Contoh kasus 1:
Mumpung anaknya sedang cuti dari MP, mari kita ngomongin dia. Hohoho... Jadi sekitar 2 minggu lalu, aku menelpon Wida untuk tanya2 tentang rental mobil, sehubungan dengan rencanaku jalan2 di Malang dan sekitarnya. Dia kasih gambaran tentang rental mobil yang pernah dia pake. Trus kupaksa dia untuk cari nomor2 telponnya. Nah, habis itu ku berpikir, daripada kita jalan2 hanya terdiri dari gadis2 nekad, kalo ada cowok lokal yang mengawal kan lumayan... ^o^ Maka kuajaklah si Wida untuk ikut jalan2 ma kita....
Tata: Wid, kamu ikut aja ma kita ke Sempu... Trus hari keduanya muter2 Batu deh..
Wida: Wah, aku ga bisa...
Aku melongo dan paused. Ko bisa dia bilang ga bisa, padahal aku blm bilang kapannya. Suatu cara penolakan yang bodoh. Pengen sakit hati karena sudah ditolak mentah2, tapi kl mengingat Wida adalah anak yang kocak bin polos, ku jadi ngakak.
Tata: Wida! Km kan blm nanya acara jalan2ku kapaaaaannn?! Ko udah bilang ’ga bisa’ ajah... Kamu nglongkap baca skenarionya!Ulangi!
Wida: O iyo yo? Yo wis... Emang kapan mau ke Sempu dan Batu?
Tata: Tanggal 17-18.
Wida: Ooohh... Aku ga bisa... Bla..bla..bla..
Barulah dia menjelaskan bahwa di tanggal segitu kemungkinan pendidikan SPN nya udah dimulai. Walaupun ujung2nya emang ga bisa, tapi akan lebih enak kan kalo dialognya lengkap... ^o^
Contoh kasus2:
Tentang seorang teman yang ga bisa kusebut namanya. Awalnya adalah aku bertanya suaraku sama Luna Maya mendingan mana. Trus dia bilang ga tau, karena belum pernah denger aku nyanyi. Maka tercetuslah ide dadakan untuk karaokean ajah.
Tata: Yuukkss..
Dia: Apa?
Tata: Karaokean... Yuukkss...?
Dia: Aku ga bisa...
Jger! Aku kan belum bilang kapan karaokeannya. Aku kan ga bilang malam ini, atau besok malem atau minggu depan. Kenapa dia udah langsung jawab ’ga bisa’ ajah?
Dalam kasus ini aku hanya bisa nganga dan senyum getir. Pasalnya kita pernah kurang lebih dapat pencerahan yang sama tentang cara penolakan. Sumbernya adalah film Yes Man. Waktu itu dia bingung mau nonton DVD apa, di antara pilihannya ada Yes Man. Trus kubilang film itu bagus dan lucu, pesan moralnya juga ada. Maka menontonlah dia.
Kuingat pernah nyritain hal bodoh di film itu. Pas si Jim carrey, si lelaki kesepian, diajak ke pesta atasannya. Typical lelaki kesepian adalah lebih suka menyendiri, daripada bersosialisasi. Maka atas ajakan bosnya itu dia langsung menjawab, “Oh ga bisa...aku keluar kota”. Bosnya bingung, “Aku kan belum bilang kapan acaranya”. Si Jim Carrey agak ketampar, trus nanya kapan. Sesaat setelah bosnya menyebut waktunya, dia pun menjawab, “ Ga bisa. Aku keluar kota”. Tapi intinya adalah dari awal dia ga mau datang ke undangan bosnya itu dan dia menolak dengan tanpa penghargaan atas ajakan.
Nah, temanku itu sudah menonton film itu. Seharusnya dia bisa belajar cara menolak suatu ajakan dengan indah, tidak bodoh begitu. Tapi dia melakukannya.
Apakah dia ketiduran pas nonton? Kupikir ngga mungkin, karena selesai nonton, lewat tengah malam dia SMS: Aku tersindir film Yes Man. Katanya pria yang kesepian adalah yang lebih suka nonton DVD daripada ke bioskop. Am I a lonely guy?”.
Jadi, apakah dia menolak ajakan karaokeanku mentah2 karena dia emang mau menyakitiku? Atau karena dia sudah benar2 menjadi lelaki kesepian yang sempurna? Mari kita tanyakan tanda2 pria kesepian versi Yes Man lainnya ke dia. Hohoho... (Eitss.. ko jadi tuduhan yang serius gini...? Habisnya....dia menyakitikuuuu....)
Cara penolakan yang kusuka adalah penolakan yang rasional dan singkat, ga perlu berbelit2 dengan crita2 hal yang ga penting dulu. Idola penolak pertamaku adalah Okta. Dia bahkan bisa dengan tegas berkata tidak pada ajakanku kondangan ke deket rumahnya. Dia bilang, ”I’ll pass this one”. Dah gitu ajah. Ga pake alesan sakit perut atau mendadak musti nganterin kakak. Kusuka!
Jadi, mari belajar menolak dengan indah dan pintar... ^o^