Tuesday, September 11, 2012
Suara Kecil dari Bali
Karena MP
thank you, MP.. *kiss
Tuesday, May 22, 2012
Ragil Suka Foto-Memfoto
…adekku yang usianya 6 tahun itu…
Dari jaman kecil dulu kan dia memang suka sekali difoto. Kalau sedang menangis, lalu diajak berfoto, maka dia akan kembali ceria. Segala pose foto dia ahlinya. Pokoknya dia sukaaaa difoto!
Nah.. Ternyata kali ini ada yang berubah: dia suka mengambil foto!
Seminggu kemarin aku kan pulang ke rumah. Beberapa kali mendapati dia ngambek, bersedih hati dan hal lain yang ujungnya adalah menangis. Awalnya aku tak begitu paham bahwa obatnya adalah memberikan hape ke dia. Hingga akhirnya beberapa kali terbukti bahwa memotret dapat menyembuhkan kemurungannya.
Dia suka memfoto apa saja, tapi tidak asal. Dia beneran mencari objek gitu lho...dari pemandangan sampai manusia-manusia. Setelah jepret, dia akan melihat hasilnya, kemudian meminta pendapat orang. Dan aku hampir slalu berkata “bagus!”, karena memang bagus. Sambil kadang-kadang sok memberikan saran “jangan kelihatan tiang listriknya…” dan sejenisnya. Pokoknya biar dia bersemangat.
Nah.. Ini adalah hasil foto yang membuatku ternganga. Kok kerreeennnn…?! Satu, aku kaget kok dia bisa memotret seperti itu. Dua, aku kaget ini kan cuma pake kamera hape! Hapeku yang uzur pula!
Hingga aku akhirnya berkata “Waaa.. Dede’ berbakat yaaa fotografi.. Tar mbak Tata beliin kamera yah..”. Dan dia “sekarang?” dengan antusias. Tampangku langsung mendatar “Ya enggak sekarang dunk… Nanti kl Dede’ sudah besar..”. Dan dia juga mendatar.. L
Tapi yah yang pasti, sekarang kalau pergi-pergi sama dia, bisa dimanfaatkan untuk fotoin kitaaaa ^o^ *kakak oportunis*
ummmhh.. Ada yang mau jadi mentor adekku? Biar fotonya ga miring-miring gitu...
Sunday, May 6, 2012
Aku Cinta Jakarta
Aku pernah bilang bahwa aku merasa Tuhan memanjakan aku. Kadang Tuhan iseng sih godain aku, tapi itu tak lama, habis itu manjain lagi. Aku juga sudah menjadi kebal ketika ada yang berkomentar “Wah..Jakarta tidak menempamu. Padahal konon kehidupannya keras”.
Beberapa waktu lalu aku membaca tulisan di link ini, tentang betapa jahatnya Jakarta, betapa tak masuk akalnya juga hingga membuat si penulis “lama-lama takut tinggal di Jakarta”. Aku tidak menyangkal bahwa itulah Jakarta. Sebelum ada tulisan itu, aku telah (sering) mendengar ada teman yang dihipnotis di dalam bis kota hingga raib handphone nya atau tentang teman yang dibekap dua orang dan satu orang lain mengaduk-aduk isi tasnya, di pinggir jalan raya di pagi hari. yak, inilah Jakarta.
Dan yang akan kuceritakan ini pun terjadi di Jakarta.
Cerita 1
Kemarin aku akan menonton film bersama bocah-bocah, maka sebelum berjumpa di bioskop, aku mampir dulu di swalayan untuk membeli sesuatu. Setelah memilih-milih sebentar, aku putuskan untuk membelikan bocah-bocah itu sumpit untuk pemula yang luchu desainnya dan mudah digunakan (jaminan langsung bisa menyumpit bakso yang bulat itu!). Segera setelah mengambil sumpit-sumpit itu, aku menuju kasir yang sedang melayani bapak-bapak yang belanjaannya banyaaaakk sekali. Sambil menunggu dia dilayani, aku menonton Happy Feet yang diputar di layar TV di belakang mbak kasir. Mataku tertuju ke depan, tanganku memegang 3 sumpit. Tiba-tiba sumpitku diambil sama bapak tadi dan disodorkan ke kasir ketika belanjaan terakhirnya sedang di-scan. Aku kaget dan memandang si bapak. Dia tersenyum dan “let me pay them”. Aku ga mau dunk. Dia entah siapa, apa motivasinya pula. Dan dia tetep ngotot meminta si mbak kasir menyertakan sumpit itu ke daftar belanjaan dia. “Please, let me. I know they’re for children. I love children.”. Dan aku hanya bisa “Are u sure?” dan “ya udah deh..”, kemudian “aku beli yang lain juga aahh.. haha..”, becandain dia. Kata dia “oh silakan.. Tapi ini tetep kubayarin yah..”.
Bayangkan! Aku berjumpa manusia asing nan baik hati yang membayari barang yang kubeli, di pusat Jakarta. Di sebuah tempat yang lebih sering dipenuhi oleh orang yang saling skeptis dalam diamnya. Bahkan aku pun sempat bertanya-tanya nyaris curiga. Dan selama transaksi di kasir sekejab itu dia crita kalau dia tinggal di Jakarta sendiri sedangkan anak istrinya di Amerika sana. Ketika kutanya apakah dia sering melakukan itu, bayarin belanjaan orang? Dia bilang “enggak juga. Kebetulan saja aku tau km beliin untuk anak-anak”. “It does inspire me. Thank you”, aku bilang gitu sebelum pisahan.
Cerita 2
Pagi ini cuaca Jakarta begitu gloomy. Ketika aku berangkat kerja, mendung berangin pertanda akan hujan. Kemudian, ketika aku akan turun dari bis untuk ganti bis lain, hujan sudah turun dengan serunya. Aku adalah manusia tanpa payung. Maka aku mengeluarkan blazer dari dalam tas dan menutupkannya ke kepala. Aku tau akan tetap basah, tapi lumayan lah untuk menunda kekuyupan sampai aku berteduh di 711 terdekat. Tiba-tiba ada payung di atas kepalaku berbarengan dengan suara dari samping kiriku “Barengan saja, mbak..”. Aku memandang si mbak itu, “Terima kasih.. Mau naik bi situ juga?”. Dan dia mengiyakan. Maka berjalanlah kami berdua di bawah payungnya. Aku tersentuh oleh tindakannya. Kalau mau dibilang kecil atau biasa saja, aku kira tidak. Banyak pejalan kaki berpayung lainnya yang lewat, sebanyak yang tanpa payung dan menutupi kepalanya menggunakan tas mereka sebagai usaha melindungi diri dari hujan. Namun, gadis muda itu memayungi aku.
Dari dua cerita itu, satu saja kalimatku: Aku cinta Jakarta, aku suka tinggal di Jakarta ^^
Friday, December 30, 2011
Apakah pakai 'kacamata' juga bisa menipu orang?
hmmmmm....
Yang kumaksud dengan ‘kacamata’ ketika kubilang “Ketika kita melihat sesuatu yang janggal yang aneh yang tidak masuk akal, baiknya coba pikir dan renungkan, jangan-jangan cara pandang kita yang perlu dikoreksi. Atau jangan-jangan kita salah pakai 'kacamata'”, adalah cara memandang. Kita sering tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikir orang lain bukan? Contoh ekstrim: pelaku bom bunuh diri. “Apppaaa siii yg mereka pikirkan??”, sering terdengar komentar seperti itu bukan? Contoh lebih sederhana: ada seseorang yang merasa dia melek fashion dan melihat ada orang lain memakai baju yang menurut dia kejahatan, dia foto diam-diam kemudian dia sebarkan di social media dengan caption “o my god, what were this lady thinking. fake tan & blondish hair. harem jeans? Yuck”. Akarnya adalah dia tidak mengerti dengan apa yang dia lihat dan merasakan keanehan tingkat dewa.
Adakah ‘kacamata’ untuk kedua contoh di atas?
‘kacamata’ aka cara pandang itu menurutku bergerak atau berkembang seperti halnya mata kita. Contoh yang menurutku cukup pas adalah di film Sang Penari, film tentang ronggeng di daerah Dukuh Paruk, Banyumas. Di film tersebut, di latar waktu itu, ronggeng ada dengan segala macam ritualnya yang kental (sesaji, doa sebelum manggung). Kemudian tibalah waktu di mana mereka seperti ‘dipaksa’ untuk berkompromi dengan kondisi jaman: sesaji dan doa ditiadakan. Para tetua merasa sangat keberatan, apalagi sang dukun ronggeng. Namun, akhirnya dicapailah jalan tengah bahwa sesaji dilakukan di rumah sebelum berangkat. Kata salah satu sesepuh “Inilah lakuning jaman..”. Yep! Di ‘mata’ para sesepuh itu, awalnya peniadaan ritual sesaji di panggung itu adalah kejahatan tradisi. Namun, mereka menyadari bahwa jaman bergerak dan berubah, maka mereka pun akhirnya menerima hal itu sebagai ‘lakuning jaman’. Mereka melakukan ‘koreksi pada mata mereka’, mereka memakai ‘kacamata’ baru..
Nah, sekarang dengan mengetahui pentingnya ‘kacamata’ ini, haramkah "apaan sih ini?? Ga ngerti deehh..”? Apakah kita akan menjadi orang yang selalu mengerti semua hal?
Pertanyaan selanjutnya? Apakah ‘kacamata’ membuat kita menjadi penipu? Karena kan pada awalnya kita tidak mengerti, kemudian kita memakai ‘kacamata’ dan menjadi mengerti. Pada kondisi A kita memakai ‘kacamata’ A, pada kondisi B yang sebenarnya kita anti kita menjadi mengerti karena kita memakai ‘kacamata’ B. Apakah itu bukan sedang menipu diri sendiri dan orang lain?
Kembali kepada kacamata. Apakah kita memiliki banyak kacamata dengan segala macam ukuran/ kebutuhan di satu waktu? Tidak bukan? Kita melakukan koreksi pada kacamata ketika kita merasa kacamata yang sekarang sudah tidak nyaman di mata. Ada yang bertahun-tahun masih memakai kacamata yang sama bukan? Begitu pula dengan ‘kacamata’, dia perlu berubah sesuai lakuning jaman.
Dengan adanya ‘kacamata’ tidak serta merta menjadikan kita manusia yang mampu memahami segala hal di dunia. Dan juga tidak menjadikan kita penipu. Karena hanya ‘kacamata’ yang pas dan nyaman lah yang kita pakai. Selanjutnya, kita juga akan mengerti bahwa tiap orang memiliki ‘kacamata’ masing-masing. Dan ini akan berkontribusi pada dua contoh di awal paragraf.
*kalau dipikir kok jadi geser yah fokusnya..? bukan tentang ‘kacamata’ tapi mencoba mengerti perbedaan.. hehehe.. mahap..*
Wednesday, December 28, 2011
LUPA DIRI SENDIRI
..banyak orang berpikir untuk mengubah dunia, tapi justru suka lupa untuk mengubah dirinya sendiri….
Tentang kacamata dan 'kacamata'
Ketika aku SMA, entah bagaimana aku merasa ingin memakai kacamata, kayaknya keren dan pintar ajah. Maka, aku mendesak orang tuaku untuk membelikan aku kacamata dengan keluhan betapa suka pusingnya aku ketika membaca. Maka dibawalah aku ke dokter mata di sebuah rumah sakit. Selama menunggu giliran diperiksa, aku cemas dan gelisah luar biasa, ada ketakutan bahwa ternyata mataku baik-baik saja dan bahwa pusingku hanyalah pusing biasa. Dan ketika aku menghadapi papan huruf, aku semakin terpuruk karena aku hampir bisa membaca yang ditunjuk pak dokter dengan nyaris sempurna. Ada terselip niatan untuk salah membaca dengan sengaja, tapi aku tak berani…karena itu kan bohong ^^
Selesai adegan baca-baca huruf itu, aku kembali ke ruang dokter dan beliau menjatuhkan vonis aku bermata silindris dan rabun jauh sebesar 0.5. Dan aku disarankan memakai kacamata. Yeaaayyyy!
Dengan sangat bersemangat aku memakai kacamata dan menjadi lebih percaya diri karena berasa nampak pintar. Akan tetapi, ternyata memakai kacamata tak seenak itu. Aku hanya betah beberapa waktu, habis itu dengan alasan “ga pake ga ganggu pemandangan”, kugantung kacamata itu.
Mulai masuk kuliah, aku terpikir untuk pakai kacamata lagi. Pergilah aku ke optik di mall Depok ditemani Okta dan memilih frame yang menurutku bagus. Namun, nasib kacamata ini tak jauh berbeda, hanya beberapa saat dipakai untuk akhirnya disimpan.
Mulai bekerja, demi penampilan baru aku keluarkan lagi simpanan kacamata itu. Dan ini lebih memiriskan, paling hanya seminggu kugunakan. Setelah itu aku tampil sebagai manusia bermata sehat. Entah dapat pencerahan darimana bahwa tidak berkacamata itu membanggakan karena artinya matanya sehat ^^
Hingga tibalah saatnya tes kesehatan, baik untuk keperluan wawancara kerja ataupun tes rutin. Setiap kali mengisi formulir tes itu, aku selalu mencantumkan ‘-‘ (strip) pada kolom mata sebagai tanda aku bermata sehat. Tapi, tiap kali diperiksa, sang pemeriksa slalu berkata “sudah saatnya memakai kacamata”. Tapi aku tak pernah menanggapinya dengan serius, berdasarkan motto “dunia masih tampak indah kok di mataku”.
Kemudian, aku mendapatkan frame kacamata sebagai salah satu kado ulang tahun bulan kemarin (dan kunobatkan sebagai hadiah paling mengesankan karena si pemberi mengerti apa yang kubutuhkan). Dengan semangat tidak membuatnya mubadzir, maka aku ke optik untuk membeli lensa. Sebagai prosedur, aku diperiksa dulu matanya setelah didahului dengan “dulu sih pake kacamata, tapi sekarang sudah kembali normal kok”. Selesai pemeriksaan pertama, si pemeriksa berkata “silinder yah?”, dan aku tersipu “kok tauuuu?”, dan dia “kan barusan diperiksa”. Pemeriksaan selanjutnya yaitu membaca huruf-huruf itu dan aku sangat sadar aku banyak gagal. Dan begitulah, minus satu saja mataku -___-
Empat hari sejak pemeriksaan, aku mulai mengenakan kacamata baru ituuuu. Reaksi pertama selalu template “ya ampuuunnn..ternyata dunia setegas ini warnanyaaaa?!!”. Yep! Jadi ternyata yang selama ini aku lihat itu adalah dunia dalam versi agak kabur dan samar-samar. Warna hitam kelam, di mataku jadi hitam biasa, hitam biasa menjadi abu-abu kelam. Dan dengan kacamata baru ini, warna-warna menjadi lebih tegas ^^
Semalam, aku mengantri tiket di stasium Gambir. Di atas loket terdapat layar TV lumayan besar yang menayangkan update kondisi tiket. Tayangan berupa tabel berisi nama kereta, jurusan, dan tanggal pemberangkatan. Setiap 5 detik, layar akan di-refresh untuk memberikan update terbaru. Nah, sudahlah posisinya di atas, warna hurufnya biru muda, kolomnya banyak ajah. Jadi, aku setengah mati meraba-raba angka yang dicantumkan. Aku sudah hampir mendekati titik emosi jiwa dan menulis saran yang intinya “perbaiki tabel update kondisi tiket dunk”. Dalam emosiku, apa gunanya pake TV gitu tp tulisannya ga bisa dibacaaaa..ga gunaaa tauuuu… Hingga tiba-tiba aku melihat mas-mas ganteng memakai kacamata dan aku jadi pengen pamer kacamata juga. Kubuka tasku dan kuambil kacamataku, kupakai. Hwuaaa…mas-mas itu makin ganteeeeng! Trus aku ingat untuk mengecek update kondisi tiket, dan kyaaaaaaaa….kok kebacaaaaaaa!
Untuuuuung aku blum marah-marah dan mengirim surat pembaca ke koran nasional. Ternyata kesalahan ada di mata saia *malu*. Dan aku jadi berusaha mengingat-ingat lagi apakah ada kejadian serupa selama ini. Mengingat aku memiliki hobi menulis saran ke setiap kejanggalan yang kurasakan dengan semangat agar ada perbaikan. Dan ternyata yang perlu diperbaiki dan diubah adalah mataku. Dududududu…
Hmm... Ga nyangka aku dapat pelajaran berharga secara harfiah gini… Lebih dalam lagi, ketika kita melihat sesuatu yang janggal yang aneh yang tidak masuk akal, baiknya coba pikir dan renungkan, jangan-jangan cara pandang kita yang perlu dikoreksi. Atau jangan-jangan kita salah pakai 'kacamata' ^^
Terimakasih banget buat Fadil dan Aki untuk frame-nya, dan kamu yang menemani membeli lensanya. Aku kini melihat dunia dengan lebih jelas. Dan aku juga diingatkan untuk 'melihat dunia dengan lebih jelas'.
Sunday, December 18, 2011
Untuk Ibu
“Setiap manusia berjalan dalam setapaknya masing-masing. Mereka berjalan sendirian. Mereka bersama-sama berjalan kepada satu tujuan, yaitu … Tuhan” – Tanda Tanya (2011)
Ibu memutuskan untuk kembali ke jalan yang dulu Ibu pernah tinggalkan
………………………………………
Tata keberatan?
……………………………………..
Kalau Tata keberatan, Ibu akan menunggu sampai Tata rela
……………………………………..
Ibu telah memilih dan memutuskan, itu yang terpenting saat ini
…………………………………….
Tuhan tahu, maka Ibu pun ingin Tata tahu
Ibu, masalah jalan adalah hal keyakinan dan kedamaian.
Jika jalan itu yang Ibu yakini akan membawa kedamaian, itu lebih dari cukup buat Tata.
Tuhan tahu, Tata tahu, maka biarkan dunia juga tahu.
Selamat hari Natal, Ibu…
Aku dan Ibu [boleh saja] mengarungi sungai masing-masing, namun sebenarnya kami [senantiasa] bersama-sama, menuju muara, yaitu….Tuhan
Gambar oleh Ferry Andoni Agustan
*sedang buat draft kartu natal untuk mak-ku*