU MENGAGUMKAN!

Aku kagum mendapati bahwa Tidung adalah sebuah kecamatan. Artinya orang-orang itu menetap di sana, hidup di sana. Bayangkan! Di tengah laut! Transportasi ke Jakarta darat jarang. Tak ada sarana hiburan (baca = bioskop). Tak ada mobil, tak ada kereta, jalanannya tak lebih lebar dari tiang bendera. Tak ada pasar, tak ada sawah, tak ada kolam renang. Tapi mereka hidup di sana! Wow…!

Alat transportasi mereka adalah sepeda motor dan sepeda. Bentuk jalanannya seperti di perkampungan padat di Jakarta, sempit dan bercabang-cabang dan banyak polisi tidurnya. Rumah-rumahnya beragam, dari sederhana hingga bergaya.

Fakta menarik yang kutangkap adalah, banyak dari rumah-rumah itu merangkap sebagai warung kebutuhan sehari-hari. Sebagai orang yang tidak bisa berdagang, ku bertanya-tanya: lakukah? Kan pembelinya ya tetangga-tetangga mereka juga. Sedangkan warungnya banyak juga. Itu gimana ‘rebutan’ konsumennya yah? ^^

Fakta menarik lainnya adalah bisa dibilang hampir semua rumah berfungsi ganda: tempat tinggal dan disewakan untuk pengunjung, ‘home stay’ istilahnya. Dan inilah yang mengobrak-abrik fantasiku tentang Tidung. Kupikir (dan John pikir juga), Tidung adalah pulau wisata, jadi kita akan tinggal di penginapan yang menyediakan semuanya (alat mandi dan makanan). Ternyata, Tidung adalah pulau hunian. Kita tinggal di rumah orang tanpa fasilitas apapun. Jadi, rumah mungil itu terdiri atas 1 kamar mandi, 1 kamar tidur dan ruang depan berisi kasur dan TV. Itu bukan masalah bagiku, karena aku membawa peralatan mandi. Bagaimana dengan John? Bawaan dia lebih banyak dari aku, dalam hal dia gendong tas dan nenteng juga, sedangkan aku hanya gendong. Ternyata, yang digendong dia itu adalah kamera saja. Jadi, untuk ke Tidung ini dia hanya menyiapkan 1 kaos, 1 celana dan 1 buku financial engineering! Hoho… untung si Ari berbaik hati untuk sharing handuk ^^

Setelah fantasi tempat tinggal terobrak-abrik, berikutnya adalah makanan. Kupikir, namanya tempat wisata pastinya akan banyak tempat makan dunk. Ibarat kata kumau apa saja, tinggal datangi saja. Makanya pas sebelum nyebrang si Desy menanyakan apakah kita mau pesan makanan atau tidak, kujawab “Ga usah.. Tar aja kita cari”. Hiyaaa.. Sotoy tingkat tinggi! Dan pas sampai di sana dan mendapati tak ada warteg atau restoran padang, aku mengerti kenapa Desy menawarkan untuk pesan makanan sejak dini.

 

APA YANG BISA DILAKUKAN DI TIDUNG

Itulah pertanyaanku kepada Desy. Karena aku bukan fans dari laut, ga suka basah ga suka lembab ga suka lengket berpasir. Dan Desy menjawab “Kalau di sini andalannya adalah sunset, sunrise, snorkeling, diving”. Baiklah.. Karena mendadak, packingnya pas mau berangkat, jangankan baju buat berenang, lha buat tidur aja ga bawaaaa… =(

Trus, daya tarik berikutnya adalah jembatan penghubung Tidung Besar dan Tidung Kecil. Di jembatan itulah tempat untuk menikmati sunset dan sunrise berada. Nah, kita tinggalnya di ujung lain dari jembatan itu. Untuk menuju jembatan itu, kita menyewa sepeda. Dan karena aku tidak dapat mengendarai segala sesuatu yang beroda, maka diboncenglah aku. Dan itu sakiiiiiittt… Tempat duduknya kan dari besiiiii… Maka, esok harinya pas mau liat sunrise, pas dibilang naik sepeda lagi, aku langsung dengan sigap berkata “Ga mau! Aku ga ikut! Mending jalan!”. Dan tring! Sekalian jogging sajaaaa.. Maka, jogginglah aku di subuh hari di pulau tidung, seorang diri. Dan karena bolak-balik, artinya aku sudah jogging 1 putaran Pulau Tidung! Hohoho..

Snorkling dan diving kita lewatkan, karena ga ada yg minat ^^ Jadi tak ada cerita

 

Bintang yang katanya indah, juga kita lewatkan. Kenapa? Karena kita capek, jadi jam 8 sudah tidur. Kata seorang teman “Apa gunanya ke Tidung kl hanya untuk tidur?”. Dan kubilang “Lho? Bukannya inti dari liburan itu adalah relaxing? Kl ku bisa tidur nyenyak, 9 jam lamanya, tujuan tercapai dunk…”. Hoho..

 

PULAU-PULAU ANTARA TIDUNG-PRAMUKA

Jadi, untuk kembali ke Jakarta darat, ada kapal dari Tidung ke Angke di jam tujuh pagi. Dan tentu saja kita tidak mau naik itu: kepagian, ga ada kesempatan liat-liat pulau lain. Maka diputuskan untuk menyewa perahu untuk mengantarkan kita ke Pulau Pramuka agar kita bisa naik kapal ke Jakarta jam 2.

Kapalnya mungil, pas lah untuk ber4. Tapi leleeeett..jalannya pelaaannn.. Atau memang kecepatan perahu itu segitu yah? Atau karena tak ada pohon2 di sekitar jadi tak terasa kalau jalan yah? ^^

Beberapa pulau hanya kita lewati saja, di antaranya Pulau Karya yang merupakan pulau makam warga pulau seribu. Hmmm..aku membayangkan seru juga yah kalau ada yg meninggal pemakamannya pake perahu iring2an.. Jadi inget Contracoriente juga.. ^^

Trus kita lewat di Pulau Air yg baguuuuss… Pulau tipis terbelah dua, kita lewat di antaranya. Warna airnya indah! (fotonya udah yah kemaren di teaser).

 Sebenarnya kita ditawari apakah mau turun dulu atau tidak. Tapi selain karena ga mau ngrepotin nakhodanya, juga karena ga ada yg banci foto2 selain aku, dan karena ngeri aja ketinggalan kapal dari Pramuka nanti, jadi kita hanya lewat saja.

Pulau Keramba, adalah pulau penangkaran ikan.

Ada hiuuuuu… Lucu deh, mulus kayak lumba-lumba!

Dan habis itu pulau Pramuka. Di situ ada penangkaran Penyu dan Kupu-kupu. Tapi karena itu hari minggu, tutup. Kata penjaganya “Kerja atau enggak kerja kalau hari minggu saya ga dibayar!”. Dududu..biasa aja dunk, Pak.. ^^

Dan ternyata benar adanya, kapal dari Pramuka menuju Angke berangkat jam 1, bukan jam 2 seperti kabarnya. Dan kita sampai sana jam 12an. Pas!

Dan setelah menempuh perjalanan dalam suasana agak berkabut selama 2.5 jam, dengan kabar bahwa di Jakarta hujan menggila, sampailah kami di Angke. Kemudian naik angkot sampai terminal Grogol. Trus John bertanya “Naik apalagi kita?”, dengan semangatnya. Dan aku dengan tak kalah semangat menjawab “TAKSI!”. Mana kutau dari grogol menuju Kuningan naik apaaaa…

 

Yak itulah laporan kencanku wiken kemaren!

 

Makasih untuk Ari dan Desy yang menemani dan menjadi guide kami.. Lain kali lagiii…

 

 

 

Untuk foto lebih lengkap bisa dilihat di fesbuknya Ari. Lebih lengkap lagi, seminggu lagi setelah the D700-guy balik ke negaranya dan mengolah foto2nya ^^ "Blum tentu ku upload semua juga lho yah..kl menurutku ga bagus, kuapus", itu pesannya. Hiks..