Monday, October 31, 2011

Bukan Tentang Aman Ga Aman,

mau crita tentang hari Sabtu, 29 Oktober 2011. Ini harus ditulis agar bisa dikenang :)

 

Agendaku di hari sabtu itu adalah:

Ø  Ke tanah abang untuk finalisasi dan membayar pesanan buku

Ø  Ke plaza semanggi untuk nyusul 2 teman berkaraoke

Ø  Ke blok m untuk menemani teman syuting

Ø  Ke FX untuk midnite In Time

Hariku dimulai dengan diskusi dengan adekku mengenai design buku yang kami pesan. Kemudian jam 1 siang, aku berangkat. Sambil jalan kaki menuju jalan raya aku mempertimbangkan beberapa pilihan rute:

Ø  Ambil duit di karfur seberang jalan – makan di situ- ke tanah abang naik taksi-plaza semanggi naik bemo

Ø  Makan mie aceh di benhill-ambil duit di sebelahnya-ke tanah abang naik bemo-ke pelangi naik bemo lagi

Ø  Ke tanah abang naik taksi-ambil duit di jalan-ke pelangi –makan

Pokoknya concernku adalah:

Ø  Ambil duit: jumlahnya lumayan besar

Ø  Makan: dari pagi belum sarapan

 

Hingga akhirnya, karena aku melapar, kuputuskan untuk ambil duit di karfur seberang jalan trus makan sekalian.

 

Saat aku sampai di ATM Center,  ATM yang kumau sedang diantri oleh 2 orang, aku menjadi orang ke-3, dengan 1 orang menyender di dinding dekat kami. Ketika antrian maju, eh orang itu masuk ke antrian. Jadilah aku mundur lagi. Dan karena hari makin siang dan makin lapar, aku pindah ke ATM di sebelahnya (aku punya 3 kartu ATM dunk.. hohoho..). Nah, karena aku mengambil uang dalam jumlah banyak, maka kumasukkan ke dalam kantong uang recehku yang saat itu sudah kumuati dengan charger hape, modem, earphone, colokan kaki tiga, kertas wajah, dan lainnya aku tak ingat. Kemudian kumasukkan ke dalam tas. Setelah itu, aku menuju foodcourt mini yang mana ternyata tak bisa menjual makanan tanpa nasi. Maka aku urung makan di situ (Yak! Aku ga makan nasi lagiii.. hehehe..). Kuputuskan untuk makan mie aceh di benhill saja.

 

Maka menuju pinggir jalanlah aku. Aku berkata “apapun yang muncul duluan, apakah itu taksi atau bis, itu yang kunaiki”. Dan setelah beberapa saat. Datanglah si bis. Dan kuhentikanlah dia bersama 2 orang ibu-ibu dan mas-mas yang tadi antri ATM. Kami naik buru-buru dari pintu belakang, dorong-dorongan dengan tekanan kalimat dari kernet “ayo cepat..ke tengah ke tengah jangan di pintu semua”. Nah, aku penurut kan..maka aku ke tengah sambil tangan meraba2 dalam tas mencari letak dompet. Kan kantong yang berfungsi sebaga dompet itu gendut yah, tapi aku tak dapat merabanya. Maka, kuambillah uang dari dompet beneranku. Trus ternyata, ada bangku kosong di bagian belakang dekat dengan pintu. Aku menuju ke sana dan duduk di samping ibu-ibu beranak.

 

Hal yang selanjutnya kulakukan adalah mengobrak-abrik isi tas. Dan kantong yang befungsi sebagai dompetku tak nampak. Aku lalu berpikir, mereka ulang kira-kira ada dimanakah dompet itu. Satu-satunya skenario yang mungkin adalah aku meninggalkannya di atas mesin ATM. Karena dompet uang dan dompet kartu berbeda, mungkin saja aku hanya ingat memasukkan dompet kartu ke dalam tas dan meninggalkan dompet uang di atas mesin ATM. Aku berencana untuk segera turun dari bis dan kembali ke karfur sambil berdoa semoga satu di antara mas-mas yang antri ATM menemukannya dan menitipkannya ke security. Hingga kemudian ibu2 di sampingku bertanya “mbak dompetnya ilang nggak?”

Tata: iyah..

Ibu2: bentuknya kayak apa?

Tata: kotak gitu..segini.. (kugambarkan ukurannya)

Ibu2: warnanya hitam bukan?

Tata: iyah...

Ibu2: isinya dompet?

Tata: bukan dompet sih..tapi uang..

 

Saat itu muncul harapan, bahwa kantongku terjatuh dan ditemukan ibu-ibu itu dan dia sedang memverifikasi fakta kantong dengan keteranganku.

 

Ibu2: tadi diambil mas-mas yang naik bareng mbak

Tata: …pelan-pelan meredup… oh ya?

Ibu2: iyah.. tadi saya ragu dia ngambil dari tas mbak beneran atau enggak

Tata: orangnya mana yah sekarang?

Ibu2: itu barusan turun..

Tata: …tersenyum…

Ibu2: banyak mbak uangnya?

Tata: ummhh.. saya habis ngambil di ATM..jadi ya banyak

Ibu2: berapa?

Tata: dua juta (dan barang2 lainnya…)

Ibu2: ikhlas ya mbak..

Tata: iyah..

 

Serius, aku ga yang sedih banget atau marah atau kesel. Karena fokusku adalah membayar buku pesanan di tanah abang. Dan, walaupun uang yang sudah kusiapkan raib, kartu2ku kan masih utuh, jadi aku tetap bisa membayar buku itu.

 

Maka, aku turun di Ratu Plaza, lalu ambil uang lagi.

 

Selesai ambil uang, keluar dari ATM, aku jumpa Yuki (ingat-ingat nama ini yah). Trus aku cerita kejadian yang baru saja kualami, demi kepentingan leganya dada. Trus kami berpisah, dia ke arah PS dan aku ke arah tukang ojek. Info: kondisi jalanan itu kayak parkiran. Maka aku mau naik ojek dari Ratu Plaza-Tanah Abang-minta ditungguin-ke plaza semanggi.

 

Ternyata pas jalan kembali dari tanah abang, batere hape-ku sekarat dan dua temanku yang ada di semanggi bukan pengguna hape yang sama denganku, jadi tak akan bisa kutumpangi nge-charge. “Balik ke Ratu Plaza aja dink, Pak..”, kubilang ke bapak ojek.

 

Kembalilah aku ke Ratu Plaza dengan 2 agenda:

Ø  Beli charger (ada sih teman yang tau tempat jual charger murah meriah seharga dua puluh lima ribu rupiah. Pas aku mau nitip, dia sanggup, tapi ternyata di Bandung sana ajah)

Ø  Benerin laptop. Selama ini aku bergantung pada modem, karena entah bagaimana fasilitas wireless si Putih tak bisa berfungi. Nah, dengan raibnya modem aku, tergeraklah aku untuk memeriksakannya. Karena mbak pencetak buku akan mengirimkan draft akhir-nya pada malam harinya.)

 

Hal pertama dilakukan adalah memeriksakan si Putih. Nah, pas nungguin aku melihat Yuki bergerak dari arah toilet, maka kupanggillah dia dan ternyata dia sedang duduk-duduk bersama temannya di kedai kopi. Maka, ketika si Putih beres, aku menyusul dia. Kemudian aku menuju toko charger hape di seberang kedai, dan harganya mahaaalll..250ribu ajah, earphone juga. Dududu.. Dan Yuki berkata “beli yang murahan aja pasti ada. Tar gue temenin”. Maka benarlah, kami berhasil membeli charger seharga 70ribu rupiah berkat Yuki yang menawar. (itu aku dah berasa murah yah, eh pas crita ke bos ku dia bilang “kok mahall..mbak aku di rumah beli 20ribu tuh”. Zzzzz…)

 

Singkat cerita, setelah itu kami berpisah karena Yuki mau menonton konser musik, aku duduk sendiri di kedai kopi sambil menunggu seorang teman eh 3 orang teman yang sedang melihat pameran batik di JCC. Ternyata, teman2ku itu tak jadi menyusul aku karena mereka sudah berasa mau patah kakinya. Resmilah aku duduk seorang diri hingga midnite tiba. Oiyah, aku batalkan agenda nemenin syuting, karena mood-ku sedang males.

 

Kemudian, ada teman yang menawari aku untuk datang ke acara konser musik di seberang jalan itu, dia ada tiket lebih. Kupikir daripada sabtu malam ku sendiri tiada yang menemani, tiada teman kunanti, aku kesana saja sambil menunggu midnite. Tokh gratis, ada Yuki juga di sana, yang menonton juga (teman yang kasih tiket ga nonton, dia kerja pada salah satu booth gitu..). Maka menyeberang jalanlah aku.

 

Konsernya itu diadakan di semacam sebuah aula, terdiri dari panggung dan lantai berkarpet untuk tempat penonton. Setelah puas melihat-lihat booth di luarnya, aku, Yuki dan 2 temannya masuk ke area panggung, duduk ngampar seperti semua penonton, ngobrol.

 

Saat itulah, ada teman yang baru datang yang baru mau masuk. Aku pamit ke Yuki dkk untuk menjemput temanku itu. “aku ke depan dulu yah.. titip..”, pamitku sambil pegang tas.

 

Aku dan temanku yang baru datang, bukan langsung masuk menonton konsernya tapi keasikan maen2 di luar. Karena 1: maenannya emang asik, 2: kita ga kenal sama sekali dengan band-nya. Jadi walau sudah dimulai, kami santai saja. Setelah puas, kami bermaksud masuk. Dan pas sampai di pintu masuk, hwuaaaa…semua orang berdiri dan melompat-lompaaatt.. Dimana Yukiiii..

 

Aku berjalan permisi-permisi menyibak orang-orang entah berapa ratus kali, hingga ketemulah Yuki. “Yukiii tengkyuu yaa.. Sini tasku!”. Dan respon Yuki membuat dunia di sekitarku kabur, sunyi senyap, paused.. “Lo nitipin tas ke gue?”. Aku melotot dan tak mampu berkata-kata. Kemudian aku menoleh ke temennya Yuki, dan dia “Tadi nitipin yah? Kita ga tau..”. Dan refleks kita berlima langsung nunduk-nunduk mencoba mencari keberadaan tasku. Dan kupikir itu sia-sia. Maka kuputuskan untuk segera lapor.

 

Tapiii.. Aku bingung gitu, musti lapor kemanaa.. Sepanjang mata memandang dan berputar-putar, hanya ada orang-orang berbahagia, mbak-mbak cantik mencatat data kita. Selama kebingungan itu, aku hanya bisa ngomong “oh my.. this is not happening.. this is not happening”. Maka kutanyalah ke pojok bernama ‘redemption corner’, dan katanya security ada di depan. Kesanalah aku, Yuki kusuruh masuk ke dalam lagi saja.

 

Tata: Bapak.. tas saya hilang.. Mau lapor..

Bapak: gimana critanya bisa hilang?

Tata: bodoh sih memang, Pak.. jadi.. la la la la la la … (kucritain lah semua)

Bapak: isinya apa saja?

Tata: hidup saya, Pak.. ada laptop, charger yang baru saya beli tadi, colokan kaki tiga baru beli juga, ummh..buku..kipas..  Pokoknya semuanya, nih saya tinggal pegang hape..

Bapak: ada dompetnya?

Tata: oiyah dompet! Beserta segala macam kartu..

Pas itu yah..aku sudah pada tahap tak ada harapan lagi. Siang tadi aku mendapati pertanyaan2 semacam ini dan dompetku tak kembali kan?

Bapak: ada KTP-nya?

Tata: iya..ada..

Bapak: warna tasnya apa?

Tata: hitam..

 

Kemudian muncul mas-mas panitia bertanya ada apa dan dijawab oleh bapak-bapaknya “Tas-nya ilang di dalam”. Trus ada kudengar mereka saling ngomong “trus gimana trus gimana..”.

Tata: ya pokoknya saya lapor ya, Pak.. (aku pikir tak mungkin kan panitia menghentikan konser sejenak untuk meminta kepada para penonton untuk mengecek sekeliling kakinya apakah ada tasku atau tidak)

Bapak yang lain muncul dari dalam ruangan, “Ini bukan?”, tanyanya sambil angkat taskuuuu! Dan aku langsung samber tas itu dan memeluknya. “Makasiiii…”. Bapak-bapak itu meminta aku untuk mengecek isinya, yang mana aku bingung juga karena sebenarnya aku tak tahu pasti apa saja isi tasku. Beneran. Tasku tuh isinya apppaa ajah.  Sikat gigi? Ada. Lotion? Ada. Tissue? Ada tissue kering ada tissue basah. Sabun muka, cutton bud, baby oil, obat2an, agenda. Mau sumpit? Ada juga. Jadi ketika ditanya “utuh barang2nya?”, aku jawab aja iya. “iyah.. laptop ada, mukena ada, buku ada.”.Dompet?”. "Oiyah! Lupa cek!”. Setelah kuobrak-abrik, “Ada! Makasiii ya, Paakk“. Kata bapaknya “Tadi ada mbak-mbak yang bawa kesini, nemu di lantai katanya”. Aku terharu..huhuhu… “Mbak-nya sebut nama nggak, Pak? Atau nomor hape?”. Dan ternyata tidak.. Yah, siapapun mbak itu..god bless u, sister.. (serasa sayembara kerajaan gitu..dah langsung diangkat jadi saudara ajah..)

 

Dan… dari rangkaian kejadian seru hari sabtu itu, aku bilang ke alam “Alam.. Makasih yah.. Today is my day….for learning lots of thing”.

 

 

^^

 

 

oiyah.. ada sedikit crita tentang ini di sini  oleh temen yang kujemput yang membuatku meninggalkan tasku ^^

 

Monday, October 17, 2011

[aku mengenang Bapak sebagai] Pawang Anak

 

…yang aku dengar…

 

Sedari aku dan adekku lahir, Bapaklah yang bertugas untuk merawat kami. Dimulai dari memandikan, menyuapi hingga imunisasi ke Puskesmas. Ibuku yang tidak bagus kondisi jantungnya memang dikondisikan untuk tidak mendapat jatah pekerjaan yang sekiranya berat. Jadi, tugas ibuku adalah menyusui anak-anaknya.

 

Bapak sangat sayang dan perhatian pada anak. Makanan pertama yang aku makan adalah bubur jagung yang mana tepung jagungnya ditumbuk sendiri oleh Bapak, kemudian memasaknya. Jadi dari jagung yang wujudnya masih berbonggol-bonggol itu hingga menjadi bubur halus yang bisa dimakan bayi, Bapak lah yang mengolah.

 

Tiap kali waktu imunisasi tiba, maka Bapak akan membawa aku dalam gendongannya ke Puskesmas untuk disuntik. Dan ketika aku sudah beradikkan D’Dika, maka D’dika digendong sedangkan aku dituntunnya. Kata ibuku, “Bapak ga pernah merasa risih diliatin orang-orang.. Bapak tak peduli kalau ada suara ‘laki kok imunisasi anak’. Saking sayangnya Bapak ke Ibu dan anak-anak..”.

 

Tiap kali anaknya sakit, maka Bapak akan sangat panik. Seringkali Bapak akan berkata “De’.. Sakitnya kasih Bapak saja..biar Bapak yang merasakan sakitnya..”. Dan, entah bagaimana (ibuku menyatakannya sebagai kekuatan doa), sakit kami suka berpindah ke Bapak. Salah satu contohnya adalah sakit gatel D’Dika. Ketika akhirnya sudah berpindah ke Bapak, gantian Bapak yang  tak bisa tidur karena gatel “Ya ampun, Bu.. ternyata gatelnya kayak giniii..pantesan Yayang (panggilan D’Dika) rewel banget…”.

 

Sayang Bapak ke anak, tak hanya ke anak-anaknya saja, tapi ke semua anak. Mungkin aku sudah pernah cerita tentang ini. Bahwa di jaman aku masih kecil, mungkin umur 5 tahun, masih marak dan wajar ada orang menawarkan anaknya. Waktu itu ada ibu-ibu muda menawarkan anak-anaknya dari rumah ke rumah. Bapak tentu saja tersentuh dan tergerak untuk mengasuhnya. Bapak merayu-rayu Ibu, “Ayolah Bu.. kasian.. itu yang gedhe seumuran Tata, yang kecil seumuran Yayang. Kasian mereka..”. Ibuku yang merasa tak pernah bisa mengasuh anak, tak ingin menambah beban Bapak. Bapak tak menyerah “Satu aja yah kalo gitu..ga usah dua-duanya..”. Kemudian Ibu berkata, “Pak.. Niat Bapak menolong itu bagus, tapi kebayang nggak kalau nanti semua anak sudah besar. Kalau ternyata nanti yang cewek jauh lebih cantik dari Tata gimana? Atau yang cowok lebih pintar dari Yayang gimana? Kita harus memikirkan perasaan masing-masing anak..”. Dan akhirnya Bapak menyerah, menggagalkan keinginannya ‘membeli’ anak :)

 

..yang aku lihat…

Sejak aku bisa mengingat, aku sudah melihat ada anak lain di rumah selain adekku.  Di rumah kami slalu adaaa saja anak yang dititipkan. Entah itu saudara, tetangga atau anaknya teman. Sejak aku kecil aku sudah terbiasa momong anak kecil. Bapak menularkan kesayangannya kepada anak-anak kepada kami.  Setiap pulang sekolah, Bapak pasti sudah menjemput bayi saudara atau tetangga untuk dibawa ke rumah. Kemudian kami libatkan dalam segala aktifitas kami. Pernah beberapa kali, aku dan Bapak dan bayi pergi ke kaki gunung Merapi , naik truk, untuk ambil pasir :)

Kadang, anak-anak itu diajak menginap di rumah. Eh sering dink.. ^^

Rumah kami selalu ada anak-anak. Baju-baju anak selalu ada.

Kalau kenaikan kelas, Bapak suka mengajak kami semua piknik untuk merayakannya. Kalau liburan panjang dan kami sekeluarga mudik ke rumah nenek, suka diajak juga. Pokoknya sudah dianggap keluarga sendiri.

 

Ketika aku SMP-SMA, sepulang sekolah aku suka mampir ke tempat temannya Bapak atau Ibu untuk menjemput anaknya, kubawa ke rumah. Bayangkan pake seragam sekolah, gendong anak, naik bis. Luchu yah.. Nanti main di rumah, malamnya atau esok harinya kami kembalikan ke orang tuanya. D’Dika juga begitu. Dialah yang bertanggung jawab atas selera musik anak-anak itu ^^

 

Biasanya anak-anak itu akan mulai ‘lepas’, ketika sudah mulai besar dan kebutuhan mainnya meningkat. Kadang sedih sih.. Psstt..aku suka sering menangis sendiri ketika ada anak yang beranjak besar.  Sedangkan Bapak..aku nggak tahu sih gimana perasaannya, kami tak pernah membicarakannya. Tapi yang pasti Bapak tak pernah mengungkit-ungkit, apalagi mencatat siapa saja yang pernah dimomongnya ^^

 

Ketika Bapak berpulang, ada beberapa anak yang tentu saja sekarang sudah besar  datang ke rumah. Ada yang masih kuingat ada yang enggak. Ibuku yang selalu bilang ke Bapak memberitahu siapa yang sedang berdoa untuk Bapak. “Pak.. ini Sani, Pak..”. Nah, Sani ini adalah anak yang kami ajak main sejak dari lahir. Kami sayaaang sekali ke dia. Dan mungkin jodoh mungkin juga kebetulan, tanggal lahirnya sama dengan Bapak. Bapak ada di sana saat Sani lahir, dan Sani ada di samping Bapak ketika Bapak berpulang. Kata Mama-Papanya Sani, “Sani mewakili Mbak Tata mendampingi Bapak”.  Pas aku ketemu Sani, aku peluk dia, aku berterimakasih ke dia. Bohong kalau aku bilang aku tak iri ke dia, tapi aku bersyukur karena Bapak pergi didampingi semua yang Bapak sayangi dan sayang Bapak. D'Dika berulaaang kali bilang "Banyak yang sayang Bapak.. Banyak banget..."

 

 

Jadi, jika sekarang aku tumbuh menjadi pawang anak. Dimana gampang ajah anak-anak untuk lengket sama aku, ya itu berkat Bapak.

Dulu jaman aku mulai naksir cowok, ibu pernah bilang “Kalau liat cowok, jangan lupa lihat bagaimana dia bersikap ke anak kecil”. Aku bingung, dan Ibu melanjutkan “Lihat Bapak…”. Dan aku tahu yang Ibu maksudkan. Kasih sayang seseorang ke anak-anak, ke anak kecil, itu tak bisa dipalsukan. Ketika kita bisa menyayangi anak tanpa membedakan dia siapa, maka tak akan jadi masalah apakah nanti kita memiliki anak atau enggak.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

 

 

......Bapak, Tata kangen....

Wednesday, October 5, 2011

Cinta yang Ingin Kumiliki

 

Ada seorang teman yang tidak percaya pada kisah cinta dan memunculkan ketidakpercayaan pada pernikahan. Ya, dia berkata dia tidak akan menikah. "Memiliki pasangan hidup, iya.. Tapi tidak dengan menikah". Dia menyatakan bahwa "ga ada pasangan menikah yang membuat gue jd pengen nikah juga. Ga ada itu cinta sejati. Ya paling Habibie-ainun aja sih…udah itu aja..".

 

Yak.. Bisa dibilang aku juga merasakan itu: keminiman role model pernikahan bahagia sejahtera hingga bikin ngeces pengen juga (no offense yah.. ^^).  Aku pernah berkata ke ibuku "Tata ga mau menikah untuk asal menikah. Kalau terlalu banyak yang harus dikompromikan hanya untuk sekedar status menikah, Tata ga nikah juga gapapa kok". Itu kuucapkan sebagai respon kampanye ibuku bahwa cinta itu bisa dipelajari, bahwa bapak-ibu menikah tanpa cinta dengan perbedaan seluas samudra tapi akhirnya bisa jalan dan tak terbayang kalau dulu mereka tidak menikah. Bapak-ibu ku menjalankan pernikahan dengan pengorbanan di sana-sini, yang aku belum sanggup bayangkan bahwa aku akan bisa melakukan itu juga. Maka dari itulah muncul kalimatku di atas. Dan ibuku berespon dengan "apapun pilihan Tata, ibu mohon jangan memilih untuk hidup sendiri. Janganlah pernikahan bapak-ibu, seperti apapun itu, membuat Tata trauma". Begitulah, entah kenapa ibuku berpikir bahwa aku telah mencapai tahap enggan menikah karena trauma melihat pernikahan. Hingga saat lebaran kemarin pun ibuku minta maaf karena merasa sudah salah asuh.

 

Ya saat itu aku merasa memang pernikahan bapak-mak ku bukan jenis pernikahan yang aku ingin miliki juga. Terlalu banyak kompromi, terlalu banyak pengorbanan. Ibuku sering dan selalu membanggakan proses pernikahan kilatnya yang hanya membutuhkan waktu 2 minggu dari kenalan menuju lamaran. Dan aku slalu berpikir "aku ga bisa seperti itu.. Aku ga mau banyak perubahan atas nama penyesuaian".

 

Tapi semua itu sekarang berubah…

 

Bapak berpulang tanggal 25 September kemarin setelah sakit beberapa hari. Selama sakit itu Ibu selalu mendampingi. Menjelang saat terakhirnya, Bapak yang sebenarnya dalam keadaan tak sadar, minta duduk dipangku adekku dan kemudian memeluk Ibuku dengan sangat erat "Ayo, Bu',.. Kita berdoa". Dan ibuku mulai berdoa dan bapakku mengamininya.

 

Trus, dari saat Bapak pergi hingga dimakamkan, Ibuku cukup tegar. Dia selalu di samping Bapak dan ngobrol terus dengan Bapak. "Bapak.. Kepalanya diikat dulu ya, Pak.. Ni, pake kain kerudungnya Tata, Pak..". atau "Kita pulang ke rumah ya, Pak.. naik mobil, Pak..". Dia terus berkomunikasi dengan keyakinan Bapak pasti mendengarnya. Hingga ketika akhirnya Bapak baru selesai dimakamkan, Ibuku mengambil bunga dan menaburkannya sambil berkata "Tanda cinta ya, Pak..", dan kemudian ibuku pingsan.

 

Dan saat itulah aku berkata dalam hati "aku mau memiliki cinta yang seperti ini. Aku ingin cinta yang seperti ini.". Kompromi, pengorbanan atau apapun, itu bukan apa-apa ketika disandingkan dengan cinta yang seperti itu.  Dan aku mau. Tuhan…dengar kan? :)

 

 

 

 

 

Note:

Memang cinta itu butuh pengorbanan bukan? Entah kenapa aku sempat lupa..

 

 

 

 

 

Wednesday, July 20, 2011

One Week Notice

...tentang aku yang sepertinya sibuk sekali...

bulan ini adalah bulan ke-13 aku bekerja di tempat yang baru (masih pantaskah disebut 'baru' ketika sudah setahun lebih?). Tapiiii selama 13 bulan itu, bisa dikatakan belum sekalipun aku ikut acara kebersamaan yang diadakan. Mulai dari karaokean, makan-makan, nobar, sampai jalan-jalan. Banyaaakk yang kulewatkan... Bukan karena aku anti-sosialisasi atau pendiam atau tak suka dengan kegiatannya, tapi murni karena waktunya yang tak tepat.


Yang kumaksud dengan waktu tak tepat adalah bentrok dengan acara yang sudah kujadwalkan terlebih dahulu alias kalenderku sudah terisi duluan. Yak, aku punya agenda mini berisi kalender dalam bentuk tabel yang bisa kutulisi agenda acara. Jadi tiap ada kegiatan, aku tulis di situ. Itu lumayan efektif dalam membantu meringankan beban otakku yang memorinya tak ada lagi. Nah, tiap kali kantorku mengadakan kegiatan, pas kulihat kalenderku pasti sudah ada yang tertuliskan di sana. Dan biasanya itu tak tergeserkan sifatnya. Contohnya: tontonan-tontonan yang tiketnya sudah kubeli sebulan sebelumnya, itu kan tak mungkin kugeser dengan "besok malem kita nobar yuks...?" atau "water boom yuks..".


Sekali dua kali aku melewatkan momen kebersamaan, mungkin dimaklumi. Tapi kalau setiap kali? Maka muncullah kalimat seperti "Tata sombong ih ga mau gabung ma kita..." atau "tata ga bisa mulu..." atau "acara tata segitu pentingnya sampai tak bisa diganti hari?". Duh... Bukan gituuuuuu.... Tapi aku tak berdaya membela diri, hanya mampu tersenyum dan berkata "sorry..."


Hingga di satu waktu, ketika ucluk-ucluk muncul acara nonton bareng. Semua orang antusias, kecuali aku. Karena malam itu aku mau menonton sendratari yang tiketnya kubeli jauuuuuh-jauh hari dengan perjuangan setengah mati. Dan muncullah kalimat "ih tata selalu gitu deh...selalu ga bisa.. ayo donk tata..". Mereka berusaha merayuku, dan itu sungguhlah berisik. (oiyah..ajakan ini via chat-conference, jadi kerjaanku bentar2 keinterupsi tring tring bunyi chat masuk). Dan mungkin aku juga sedang over-sensitif, sehingga over-reaktif lah aku. Maka kukirimlah pesan ke semua orang di kantorku yang intinya please be informed that it needs at least one week notice to have me. Trus kutambahkan bahwa tiap orang punya rencana masing-masing yang tak bisa diganggu gugat oleh sesuatu yang sifatnya mendadak. "jangan dibiasakan donk dadakan-dadakan..dikira semua orang pengangguran tak ada acara ajah..", kurang lebih itu intinya.


Tapiiiii...ternyataaa....walaupun sudah seminggu sebelumnya aku dikasih tau, paaaassss ajah aku dah punya rencana mulu. Jadi tetap saja  aku tak bisa bergabung. "Kalo tata mah musti booking sebulan sebelumnya. Itu pun blum tentu dapet...". Astagaaa.. sebegitu langkanyakah akuuuu... Huhuhuhu...


Setahun berlalu dan semua orang sudah maklum dan mengerti. Apalagi kalau mau mendapatkan aku di wiken, jangan harap... Bossku menjuluki aku "a girl with full agenda". Hohoho...


Hari ini seluruh karyawan tempatku bekerja mengikuti kegiatan tim building di sebuah hotel di ujung Jakarta. Daaannn di antara semua karyawan seindonesia, hanya aku yang tak ikut karena aku ada urgent priority. Bossku tentu saja mengerti walau dengan kalimat "kalau memungkinkan, nyusul yah.. Masa kita semua senang-senang tapi kamu kerja". Kemudian aku membayangkan bahwa aku harus sendirian di kantor adalah cukup creepy, karena OB pun ikut tim building itu. Maka bertanyalah aku ke boss keuangan yang kutahu gila kerja apakah dia akan ikut bersenang-senang. Dan dia bilang "iya dunk...tapi mungkin akan keluar sebentar2 untuk mengerjakan sesuatu". Yaaaa...ternyata dia ora mudheng tim building itu opo. Dia pikir itu semacam meeting akbar di dalam ruangan, jadi dia bisa kabur2 bentar. Setelah dijelaskan bentuk acaranya, bahwa seharian akan di halaman maka dia memutuskan untuk tidak ikut, karena dia tak bisa jauh2 dari laptopnya   -_______-


Jadilah hari ini aku berdua saja dengan boss ini. Dan seperti jaman SMA dulu, today is an english day. Karena boss ini diimpor dari thailand dan baru 2 bulan di jakarta. Jadi, baru ngerti selamat pagi-siang-sore dan terimakasih saja...

Pas makan siang dia bilang bahwa semestinya aku bergabung dengan yang lain ketika kerjaan selesai. Dan bahwa dia akan ikut kesana untuk memastikan aku sampai dan kemudian dia kembali ke kantor. Kubilang bahwa hati kecilku berkata aku tak ingin kesana. Selain jauh, aku ga suka panas-panasan. Dia masih mencoba merayu dengan informasi bahwa akan ada gala dinner dengan bintang tamu siapa gitu, dan aku keukeuh. Hingga akhirnya dia bertanya apa yg pengen banget aku lakukan. Jawabku "duduk-duduk sambil ngopi di starbak". "oh okay... kita ke sana habis ini", katanya.


Hingga akhirnya kita berdua mau pulang pas jam 7 malam, wacana duduk-duduk harus tertunda karena ini hari rabu, hari joggingku. 

Boss: Besok aku tak di kantor... Jumat kita lunch bareng yah...
Tata: *senyum* aku ada meeting di pacific place
Boss: oh kalau gitu malemnya aja gimana? Pulang kantor kita kemana gitu..
Tata: *senyum* aku dah ada janji makan rica lele di sabang
Boss: ouw... senen yah? Lunch time
Tata: aku ada kerjaan keluar kantor
Boss: ya udah... after office hour aku traktir kamu


Tanpa menunggu konfirmasiku, dia jabat tanganku "it's a deal". Aku manut-manut ajah. Selain ga enak nolak mulu padahal siapalah aku, juga memang aku tak mampu langsung inget hari senin aku ada acara apa.


Maka, ketika dia balik ke ruangnya untuk rapikan mejanya, aku ke tasku mengambil agenda dan mengecek kalender. Dan tentu saja hari seninku sudahlah terisi. Dudududu...


Ingin hati aku segera membatalkannya, tapi kuurungkan. Teringat dua minggu lalu dia mengajak kami semua nyushi dan aku menolak dengan resmi bahwa aku sudah ada  acara. Walaupun di email penolakan itu kubilang bahwa butuh one week notice untuk bisa dapetin aku, tapi ga yakin dia ngeh juga. Siapa dia siapa aku kan? Sudahlah dia sebatang kara tanpa sanak saudara di jakarta raya, massa musti tertolak dua kali oleh kaum sudra juga...^^ Maka untuk dia kuberikan dispensasi 'merusak' agendaku. 



....jadi pengen punya kalender online yang bisa diakses siapapun untuk mengecek availability-ku sebelum mengajak-ajakku..... *jiyaaaa...serasa penting ajah*


....eh eh..tapi tar kesenengan para stalker-ku yah?... *kayak ada ajah...hahaha...*




Monday, July 11, 2011

Album SM*SH_ga niat tapi asik

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:SM*SH
Akhirnya album yang dinanti-nanti dari para anak muda unyu ini muncul juga. Walaupun aku melewatkan konser peluncuran albumnya yang ditayangkan selama dua hari, bukan berarti aku tak antusias. Segera setelah hari peluncuran album, aku segera mencari gerai KFC terdekat (oiyah, peredaran album Sm*sh ini adalah melalui KFC, mengikuti jejak Agnes Monica). Nah, jika biasanya ketika di KFC setelah menyebutkan pesanan, pelayan akan menawarkan CD sebagai templatenya, dan sebelum dia bahkan menyebutkan CD apa sudah kupotong dengan “enggak”, maka kali ini berbeda. Setibanya aku di depan tempat pemesanan, maka aku berkata “mbak, saya mau album Sm*sh. Saya harus beli apa?”. Pokoknya apapun syarat dan ketentuannya aku penuhi demi sm*sh., kurang lebih begitulah maksud kalimatku. Dan si mbak berkata “oh ga perlu beli apa-apa bisa kok Ka.. Beli CD nya aja bisa.”. Dan aku kegirangan “ouw.. okay..CD saja kalo gitu”. Tapi setelah itu aku berpikir bahwa aku lapar juga, jadi kupesanlah fish fillet. Total harganya adalah Rp 45.000, 00. Nah, aku ga tau tuh berapa harga masing-masing. Tapi, intinya berarti harga CDnya murah dan terjangkau lah ya.


Dari kemasan luarnya, jujur aku tak klepek-klepek. Sungguh biasa sahaja. Cover albumnya datar: warna dasar gelap dengan sedikit percik-percik merah, tulisan SM*SH, semacam siluet 7 anak sm*sh dalam ukuran mini, dan gambar bapak-bapak KFC di ujung kanan atas seperti perangko. Sedangkan cover belakangnya berupa daftar lagu beserta kode-kode ring back tone untuk masing-masing provider telfon. Sampai pada tahap ini aku belum merasakan apa-apa, kan katanya don’t judge an album by its cover. Maka, kukoyak plastik pelindungnya dan kubuka CD tersebut.


Hal pertama kulakukan adalah memeriksa apa saja isi dari albumnya. Dan disinilah rasa mencelos mulai muncul. Dalam bayanganku, aku akan mendapatkan semacam album foto dari personil sm*sh yg unyu-unyu itu. Seperti ketika jaman SMP dulu aku membeli album Backstreet Boys, selain sampul albumnya bertaburan foto, masih dapat bonus kartu pos bergambar tampang masing-masing personil. Nah, album sm*sh ini hanya menyediakan dua foto rombongan sm*sh saja. Dua foto dengan satu kostum. Sungguh saya kecewa. Semacam tak niat dalam membuat album saja. Pesona anak-anak ini kan pada tampang mereka yang unyu, lha kok malah itu tidak dimaksimalkan.


Lirik-lirik lagu yang tersedia, aku lewatkan dulu. Aku langsung menuju halaman terimakasih. Bagian ini juga merupakan bagian yang personal dari penyanyi. Penggemar atau fans itu akan selalu berusaha mengenal idolanya lebih baik, lewat apapun. Nah, bagian terimakasih ini adalah bagian yang sedikit lebih membuat kita mengenal idola. Bagaimanapun kita percaya bahwa sang idola menulis bagian ini sendiri, jadi kepribadiannya akan terlihat. Kalau jaman SMP dulu, hal pertama yg diperhatikan adalah ucapan terimakasih pertamanya untuk siapa. Urutan itu penting. Apakah ke Tuhan dulu atau orang tua. Kalau orang tua, mama dulu atau papa dulu. Pokoknya semua bisa dibaca dan dianalisa. Nah, kembali ke sm*sh. Udahlah foto sendiri-sendiri tak ada, eh ucapan terimakasih pun tak ada. Jadi cuma ada halaman SM*SH ..thanks to. Itupun yah, setelah terimakasih ke Tuhan, urutan berikutnya adalah orang-orang di perusahaan2 yg mungkin mendukung terwujudnya album itu. Dalam barisan ini ada KFC, SCTV, RCTI, telkomsel, dll. Setelah itu barulah menyebut nama-nama seperti becky tumewu. Nah, menjelang akhir ucapan terimakasih, barulah nama sm*shblast diikuti orang tua “mama-bapa” yang selalu mendukung kami. Hadududu… kecewa lagi deh.. Kita kan pengen tau si Bisma manggil ortunya gimana, si Rafael gimana. Massa dipukul rata ‘mama-bapa’. Bisa saja kan ada yang manggil orang tua-nya ‘abi-umi’?!


Jadi, intinya dari fisik albumnya, cukup mengecewakan.


Kemudian mulai kuputarlah lagu-lagunya. Jujur, aku tidak berharap apapun. Ini sm*sh, bukan Glenn Fredly atau Andien. Aku mendengarkannya berurutan dari lagu pertama hingga kesepuluh. Daaannn..aku tidak berkata “lumayan” atau “not bad lah..”. Tapi kubilang “wow!”.


Dari 10 lagu, 4 lagu di antaranya adalah lagu lama yang dinyanyikan lagi. Empat lagu itu adalah Ada Cinta yang dulu dinyanyikan Bening, Inikah Cinta-nya ME, Gadisku-nya Trio Libels, dan Oh Ya-nya Dian Pramana Putra yang ‘sumpah mati padamu ku jatuh hati’ itu lho.. Nah, sm*sh menyanyikan 4 lagu ini dengan manis. Jadi, selain membuat tersenyum ketika mendngarnya juga membangkitkan lagi nostalgia masa lama. Kemudian 2 lagu yang sudah lebih dahulu muncul single-nya, I Heart You dan Senyum Semangat juga tetap enak didengarkan. Tiga lagu baru berikutnya memang tidak ada yang istimewa pada musiknya, namun liriknya donk…menggemashkan! Liriknya jauh dari serius apalagi puitis,tapi cara menyanyikannya tuh membuat gemesh. Favoritku adalah lagu berjudul Ahh. “kau buatku wow!”, itu lirik favorit.


Dan gong dari album ini adalah lagu I Heart You yang dinyanyikan secara akustik. Aduuuuhh..cute bangeeett.. Enak seenak-enaknya! Aransemennya pintar! Aku dan bossku kalau memutar CD Sm*sh, pas lagu ini bisa diputar berulang-ulang, berulang-ulang ^^


Jadi intinya, album sm*sh ini adalah pemanja telinga, bukan pemuas mata.





Tuesday, June 21, 2011

Pupus_Parade Video Klip (lagi) dari Rizal Mantovani

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Drama
Cinta-cintaan klasik yang luchu dan menggemashkan.


Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Judulnya tak bersusah-susah dicari, cukup dari judul lagu yang juga merupakan soundtrack film nya. Ceritanya,klise luar biasa, yaitu tentang dua muda-mudi saling suka tapi karena si pemuda tak ingin mengecewakan atas keadaan dirinya, maka dia pura-pura jahat dan membuat si pemudi membencinya. Hingga di akhir cerita terkuaklah modus operandi si pemuda dan mereka saling mencinta hingga ajal memisahkan.


Si pemudi punya sahabat, si pemuda juga punya sahabat. Sebagai bumbu cemburu tentu saja ada gadis lain dan pemuda lain, dan tentu saja mereka jahat pengkhianat sehingga tak perlu ada dilema apalagi buah simalakama untuk pemain utama dalam memilih cinta. Adegan-adegan percintaannya standard jaya. Pergi ke pasar malam, naik bianglala dan pas sampai di atas mesinnya macet, yang merupakan adegan wajib di komik Jepang bacaan anak SD, itu ada. Dan demi tidak mencederai formula komik, maka macetnya bianglala berakhir dengan ciuman juga.


Namun, meskipun standard bin klise film ini tak terasa basi atau meresahkan. Film berjalan dengan lancar seperti aliran air di dalam istana boneka: pelan, tenang, menghanyutkan. Dan sepanjang perjalanan itu kita disuguhi keluchuan akting Donita yang menggemashkan. Donita menjadi pemudi bernama Cindy, gadis asal Lampung yang merantau ke ibukota. Karakter Cindy ini imut-imut lugu pengen dichubitin. Dia ekspresif, ketika kesal dia cemberut, ketika girang dia sumringah. Dan pergantian tampang itu dapat terjadi dalam sekejab, dan itu disebabkan oleh pasangannya. Pasangan dia adalah Panji yang diperankan oleh Marcel Chandrawinata. Panji adalah pemuda yang cuek tapi perhatian, suka iseng. Panji-Cindy adalah pasangan yang saling melengkapi, yang satu suka ngegodain, yang satunya gampang digodain. Dan goda-godaannya tuh kocak ajah.


Menurutku, dialog dalam film itu adalah utama dalam menentukan tingkat kebetahan menonton. Ada film yang hampir setiap kalimat terucap dari pemainnya adalah indah dan pengen dicatet. Tapi ada juga yang setiap kalimat seperti jarum yang menusuk telinga juga dada. Nah, Pupus pintar dalam menyiasati kebiasaan dialognya: putar lagu-lagu populer mengiringi beberapa eh banyak adegan. Hasilnya? Kita seperti menonton video klip. Rumus yang hampir sama yang digunakan Rizal Mantovani pada film Cewek Gokil. Ingat lagunya harus populer, sehingga secara tidak sadar penonton ikut menyanyi dalam hati sembari menikmati keindahan gambar di layar. Dengan begitu, cerita tetap berjalan pada relnya dengan dialog sesuai imajinasi masing-masing penonton. Aman kan?


Film ini cocok ditonton buat mereka yang sudah melewati tahap penuntutan status kepada gebetan atau pasangan HTS-nya. Karena beberapa dialog cukup menggelitik para penganut HTS, "Jadi kita ini apa? Temen, sahabat atau pacaran? Kita ciuman, artinya kita pacaran kan? Kamu tinggal tanya aku mau nggak jadi pacar kamu, aku pasti akan jawab mau". Yah…dialog-dialog ringan semacam itu ternyata ampuh lho menggelitik. Dan tak disangka tak dinyana ketika akhirnya kalimat "kamu mau jadi pacar aku?" terucap, lumayan mengharu-pyas-kan ^^




Oiyah, tonton dan nikmati saja..jangan tanya kenapa judulnya Pupus ^^

Tuesday, June 14, 2011

Hanya ke Kamu…

..tentang seseorang yang spesial…

 

Hari minggu kemarin, 12 Juni 2011, aku datang ke acara makan malam memperingati 40 bulan pacarannya seorang teman (eh dua-duanya sudah menjadi teman dink..). Bukan tentang "astaga..apa yang istimewa dengan 40 bulan hingga diadakan makan malam bersama" yang ingin kuceritakan, tapi tentang arti seseorang.

 

Makan malam peringatan 40 bulan pacaran itu tidak mengundang banyak teman, hanya bersepuluh saja. Susunan acaranya dimulai dengan ramah-tamah saling kenalan di antara sesama undangan dan kemudian makan hidangan utama. Setelah selesai, piring-piring diangkat dari meja, kita diberi waktu sebentar untuk merokok di luar restoran. Nah, setelah itu buah dihidangkan, sebelum makan buah, si tuan rumah berkata "tolong cek bagian bawah meja kalian, we've prepared something for you". Kita semua segera meraba-raba bagian bawah meja dan menemukan amplop yang ditempelkan menggunakan selotip. Kita ambil dan kita yang sebagian besar perempuan langsung "ya ampuunn.. luchu banget..".

 

Jadi, pada bagian depan tiap amplop terdapat tulisan yang ditulis tangan seadanya (tulisan tangan si tuan rumah memang begitulah). Tulisan tersebut adalah kalimat-kalimat berkesan yang pernah diucapkan oleh pasangan tersebut ke satu sama lain. Jadi, setelah kutipan kalimat, diakhiri dengan nama pasangan yang mengucapkan. Dan masing-masing kita diminta untuk membacanya sebelum membuka amplop (dan menemukan gelang cantik sebagai souvenir). Tiap selesai satu kalimat dibacakan, kita yang sebagian besar perempuan berkata kompak "ouw..romantis bangeett..".  Sedangkan pihak yang dikutip kalimatnya malah kadang berkata "ya ampun gue pernah se-alay itu?" ^^

 

Boleh jadi kutipan kalimat-kalimat yang ditulis itu adalah gombal pada jamannya. Mengumbar kata-kata manis adalah hal yang lumrah bukan untuk para kaum kasmaran? Namun tetap saja ketika ternyata gombal-gombal itu berkesan bagi seseorang dan dia mengumumkannya ke khalayak (baca = kita-kita ), jadi terasa romantisnya.

 

Di antara semua kalimat 'gombal' itu, ada satu kalimat yang menghangatkan dadaku.

"Hanya ke kamu aku berani mengakui kekalahan dan iriku".

 

Begitu mendengarnya, terasa pyas dan melihat pasangan itu mataku jadi panas. Karena buat aku, kalimat itu daleeeemmm ajah. Tiap orang memiliki pride masing-masing, memiliki value, standard, prinsip sendiri-sendiri. Bisa dikatakan bahwa hampir menjadi standard umum bahwa rasa iri itu perbuatan tidak terpuji (meminjam istilah PMP jaman SD). Sebisa mungkin kita tidak menunjukkan bahwa kita iri pada sesuatu, baik materiil ataupun pencapaian orang lain. Pun diungkapkan, rumuskan kalimat-kalimat indah yang menyamarkan muatan irinya (atau sekalian diekstrimkan hingga nampak berlebihan). Seiri apapun kita pada kesuksesan orang (apalagi ketika itu hasil dari kita berkompetisi), itu cukup dalam hati dengan tetap tersenyum menyelamati. Orang bilang itu berjiwa besar dan itu sifat terpuji (meminjam lagi istilah PMP jaman SD). Jadi, ketika kita kalah, kekecewaan dan iri sebaiknya disembunyikan demi nampak berjiwa besar. Hal itu berlaku di ranah publik, juga di depan gebetan atau pasangan. Tulus dalam iri itu sulit.

 

Meski ada frase "menerima apa adanya", namun pencitraan itu perlu ^^ Berusaha agar tidak muncul kalimat "lho kok (ternyata) gitu…?". Kan jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga.. :)

 

Maka ketika kita menemukan orang yang kita bisa jujur sejujur-jujurnya, mengakui semua-mua, tanpa ada kekhawatiran akan mengecewakan, tanpa ada ketakutan nampak buruk, itu anugrah bukan? Ketika kita bisa bersikap dan bersifat semanusiawi mungkin, itu nikmat bukan? Ketika kita bisa bersikap apa adanya dengan keyakinan akan tetap diterima seutuhnya, apalagi yang kita butuhkan?

 

Aku terharu dan tentu saja iri pada temanku itu :) Aku juga ingin menemukan orang yang ketika ada soal "apa artiku buat kamu?", aku bisa menjawab dengan kalimat gombal itu ^^ Dan, oiyah...sambil nyanyi lagunya Audy :)) 

 

 

 

 

 

Eh..kayaknya aku sudah mulai menemukan dink…cuma blum bilang ke yang bersangkutan saja bahwa hanya ke dia aku begitu. Tar dia ke-GR-an trus besar kepala trus terbang deh… ^^

 

 

Tapi ingat: ini bukan hanya tentang pacar atau pasangan. Soulmate itu bisa berstatus apa saja yah...