Thursday, April 2, 2009

Aku Deg2an!

Aku yang sudra ini harus berdiskusi dengan para brahmana. 1 sudra vs 4 brahmana.

 

Sebenernya aku yang berkuasa, karena mereka punya utang untuk mekukan sesuatu. Waktu itu brahmana yang berjanji bilang iya-iya ajah. Ternyata tidak semudah itu. Harus melibatkan brahmana2 lainnya. Dan ternyata para brahmana lokal bingung juga gimana caranya.

 

Kudiemin aja tuh selama mereka bingung... Aku kan ga enak membuat org bingung makin tertekan... Kasian mereka, masa brahmana ditekan dan ditagih2 sama sudra...? ^o^

 

Nah, hari ini aku diundang oleh para brahmana lokal untuk diskusi tatap muka dengan mereka plus brahmana import (selama ini via e-mail dan telepon, jadi aku berani..hihihi..). Sekarang aku diminta datang ke markas mereka.

 

Aku deg2aaaaaannnn... Takutnya tar aku diperdaya gitu... Dan bisa saja aku disekap dan dipaksa sepakat dengan kemauan mereka, baru dilepas pulang setelah aku menandatangani perjanjian yg mereka buat. Hwuaaaaa.....

 

Apalagi sama si brahmana import, kl tar dia pake kalimat sejenis 'not a little pretty', gimana dunk?

 

Ganbatte! 

Facebook…facebook…

 

 

Walau aku bukan penggemarnya (atau belum yah?) , aku dibuat kagum olehnya.

 

Kagum 1

Kemarin baca berita di KOMPAS tentang update pembunuhan Ellen. Diberitakan bahwa tersangka pembunuhnya sudah teridentifikasi. Polisi menemukan dia setelah membuka account Facebook Ellen, dan kemudian mencocokkan wajah2 yang dilihat di rekaman CCTV Pacific Place hari itu. Facebook berjasa dalam menemukan tersangka pembunuhan!

 

 

Kagum 2

Semalem ku kangen wajah Christian, jadi ku nyalain TV buat nengok Alissa. Pas ada adegan Alissa dapat surat ancaman beserta boneka masa kecilnya. Bunyi surat ancamannya, ”masih suka dengan boneka ini?”. Trus mereka berpikir bahwa pelaku ancaman itu adalah teman masa kecil Alissa. Maka, Tian usul untuk mencari tau lewat Facebook. Dan kemudian nampak di layar TV halaman Facebook dengan sejumlah wajah yang critanya hasil pencarian teman2 SD Alissa. Mengagumkan! Belum pernah kulihat sebelumnya ada situs jejaring sosial masuk sinetron!

 

 

Nengokin facebook-ku aaaahhh... :))

 

Un-erase-able messages

 

SMS yang tidak boleh dihapus, itu maksudnya ^o^ Istilah itu muncul dari seorang sahabatku jaman kuliah dulu. Waktu itu HP dia hanya mampu menampung 20 SMS. Tapi aku tiap kali SMS dia,  selalu mengalami kesulitan masuk ke HPnya. Yang sering terjadi adalah dialog template:

 

Tata: Kamu ko ga bales SMSku siiii??

Dia: SMS yg mana? Ga ada SMS dari lo...

Tata: Adaaaaa... Aku kirim tadiiii....

Dia: Ga ada Tata...

Tata: Coba cek dulu!

 

Kemudian dia mengecek HP nya dan di layar ada tulisan: Inbox penuh. Apusin dunk SMS-nya, biar yg mau masuk berhasil!

Ya kurang lebih begitu bunyi kalimatnya.

 

 

Kejadian begitu seriiiiiiing banget terjadi. Dan pas kupertanyakan kenapa begitu, dia akhirnya menjelaskan bahwa kapasitas asli HP dia adalah 1 SMS baru, karena 19 tempat lainnya telah ditempati oleh SMS-SMS yang tak mungkin dihapusnya.

 

Dia: Unerasable messages gitu deh Ta...

Tata: Haaa?? Mang SMS dari siapa? Isinya apaan?

Dia: Ada deh... (sambil cengengesan)

Tata: Yaelah... Mantan kamu yah?

Dia: Hehehe... (tetep cengengesan)

Tata: Ya ampun ya ampun... Kamu jenis manusia yang membutuhkan media untuk mengenang cinta seorang gadis yah? Dan media itu berwujud SMS? Tak disangka2...badan sok perwira tapi hati picisan gitu...

Dia: Yaaaa... Ta... Gue kan jarang2 dapet SMS kayak gitu...

 

 

Tapi aku mengerti juga si... Bahwa mungkin kalo dia lagi kangen atau haus cinta, tinggal baca lagi SMS dari mantan gadisnya itu... ^o^ Aku hanya bisa berdoa semoga dia segera mendapat gadis baru agar inboxnya kosong dan SMSku lancar. Dan ternyata ketika dia bergadis lagi, bukan hanya inboxnya yang dibersihkan, tapi dia berganti nomor! Re-born gitu deh maksudnya...

 

 

Nah... Inilah yang kuhadapi sekarang. Dengan berakhirnya kisah kasihku dengan kekasihku, maka kurasa aku perlu membersihkan inbox-ku, biar aku tak berlarut2 dalam keterpurukan (aih...aih...).

 

Masalahnya adalah SMS yang kumasukkan kategori un-erase-able itu banyaaaaaaak buanget. Tiap SMS yang berkesan, yang menandai momen tertentu aku keep,. Waktu itu pertimbanganku adalah 1) aku kan pelupa...takutnya suatu hari nanti aku  akan lupa akan apa2 aja yang udah pernah kita lalui; 2) untuk bahan mengenang bersama-sama di saat kita tua. Haiyaaaahhh...

 

 

Kemarin coba untuk ngapus. Tapi baru baca nama dia di HP udah terasa pyass di dada. Mau ngapus kan mau ga mau buka dulu SMS-nya, kebaca dunk apa isinya...ga cuma pyass efeknya...mata mulai perih... Hwuaaaa... Aku ga sanggup untuk baca lagiiiii....

 

 

Mau apus tanpa baca, bisa si... Tapi dengan cara itu maka semua yang ada di inbox keapuuuuussss! Sedangkan yang masuk kategori un-erase-able message kan bukan cuma dari diaaaaaa...

 

 

Ku jadi berpikir: tau gitu kemarin sebelum tutup buku, kusuruh dia apusin semua SMS yang pernah dia kirim! Jadi tidak menyusahkan aku begini... Selain itu, siapa tau dengan dia membaca lagi apa saja yang pernah dia katakan, dia lakukan dan dia gombalkan, trus dia akan menyadari kisah dan cinta seperti apa yang pernah kita punya, trus dia mau balik lagiiiii....

 

 

**Ngareup... Hohoho...**

 

Wednesday, April 1, 2009

[Aku Bersyukur] Namaku Bukan Natalia

 

 

Bapakku adalah orang gunung, ibuku orang kampung. Dua-duanya sejak kecil sudah memiliki pemikiran akan nama anak mereka suatu saat nanti. Walaupun berbeda, tapi mereka memiliki kesamaan, bahwa mereka mau anak mereka bernama lebih panjang dari nama mereka yang cuma satu kata. Dan akhirnya ketika mereka menikah datanglah saat yang telah dinanti-nanti itu: merumuskan nama.

 

 

Dikarenakan lokasi tempat tinggal yang jauh dari ibukota, baik ibukota kecamatan apalagi ibukota provinsi, maka referensi mereka soal nama tidaklah banyak. Buku-buku nama untuk bayi tidak tersedia, apalagi akses internet. Bahkan primbon nama-nama Jawa pun mereka tidak punya. Hanya bermodalkan keinginan sejak kecil mereka berembug untuk menamai jabang bayi.

 

 

Pedoman pertama mereka adalah ingin memberi nama anak yang tidak setipe dengan nama anak-anak sekitar. Jadi mereka menghindari nama-nama seperti Daryanti, Suryani, Maryoto, Supriyanto, dan nama-nama sejenis itu.

 

 

Pedoman kedua adalah berpola sama untuk tiap anak, karena mereka berencana untuk tidak hanya memiliki satu anak. Namun, mereka juga tidak mau menggunakan pola sama seperti pola-pola yang sudah ada sebagai pedoman ketiga.

 

 

Maka, sejak aku masih di dalam perut, bapak dan ibuku mulai memperhatikan nama-nama orang yang mereka kenal. Sambil memperhatikan mereka membuat catatan nama-nama dan pola-pola yang harus dihindari. Catatan tersebut seperti ini:

 

  1. Jangan gunakan pola nama hari: Soma, Anggara, Respati. Sudah dipakai oleh keluarga Pak Hari di dukuh Tanggulangin
  2. Jangan gunakan pola nama bulan: Sawal, Sapar, Romadon. Sudah dipakai oleh keluarga Budhe Wulan di dukuh Jetis.
  3. Jangan gunakan pola urutan angka: Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca. Sudah umum digunakan.
  4. Jangan gunakan nama bunga: Asalia, Melati, Kenanga. Susah kalau anaknya lelaki.
  5. Jangan gunakan kata-kata yang sudah lazim: Bagus, Ayu, Jaka, Putri, Bambang

 

Selain catatan tersebut, Bapakku juga menghindari nama-nama yang kearab-araban (Fatimah, Ali, Akhmad, Annisa), demi menghargai ibuku yang merupakan new comer di belantika Islam. Dan tentu saja ibuku tidak akan menggunakan nama-nama seperti Fransiska, Claudia, Peter, atau Lukas yang mencomot dari kitab suci terdahulunya ^o^

 

 

Namun demikian, entah bagaimana bapakku terpengaruh oleh nama-nama (yang sebenarnya religius) yang dimiliki oleh ipar-iparnya: Emilia dan Agustinus. Dia melihat suatu pola di sana: Emilia lahir di bulan Mei dan Agustinus lahir di bulan Agustus. Bapakku melihatnya sebagai pola yang menarik. Januarita atau Yanuar untuk Januari, Febrian atau Febriani untuk Februari, dst. Maka ditetapkanlah bahwa kata pertama untuk anak-anaknya adalah kata yang merujuk pada bulan kelahiran.

 

Kemudian, sesuai dengan spirit lebih dari satu kata maka dibuat rumusan berikutnya. Kata kedua adalah kata yang merupakan keterangan tentang si anak. Kemudian diikuti oleh kata ’Surya’ yang merupakan nama dia. Awalnya Bapakku merasa 3 kata itu sudah cukup:

 

Bulan kelahiran + keterangan si anak + Surya

 

Tapi setelah membuat beberapa simulasi terasa menggantung dibacanya. Maka ibuku usul untuk menambah satu kata lagi di belakang Surya, diawali dengan inisial namanya ’An’-. Selain untuk menggenapi kata ’Surya’ yang mengambang juga sebagai simbol penyatuan mereka dalam diri anak.

 

Jadi rumusnya menjadi:

 

Bulan kelahiran + keterangan si anak + Surya + An-

 

Bapak dan ibuku tersenyum senang dan bangga akan rumus pola pemberian nama anak yang baru dibuat.

 

Menurut prediksi bidan (waktu itu tidak ada dokter di kampungku), aku akan dilahirkan pada bulan Desember. Dan walaupun belum ada USG, tapi ibuku memiliki perasaan yang kuat bahwa anak yang sedang dikandungnya adalah perempuan. Maka, dimulailah perumusan nama untuk anak pertamanya.

 

 

Kata pertama: bulan kelahiran, Desember. Jreng.. Agak bingung pada awalnya. Agak bingung juga menjadikan kata ’desember’ menjadi nama anak perempuan. ’Desemberia’ terasa janggal, Desi kurang menunjukkan ke desember. Tapi ketika ibuku berkata, ”Kalau lahirnya pas Natal, seru juga yah... Pas semuanya lagi ngumpul”, Bapakku langsung mendapat ilham. Desember kan bulannya Natal, maka nama yang cocok untuk anak perempuan yang lahir di bulan Desember adalah NATALIA. Tidak ada yang lebih representatif dan lebih pas lagi. Maka ditetapkan bakal namaku adalah NATALIA. Ibuku begitu senangnya hingga sudah menetapkan nama panggilannya, LIA.

 

 

Selanjutnya menentukan kata kedua: keterangan mengenai si anak, si Lia. Bapakku memilih kata ”Dyah” dengan alasan yang sederhana, ”Karena dia seorang putri”. Ibuku setuju. Dan untuk kata terakhir ibuku mengusulkan ”Andari”, merujuk pada istilah ”rembulan ndadari” untuk menyebut munculnya bulan. Jadi karena aku adalah anak pertama, maka aku ibaratnya matahari yang baru muncul bagi mereka berdua, Surya Andari. Bapakku langsung sepakat.

 

 

Jadi bakal namaku adalah Natalia Dyah Surya Andari, seorang putri yang lahir di bulan Desember bak matahari yang mulai menyinari keluarga. Keren ga si?

 

 

Sesaat mereka puas. Tapi setelah mencoba melafalkannya, terasa kurang mengalir, terpatah-patah. Bapakku mencoba memenggal di beberapa tempat, tapi tidak ada yang terasa sangat pas. Akhirnya dia mencoba menyelipkan satu kata lagi, dan dia sangat puas dengan hasilnya. Dia berkata, ”Kita tambahkan kata Utami untuk menunjukkan bahwa dia anak nomer satu, anak yang utama”. Maka rancangan akhir namaku adalah Natalia Dyah Utami Surya Andari. Cara membacanya adalah: Natalia Dyah Utami, koma, Surya Andari.

 

 

Entah karena ingin mengisengi orang tuaku atau karena tidak betah berada di dalam perut, aku lahir lebih cepat dari prediksi. Tengah bulan November aku mulai menghirup udara dengan hidungku. Bapak ibuku bahagia bercampur kaget dan sedikit khawatir. Tapi kekhawatiran langsung lenyap karena aku dinyatakan sehat dan baik-baik saja. Setelah lega sebentar, kedua orang tuaku langsung bingung karena berarti rancangan nama yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari menjadi tidak sesuai lagi. Tapi kebingungan itu juga cuma sesaat, ”Ya tinggal kita ganti Natalia dengan Novita saja...

 

 

Maka resmilah namaku Novita Dyah Utami Surya Andari.

 

Nama panggilan ditetapkan 'Vita', yang artinya ’hidup’. Namun berkembang menjadi ”Tata”, karena kakek nenekku kesulitan melafalkan huruf ’v’, dan adekku hanya bisa mengeja satu suku kata ’ta...ta...ta...”.

 

 

Walaupun meleset dari prediksi mula, aku bersyukur aku lahir lebih cepat dan akhirnya bernama Novita. Bukan karena menjadikan sebagian besar guruku memberiku nilai bagus semasa aku SMU. Karena kalau untuk urusan itu, jika aku bernama Natalia aku yakin nilaiku akan lebih tinggi lagi ^o^ Tapi lebih ke nama pendekku sekarang, yang membuat iri adekku, ”Tata enak banget si..kalo disingkat namanya jadi Tata Surya. Aku mau diotak-atik gimanapun juga, ga bermakna...”.

 

Oiya yah... 'Tata Surya' kan ga cuma keren, tapi juga bermakna! Misal namaku beneran Natalia, mau jadi apa coba? Nat Surya? Lia Surya? Ga ada yang sekeren Tata Surya! Hohoho...

 

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dengan rumus yang sama, nama adekku adalah Okta Puspitacandra Surya Andika dan (Febriano) Ragil Surya Anugrah. Febriano sengaja kutulis dalam kurung untuk menunjukkan bahwa kata itu tidak jadi digunakan karena bapakku merasa tidak nyambung dengan kata Ragil. Tapi beliau tidak mau membuang kata Ragilnya, maka dengan terpaksa ’Febriano’-nyalah yang dikorbankan.

 

 

 

 

 

Tuesday, March 31, 2009

[Berusaha] Centil di Saat Terpuruk

Hari ini ada sesuatu yang harus berakhir. Daripada meratapi dan nangis-nangis, atau milih theme song yang mengiris2. Ku lebih memilih lagu yang centil, biar mendung di mata pergi...biar ga jadi tragis... ^o^

 

we were as one baby

for a moment in time

and it seemed everlasting

that you would always be mine

now you want to be free

so I'm letting you fly

cause i know in my heart baby

our love will never die, no!

 

 

you'll always be a part of me

i'm a part of you indefinitely

boy don't you know you can't escape me

ooh darling cause you'll always be my baby

and we'll linger on

time can't erase a feeling this strong

no way you're never gonna shake me

ooh darling cause you'll always be my baby

 

 

i ain't gonna cry no

and i won't beg you to stay

if you're determined to leave boy

i will not stand in your way

but inevitably you'll be back again

cause ya know in your heart babe

our love will never end no

 

i know that you'll be back boy

when your days and your nights get a little bit colder

i know that,you'll be right back, baby

oh, baby believe me it's only a matter of time

 

---------------------------------------------------------

Ku musti nyanyiin berapa kali yah biar bener2 bisa plong...?

 

Monday, March 30, 2009

Mimi lan Mintuna_Berasa Kurang Ajah

Rating:★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Remy Silado

Trafiking Perempuan Indonesia. Itu sub-judulnya.

Begitu liat judulnya, aku langsung memutuskan untuk membeli. Pembelian pada pandangan pertama. Baca sub-judulnya semakin yakin, baca sampul belakangnya jadi mantap bahwa aku tidak akan menyesal.


Di sampul belakang, ditulisnya begini:

Indayati, asal Gunungpati, Ungaran, diperdaya oleh sindikat pegadang perempuan internasional. Diiming-imingi main film di Bangkok, ibu muda itu bersama beberapa gadis belia, termasuk adik sepupunya yang baru berusia 16 tahun, dipaksa menjadi model dan bintang film porno sekaligus pemuas nafsu lelaki hidung belang. Dia digelari ”Waca Waka_ - Wanita Cantik Wajah Kampung – sebutan bagi primadona bursa seks di Bangkok, Hongkong, hingga Tokyo.


Petruk – panggilan ejek buat Petrus, suami Indayati – ditembak di dada oleh pembunuh bayaran. Lolos dari mau, preman kampung ini bertobat dan bertekad mencari istrinya hingga ke ujung dunia untuk menebus sikapnya yang suka main gampar. Ternyata yang harus ia hadapi bukanlah penjahat kelas teri, melainkan kelompok bandit yang licin dan kejam.


Sangggupkah mereka mengatasi segala rintangan itu? Dapatkah mereka bersatu kembali?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sesuai dengan julukannya, Remy Silado konsisten menghadirkan tulisan2 yang kocak. Karena pernah dengar Remy baca cerita, maka selama baca ku ngebayangin dia yang baca dengan gaya dan logat dia. Jadinya aku suka ketawa2 sendiri, dari awal hingga halaman terakhir.


Nah, tapi pas udah selesai baca, ku kaget, ”Udah ni? Gini doank?”


Menurutku ceritanya dibuat sederhana (hanya dalam 284 halaman). Terlalu sederhana. Kurang memukau. Kan poin yang mau dijual dari novel ini adalah trafiking perempuan, tapi justru hal itu yang kurang. Rekrutmen nya cukup masuk akal dan jelas (audisi bintang film), tapi setelah itu kabur. ’Ekspor’ 30 wanita ke Bangkok begitu mudah. Cukup dicritain mereka naik pesawat dari Manado, transit Surabaya, trus Singapur trus sampai Bangkok. Gimana caranya mereka tidak dicurigai, urus surat2nya, dan kerepotan2 lainnya ga ada. Trus gimana mereka dilatih (perlu training ga si untuk jd PSK?), mereka berbagi hal di satu rumah kecil, ga ada.


Ada beberapa (atau cukup banyak) hal yang mengundang tanya. Tanya di sini beneran pertanyaan. Bukan karena ga mudheng atau ga nangkep jalan cerita, tapi karena emang di novel ga ada. Entah disengaja sama penulis atau beliau lalai.


Ada beberapa adegan yang (kuyakin) terlalaikan.
Contoh: ada mama, anak dan sepupu. Mereka keluarga berada karena papanya direktur perusahaan minyak Amerika. Si anak kabur dari rumah pas dini hari. Si sepupu bilang ke sang mama tentang itu. Mama panik. Sang sepupu menawarkan diri untuk mencari dan menjemput. Sang mama bertanya, ”emang km tau dia dimana?”. Sepupu menjawab bahwa dia bisa mencari tau. Dan cara yang dia lakukan untuk mencari tau adalah: menelpon HP sang anak lewat telepon umum. Haiyaaahh...1) masa mamanya ga kepikiran untuk langsung nelpon HP anaknya? 2) kenapa nelponnya musti dari telpon umum?? Knp ga dari rumah aja?


Tapi di antara banyak hal yang ga sreg di dada, kenakalan pilihan kata2nya cukup menghibur. Pilihan katanya terkesan sesuka dia, tapi kocak. Banyak istilah2 daerah dimunculkan, ada Jawa, Sunda, Manado, Bangkok. Tapi paling banyaaaak Jawa. Jadi berasa bernostalgia gitu... Hehehe... Sampai aku membayangkan gimana kl orang non-Jawa baca yaa..mudheng ga yaaaa? Sumpah banyak banget kata2 dan kalimat bahasa Jawa yang dipake dan tanpa footnote. Emang si di halaman2 terakhir, setelah cerita selesai, ada kamusnya. Tapi kan masa iya orang musti bolak balik halaman untuk nyontek?


Overall, walaupun jalan critanya kurang sreg, tapi paling ga ilmuku bertambah!
Ku jadi tau kalo ternyata lagu ”kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati” itu hasil nyuri lagu gereja ’what a friend we have in Jesus”, ku jadi tau kl kata2 ”manusia berencana, Tuhan menentukan’ itu asalnya dari Amsal Sulaiman. Dan ilmu2 lainnya...termasuk perbendaharaan kosakata dan istilah bidang permesuman. Hohoho...

Owya, buat yang ga ngerti apa itu Mimi lan Mintuna, tenang ajah...Remy Silado menjelaskannya secara gamblang di salah satu bab ko...

Kalau pengen baca, ga usah beli (tar nyesel), pinjem aka punyaku... ^o^

Ku dah lapor pajak, ku ga butuh bonus pulsa dan ku ga suka Dee!

 

 

Hari ini aku menanti kabar dari seseorang, sebut saja kekasihku ^o^ Sesuai perjanjian, dia yang akan menghubungiku terlebih dahulu. Dan aku patuh.

 

 

Nah, bangun tidur aku biasa saja karena yakin dia pasti belum bangun. Matahari makin tinggi dan makin menanti2lah aku. Sebentar2 melihat layar HP, berharap ada pesan masuk tapi aku tidak mendengar pemberitahuannya. Tapi nihil.

 

 

Pas tengah hari, ada pesan masuk! Langsung kubuka, dan jreng...jreng... Bukan dari dia, melainkan DITJEN PAJAK, ngasih tau batas akhir lapor pajak adalah besok kalo ga bakal didenda seratus ribu. Tak lama ada SMS masuk lagi, bukan dia lagi tapi Bonus Pulsa yang nawarin pulsa 50 ribu asal aku sms segera ke dia. Trus bunyi lagi, kali ini INDOSAT memberi kabar tentang tatacara update berita via MMS dan cara download novel terbaru Dewi Lestari di HP.

 

GA-PEN-TING!

 

Sekarang matahari mulai meredup, siap-siap pamitan untuk istirahat. Tapi HP ku belum terima pesan apapun dari dia... Mungkinkah dia (me)lupa (kanku)?