Monday, September 9, 2013

Sepatu Baru


Tak ada yang salah dengan sepatu yang kupakai untuk berjalan selama ini [sejauh ini]. Namun sepatu itu slalu menuju ke arah itu [arahmu].  Langkahku menuruti si sepatu [tanpa ada keinginan mempertanyakan pun menolak]

Sudah cukup aku mengikutimu. Langkah kakiku tak akan pernah menyamaimu. Dan aku akan selalu berada di belakangmu.

Sebab di sampingmu adalah kemustahilan, maka aku menuju kemungkinan

 

Dengan sepatu baru aku meninggalkanmu

Monday, January 21, 2013

Wednesday, January 2, 2013

Saling Menyakiti yang Tak Perlu

Nama saya TaTa, telah keluar dari rumah semenjak lulus SMU untuk kuliah dan kemudian bekerja.  Dari sekian lama itu rupanya saya sudah terlalu tergesek dengan gempita ibukota, otak saya sudah terlalu Jakarta.
Liburan Natal kemarin saya pulang ke rumah di sebuah desa di Jawa Tengah sana. Kota terdekat adalah Salatiga. Pada suatu hari, teman SMU saya yang sekarang berdomisili di Bali mengajak berjumpa dan saya iyakan. Ketika berpamitan kepada ibu dan mengatakan dimana saya akan berjumpa dengan teman, beliau berkata “oh.. di situ mahhaaall! Dan ga enak pula”. Dan saya hanya manggut-manggut.
Sesampainya di sana, saya menemukan tempat yang sangat sangat sangat manis. Rumah tua yang dijadikan kafe. Furniture nya vintage nan bersahaja. Saya jatuh cinta dengan suasananya dan memaklumi jika harga makanannya mahal seperti kata ibu saya.  Namun, ketika membaca menunya, saya langsung berkata “oh my.. Ibu lebay!”. Seporsi gado-gado, harganya 10ribu (mengingat di Jakarta seporsi gado-gado ada yang harganya 35ribu), secangkir kopi di bawah sepuluh ribu.  Dudududu… Di sebelah mana mahalnyaaaaa
Kemudian saat teman saya datang dan saya ceritakan ibu saya memberi warning bahwa tempat ini mahal dan ga enak, ternyata dia mengalami hal yang sama. “Buat Ibu-ibu, semua tempat itu mahal dan ga enak! Hanya masakannya sendiri yang enak! Mereka ga tau aja harga segini di Jakarta murah meriah!
Sedikit diskusi selanjutnya menyimpulkan bahwa gaya hidup kami ini sudahlah sangat Jakarta dan itu niscaya menyakiti perasaan ibu kita. “Kalau mereka tau segelas kopi di starbak itu 36ribu, bisa stroke tuh kayaknya”.
Kebalikannya, saya pun tersakiti dengan gaya hidup keluarga saya. Mereka membuang sampah di selokan depan rumah (yang mana sebenarnya itu sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan semua baik-baik saja), mereka membiarkan charger handphone tercolok sepanjang masa (ketika selesai menge-charge yang dicabut hanyalah si handphone), mereka tidak pernah mematikan lampu teras. Apalagi ketika ibu saya ke pasar, saya ingin pingsan rasanya. Untuk membeli beberapa buah tahu, ada 2 kantong plastik yang terpakai, 1 untuk tempat tahu kemudian 1 lagi untuk tempat tahu yang sudah dibungkus plastik tadi. Kemudian pindah untuk beli gula, dapat plastik lagi. Demikian seterusnya. Jangankan untuk membawa kantong dari rumah, untuk menolak pemberian kantong plastik dari pedagang, ibu saya tak terpikiran.
Saya, yang sok cinta bumi ini sangat stress melihat gaya hidup keluarga saya itu. Namun demikian tak berani untuk menularkan semangat go green ala-ala ke keluarga saya, karena memang rasanya tak perlu.  Seperti halnya mereka tak perlu tau gaya hidup saya yang mungkin akan menyakiti mereka.
Lebih baik mencegah (sakit hati) daripada mengobati bukan?

Friday, December 7, 2012

Menjadi Baik

"Kamu tidak bisa berharap orang lain menjadi baik, kamu harus membuat orang lain itu menjadi baik" _ Jelapah

artinya kita tidak bisa berdiam diri dan berharap dan kemudian kecewa lalu sakit hati
kita harus berbuat sesuatu tentang apa yang kita mau

misalnya kita punya teman yang tiap janjian slalu datangnya telat dan itu menggangu kita. maka berharap dia tidak akan terlambat lagi itu tak bisa. kita harus berbuat sesuatu untuk membuat dia tidak terlambat, misalnya dengan mengingatkannya atau membangunkannya atau menjemputnya jika perlu.

contoh lain jika ada teman yang hobinya meminjam baju dan tidak dikembalikan. maka, kita tidak bisa hanya berharap semoga dia ingat atau kelak tidak seperti itu lagi. kita harus membuat dia selalu mengembalikan apa yang dia pinjam.

ya seperti itulah..
dan jika perbuatan kita tidak diterima dengan baik, bernyanyilah..

....whatever i did whatever i said i didn't mean it, i just want u back for good...

:)

Wednesday, November 21, 2012

UTANG PIUTANG

..kadang-kadang tak ada logika....

kl si pemberi utang kesel liat bahwa si penerima utang sulit mengembalikan utangnya namun slalu berhura-hura, rasanya itu masuk akal
bagaimana dengan si penerima utang kesel ke si pemberi utang karena dia bisa berhura-hura? "Lo slalu nagih utang lo ke gue, tapi kok lo bisa nonton konser ini, liburan ke situ...."

...di luar akal...

jika A = B, maka B = A
jika janji adalah hutang, maka hutang adalah janji
kl janji membayar hutang, itu apa?
janji membayar janji? *jadi cukup dengan janji-janji









suatu hari bapakku pernah berkata, kl bisa janganlah terlibat hutang-piutang. karena ketika tiba saatnya untuk menagih... (entah gimana) kamu seperti tidak dihargai..ora kajen..

dududududu...

Thursday, November 15, 2012

Bahagia: a birthday wish

dari sekian banyak ucapan ulang tahun yang sudah kuterima selama aku hidup ini, ada satu yang (akhirnya) membuatku mataku langsung memanas dan dadaku menghangat

...aku mau kamu bahagia selalu. mau sukses atau enggak, mau cepet dapat jodoh atau enggak, yang penting kamu bahagia...

doa dari sahabat memang tak pernah gagal..

i luv You, E..





banyak ucapan disertai doa yang kadang justru membuat gusar. Misalnya "semoga tambah pintar", meski mulut berkata 'amin', dalam hati bisa saja mengucap "maksudnya sekarang aku tidak cukup pintar?" :)

Tuesday, September 11, 2012

Suara Kecil dari Bali

Nama: TaTa; Sifat: Manja

Sepertinya itulah sifat yang sedang akan kutonjolkan kali ini: manja ^^

Beberapa bulan lalu, aku bersama dua orang kawan berwisata ke Pangandaran dengan tujuan utama adalah Green Canyon. Walau aku tak begitu suka air, tapi karena ada kawan maka kemana saja ayuk sajalah. Kami naik bis dari terminal Kampung Rambutan menuju terminal Pangandaran. Dan karena kami adalah generasi manja (lebih tepatnya aku), maka untuk menuju Green Canyon kami mencarter angkot (orang lain akan naik angkot kemudian lanjut ojek). Jalanan dari terminal Pangandaran menuju Green Canyon itu kondisinya cukup parah: tidak rata permukaannya tapi lubang merata dan nyaris menjadi kubangan air. Tentu saja jalannya angkot menjadi ajrut2an, sesekali kepala kami kepentok atap angkot. Kemudian si Bapak supir berkata “ya beginilah Mbak kondisi jalannya. Padahal daerah wisata.. duitnya dikemanain coba?”. Dhuar!

Nah, minggu kemarin aku melewatkan akhir pekan di Bali. Sebagai Miss Duduk-duduk yang gampang masuk angin, maka agenda utama di Bali adalah duduk-duduk bukan di pantai. Dan sebagai generasi manja, maka kemana-mana naik taksi. Ketika di Uluwatu, orang di sebelahku ternyata adalah rombongan dari Brazil. Ketika kutanya berapa lama tinggal di Bali, dia menjawab: 30 hari. “Karena ke sininya aja 3 hari, jadi di sini harus lama”. Masuk akal..masuk akal…
Dalam perjalanan pulang menuju hotel (yang lokasinya dekat bandara), aku mencoba mereka-reka budget liburan orang2 Brazil tadi. Dan aku mulai pening mikirin biaya hotelnya. Kemudian aku bertanya ke bapak taksi, ngobrol lebih tepatnya, karena jarak tempuh yang lumayan panjang.

TaTa: Pak, di sini ada kos2an kan yah? paling nggak di deket2 kampus Udayana tadi..
Taksi: oh banyak, mbak.. Ada yang 800rb, ada sejuta per bulan
TaTa: Nah…kl saya jd bule2 yg luama di Bali, saya mau ngekos ajah ah
Taksi: lho memang banyak bule yang begitu, mbak.. mereka ngekos atau kontrak rumah. Ada yang ngontrak rumah selama setahun, nanti kalau ada teman mereka yang berlibur ke sini mereka sewakan rumah itu. Jadi bisnis juga untuk mereka
TaTa: hah?? Kok mereka gituuuu.. Astaga..ngirit jaya yah.. Di sini ngekos, trus kemana-mana naik motor sewaan.. ck ck ck ck..
Taksi: bahkan ada bule2 yang kerja juga. Mereka liburan di sini lama, kemudian promosi ke negaranya sana bahwa kalau ke Bali akan ditemani. Ya tentu saja mereka lebih laku daripada kita
TaTa: hah?? Oh my God.. itu kreatif atau apa yah namanya
Taksi: ya pemerintah kita juga lemah..tidak melindungi..membiarkan saja. Jadi, kita ini saingan juga sama turis, bukan hanya melayani turis
TaTa: lagian orang Bali itu baik-baik sih ya, Pak.. paling nggak itu yang saya rasakan. Ga kayak di Jogja yang udah creepy suasananya..dimana-mana ada tulisan “awas copet”. Nah, di sini rasanya damai. Karena orang2nya relijius kali yah, Pak.. Hari ini aja semua tutup.. (hari itu bertepatan dengan hari raya Kuningan)
Taksi: soal aman sih lumayan bagus. Perampokan juga agak jarang. Soalnya kalau sampai Bali ga aman, bisa bangkrut Bali karena turis tidak mau datang. Pabrik nggak ada, pertanian juga sedikit saja
TaTa: waaa… tapi kl bule-nya terlalu kreatif dari pengiritan jaya sampai bisnis gitu.. jahat juga yah sebenarnya..
Taksi: ya mau gimana lagi, mbak.. pemerintah membiarkan..
TaTa: tapi sebenarnya pemerintah ga segitu jahatnya yah.. jalanan di sini buagus..sampai ke pelosok tebing pas mau ke Karma Kandara tadi, mulus.. Cuma kurang di bagian perlindungan itu tadi yah.. pemerintahnya setengah-setengah

Nah.. sekarang aku jadi mengerti kenapa suka ada harga tiket yang berbeda antara turis domestik dan asing. Dulu aku bertanya-tanya untuk apa pembedaan itu, “kan kasian bulenya..kayak dipalakin”. Sekarang aku berkata: memang sudah seharusnya bule itu diperas, mereka kan sumber devisa negara. Hohoho…
Selain ‘pemerasan’ terhadap bule, rasanya aspirasi Pak Ketut Selamet, supir taksiku tadi, perlu diperhatikan dan diberikan jalan keluar. Ya masa penyedia jasa wisata lokal musti bersaing sama bule-bule 'kreatif' itu. Kalau aku nyalon gubernur Bali maka aku akan mengeluarkan kebijakan pelarangan2 untuk bule: bule ga boleh ngekos, bule ga boleh berkeliaran naik motor sendiri, bule ga boleh nyari duit di bali.


Sesampai aku di bandara Soekarno Hatta, aku menuju ke pool Damri untuk menuju blok m (dulu aku slalu naik taksi, tp sekarang sudah tak begitu manja lagi, #pengetatanbudget). Dan, di bangku tunggu..ada 2 pasang bule aja dunk..sedang nunggu bis damri juga. Tambah lagi deh peraturan kalau aku nyalon presiden: BULE GA BOLEH NGIRIT! Dan tentu saja: PEMBANGUNAN HARUS MERATA, SARANA-PRASARANA harus bagus dimana-mana, KORUPSI DIBERANTAS HABIS2AN (biar jalan kayak di Pangandaran sebagus pemasukan dari bidang wisatanya) *melebar kemana-mana*